Posts

Showing posts from 2006

"DATA TRAP" DALAM RATING PROGRAM TELEVISI

Image
Ada hal yang menarik, yang terungkap dalam Raker News Magazine Trans TV, di Hotel Novus, Puncak, Jawa Barat, 22-23 Desember 2006. Pak Sulaeman Sakib, Kepala Departemen Magazine & Documentary di Divisi News Trans TV, mengungkapkan apa yang disebutnya sebagai “data trap.” Yakni, kesalahan dalam membaca data rating/share, yang berimplikasi pada kesalahan membaca apa yang sebenarnya dibutuhkan atau diinginkan penonton TV.

Secara sederhana, perumpamaannya begini: Ada seorang pedagang yang menjual singkong goreng, tempe goreng dan tahu goreng. Dari data, terbukti yang paling banyak dibeli orang adalah singkong goreng. Hal ini ditafsirkan oleh para pedagang lain bahwa masyarakat membutuhkan atau menginginkan singkong goreng. Maka beramai-ramailah mereka ikut menjual singkong goreng.

Padahal, sebenarnya masyarakat (terpaksa) membeli singkong goreng, karena tidak ada alternatif lain yang tersedia di pasar. Mereka sebenarnya ingin makanan yang rasanya agak manis. Seandainya ada yang menjual …

TENTANG TIDAK PERLUNYA MEMBERI TANGGAPAN DI MILIS

Image
Oleh : Satrio Arismunandar

Seorang anggota milis Mediacare bertanya, mengapa ada komentar seorang miliser yang tak pernah saya tanggapi di milis? Saya menjawabnya dengan butir-butir seperti di bawah:

1. TIDAK semua posting harus atau perlu ditanggapi.

2. Bahkan tidak semua posting harus dan perlu dibaca.

3. Keanggotaan kita di suatu milis adalah mencari MANFAAT yang bisa diraih.

4. Faktanya, dari semua postingan yang muncul, TIDAK semua relevan dengan urusan kita, bahkan banyak yang TIDAK bermanfaat sama sekali bagi kita.

5. Berdasarkan pengamatan selama ini di milis Mediacare, saya bisa menyimpulkan: 95% postingan dari si X, Y, dan Z biasanya tidak relevan dengan kepentingan/urusan saya. Isinya baik, santun, sopan, dan mungkin bermanfaat bagi orang lain, tapi tidak relevan dengan kepentingan/urusan saya sekarang.

6. Sedangkan 95% (untuk tidak mengatakan 100%) postingan dari si A, B dan C biasanya bernilai sampah, tidak ada manfaatnya sama sekali bagi saya (saya juga ragu, apakah benar-benar…

Essay - ISTRI SAYA MENGIZINKAN SAYA KAWIN LAGI

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Ketika orang ribut soal AA Gym kawin lagi, istri saya juga meributkannya. Ditambah lagi kasus anggota DPR-RI Yahya Zaini dan penyanyi dangdut Maria Eva. Maka lengkaplah perbincangan soal selingkuh dan poligami di rumah kami. Istri saya bicara dengan bersemangat dan berapi-api. Saya lebih banyak diam, senyum sedikit, dan manggut-manggut saja.

Tapi untunglah, dia cukup "rasional" dan mengizinkan saya berpoligami. Syaratnya, seperti yang dilakukan Rasulullah SAW dulu, saya harus memilih janda yang sudah tua, keriputan, jelek, sakit-sakitan, miskin, dan punya anak banyak.... "Mau satu truk janda-janda seperti itu, silahkan saja jika mau mengawininya....." katanya.

Wah, padahal (istri saya juga tahu), idola saya 'kan Luna Maya.... Terpaksa batal deh berpoligami! Apalagi gaji saya juga belum naik-naik. Untuk ngurusi satu istri dan 2 anak saja sudah pusing tujuh keliling. Belum lagi bayar tagihan air, listrik, bayar iuran sekolah anak, dan makan…

IMBAUAN UNTUK PAK JAKOB OETAMA TENTANG NILAI-NILAI KOMPAS

Image
Saya mendapat e-mail dari Sri Yanuarti (Yanu), peneliti LIPI, pengurus pusat AIPI (Asosiasi Ilmu Politik Indonesia), dan istri dari wartawan Kompas Bambang Wisodo, via milis AIPI. Isinya berkenaan dengan kasus pemecatan Bambang Wisudo oleh manajemen Kompas, Desember 2006, terkait soal serikat pekerja di Kompas.

Yanu adalah rekan saya di AIPI, sedangkan Wisudo adalah juga rekan sesama pendiri AJI (Aliansi Jurnalis Independen), dan dulu juga saya pernah sama-sama kerja di Kompas. Saya sangat terkesan, bahwa menghadapi saat-saat sulit dan penuh tekanan, Yanu, Wisudo dan keluarga tetap tenang dan tabah. Artinya, perjuangan serikat pekerja ini bukan semata-mata urusan Wisudo, tetapi sejak awal sudah disadari dan didukung penuh oleh istri/keluarga. Tentu dengan berbagai risikonya.

Dalam kondisi ekonomi dan politik sekarang, di mana nuansa pragmatisme dan oportunisme, kepentingan mau enak sendiri, masih sangat kuat, saya merasa salut bahwa masih ada orang-orang yang berjuang untuk idealismeny…

PROFIL BUDAYA ORGANISASI DI PERUSAHAAN MEDIA

Image
(Foto: Taping Fenomena di Denpasar, Bali, Desember 2006)

Oleh: Satrio Arismunandar

Perusahaan media massa dalam menjalankan operasinya juga tidak berbeda jauh dengan perusahaan lain non-media, yang menjual produk atau jasa. Oleh karena itu, budaya organisasi di perusahaan media juga bisa dibandingkan dengan budaya organisasi di perusahaan-perusahaan lain tersebut. Dari literatur manajemen, kita kenal beberapa macam budaya organisasi seperti di bawah ini:

Budaya Klan (Clan Culture)

Tempat yang sangat ramah untuk bekerja di mana orang saling berbagi tentang banyak hal. Ini seperti sebuah keluarga besar. Para pemimpin atau kepala organisasi dianggap sebagai mentor dan mungkin bahkan figur bapak. Organisasi ini disatukan oleh loyalitas atau tradisi. Komitmennya tinggi.

Organisasi ini menekankan pada keuntungan jangka panjang dari pengembangan sumberdaya manusia (SDM) dan memposisikan arti penting pada kohesi (kesatuan/kekompakan) dan moral. Sukses dirumuskan dalam kepekaan terhadap customer da…

NEW FENOMENA YANG TANPA "ESEK-ESEK"

Image
(Catatan dari Raker News Magazine – 22-23 Desember 2006)

Pengantar

Fenomena adalah program Majalah berita yang menyuguhkan informasi seputar sisi kehidupan kota Metropolitan yang sesungguhnya. Informasi dalam FENOMENA ditujukan untuk memenuhi kebutuhan intelektual dan emosional pria, namun dapat dinikmati kaum wanita.

Fenomena pertama kali tayang tanggal 4 April 2003 pukul 23.00 WIB di Trans TV. Satu episode berisi satu tema yang menyajikan visualisasi dan informasi dari berbagai nara sumber, sehingga diharapkan dalam satu episode, pemirsa memperoleh informasi secara utuh dan menyeluruh.

Saat ini (Desember 2006), Fenomena ditayangkan ulang (re-run) di Trans-7 (dulu TV7) pukul 23.30 – 24.00 WIB. Oleh pimpinan TransTV, kami diberi tugas untuk merancang ulang program Fenomena dengan format baru, yang akan ditayangkan di Trans-7 mulai 1 Januari 2007.

Konsep Fenomena Lama dan Baru :

Wilayah Tema (lama) :
1. Kehidupan remang-remang kota besar
2. Trend Lifestyle yang sedang dibicarakan warga kota, …

Essay - CINTA DAN "ROMANTISME" DALAM PELIPUTAN JURNALISTIK

Image
Oleh Satrio Arismunandar

Mereka yang baru menjalani profesi jurnalis, entah jurnalis media cetak ataupun elektronik, pasti diajari untuk “menjaga jarak” yang pas dari narasumber. Seorang jurnalis harus cukup dekat dengan narasumber, agar narasumber itu mau bersikap terbuka, mau bicara dan memberi informasi padanya.

Tapi juga jangan terlalu dekat, agar tidak terjadi konflik kepentingan. Bukan tak mungkin, narasumber justru akan memanfaatkan kedekatan itu dan memperalat sang jurnalis, untuk agenda kepentingan si narasumber itu sendiri.

Di atas kertas, kedengarannya konsep “menjaga jarak” ini mudah saja dilakukan. Tapi benarkah demikian? Hmm, situasinya sebenarnya tidaklah selalu demikian. Mengapa? Jawabannya sederhana saja: karena jurnalis juga manusia! Punya rasa, punya hati. Dan, jangan lupa, juga punya kepentingan sendiri!

Nah, yang akan saya tuturkan di bawah ini adalah hasil renungan, ketika menjadi jurnalis merangkap producer di Divisi News Trans TV. Tetapi sebenarnya, ini adalah aku…

Surat - RAKYAT INDONESIA YANG LUAR BIASA

Image
Untuk kesekian kalinya, rakyat Indonesia (baca: rakyat kecil) menunjukkan kesabaran dan komitmen yang luar biasa, serta pengorbanan yang tak terkira, untuk apa yang disebut para pejabat kita sebagai “kepentingan nasional.” Yaitu kunjungan Presiden AS George W. Bush ke Bogor, pada 20 November 2006.

Koran “Warta Kota” (Selasa, 21/11) memberitakan, kalau dihitung secara uang, kerugian yang diderita pedagang kecil, pengelola angkot (ada 3.100 armada), bus kota, factory outlet, dan berbagai akitivitas lain yang terpaksa harus dihentikan akibat kunjungan Presiden George W. Bush ke Bogor, mencapai Rp 100 milyar. Menurut pengamatan Warta Kota, sekitar 90% aktivitas ekonomi itu berhenti sejak Minggu malam.

TV kita pagi tadi memberitakan, ada empat ibu hamil yang dengan susah payah ke rumah sakit, karena tiada angkutan hari itu (jalur ditutup). Mereka harus jalan kaki. Ironisnya, ada satu ibu hamil yang setengah mati untuk sampai ke RS, padahal jarak ke RS cuma 100 meter. Apa pasal? Ternyata kare…

Puisi - GADIS SEKELEBAT

Image
Aku selalu melihatnya sekelebat di newsroom
di aula makan karyawan di basement Bank Mega
di lobby tempat menunggu mobil liputan
di elevator kantor Trans TV
di papan reklame sebelah masjid Pasar Minggu
di hari-hari sibukku
di hari-hari sepiku
Dia gadis yang selalu berkelebat dalam ingatanku

Trans TV, Oktober 2006
Satrio Arismunandar

KONVERGENSI MEDIA

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Convergence: Konvergensi; pengertian harfiahnya adalah dua benda atau lebih bertemu/bersatu di suatu titik; pemusatan pandangan mata ke suatu tempat yang amat dekat.

Secara umum, konvergensi adalah penyatuan berbagai layanan dan teknologi komunikasi serta informasi (ICTS – Information and Communication Technology and Services).

Dalam arti paling umum, konvergensi berarti runtuhnya penghalang lama yang sebelumnya memisahkan ICTS menurut sejumlah dimensi: antara industri dan industri, antara aplikasi dan aplikasi, antara produser dan konsumen, antara negara dan negara.
Masing-masing mempengaruhi kepemilikan minoritas, penggunaan dan akses teknologi informasi (IT) dengan berbagai cara.

Industri-Industri: Konvergensi teknologi-teknologi baru melenyapkan perbedaan fundamental antara berbagai industri: Antara industri telepon dan industri komputer, antara pencipta content (isi pesan) dan pentransmisinya, dll. Industri-industri yang dulunya berbeda dan terpisah, kini ber…

DIVERSITAS DAN PEMBERITAAN MEDIA

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Diversity : Diversitas, keanekaragaman, perbedaan

Diversitas, baik di Amerika maupun di negara-negara lain, merujuk ke perhatian, nilai-nilai, minat, kepentingan dan perspektif dari kelompok-kelompok yang lebih kecil (sub-groups) dalam masyarakat yang lebih besar, serta hakikat hubungan mereka dengan masyarakat yang lebih besar.

Hubungan itu dapat menyangkut sejumlah perbedaan, antara lain:

Diversitas Lokal: Ini merujuk ke ikatan yang dirasakan orang terhadap desa, kota, atau daerahnya, dan kepada berita dan informasi yang melaporkan tentang dan mencerminkan kepentingan dan nilai-nilai lokal. Kepentingan dan nilai-nilai lokal ini sering dicerminkan dalam dan paling baik diekspresikan lewat suratkabar, stasiun radio dan televisi yang dikelola dan dimiliki lokal.

Diversitas Etnis/Rasial (Kultural): Ada tradisi lama di Amerika di mana para imigran baru mempublikasikan dalam bahasa lokalnya, seperti Jerman, Polandia, Yahudi atau Spanyol.

Diversitas Religius: Ada tradis…

BANK UNTUK ORANG MISKIN

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Krisis ekonomi dan berbagai kesalahan penanganannya telah menambah jumlah rakyat miskin di Indonesia. Untuk mengurangi jumlah rakyat miskin ini, Indonesia tak perlu mengikuti ”titah” Dana Moneter Internasional (IMF), yang anjurannya lebih banyak tidak nyambung dengan kondisi nyata rakyat kita. Sebaliknya, Indonesia mungkin justru harus belajar pada negara yang lebih miskin dari kita: Banglades!

Kok Banglades? Begini ceritanya. Seperti juga di Banglades, puluhan juta rakyat miskin kita tinggal di pedesaan, dan sebagiannya lagi terlibat dalam berbagai sektor usaha mikro. Untuk mengangkat taraf kehidupan mereka, perlu dukungan modal. Namun bank-bank yang ada enggan memberi kredit tanpa jaminan (collateral), misalnya: tanah. Padahal, persoalan rakyat miskin justru tiadanya kemampuan menyediakan jaminan tersebut.

Maka yang terjadi adalah lingkaran setan kemiskinan: pendapatan rendah—tabungan rendah—investasi rendah—pendapatan rendah (lagi)—d…

RISET MUSIK UNTUK STASIUN RADIO DAN MEDIA SIARAN

Image
Foto: Crew JELAJAH dan SISI LAIN Trans TV sehabis taping di Bali, 2005

Riset musik penting bagi penjadwalan program stasiun radio. Tujuannya adalah agar audience mendapat suguhan musik yang mereka sukai, dan menyisihkan lagu-lagu lama yang sudah membosankan.

Untuk riset ini, kepada audience atau sample audience diperdengarkan segmen singkat dari lagu bersangkutan atau hook (sekitar 5-15 detik, sekadar cukup bagi audience untuk mengenali lagu yang diperdengarkan). Dari riset ini, stasiun radio mengetahui, lagu mana yang disukai dan tidak disukai pendengar. Tapi tidak bisa menentukan, seberapa sering suatu lagu harus diputar. Riset ini juga tak berlaku untuk lagu-lagu yang baru dirilis.

Metode Riset Musik ada dua:

Testing Auditorium: Sekitar 75-100 audience ditempatkan dalam ruang tertentu dan diperdengarkan segmen lagu-lagu dimaksud. Persyaratan bagi audience yang ikut tes ini ditentukan oleh stasiun radio (misalnya, usia 25-40 tahun, dan mereka diberi honor untuk partisipasinya.) Dalam wa…

RISET RATING DAN RISET NON-RATING DI MEDIA ELEKTRONIK

Image
Foto: Crew SISI LAIN Trans TV (lama) dalam acara taping di Kuta, Bali.

Studi riset media elektronik terbagi dalam dua kategori utama: riset rating dan riset nonrating.

Riset Rating:

Ketika radio mulai populer pada 1920-an, dan para pengiklan mulai melihat potensinya untuk menarik pelanggan, mereka menghadapi problem untuk mengukur jumlah audience. Berbeda dengan media cetak, yang memiliki angka sirkulasi yang jelas, media elektronik tak punya data penonton yang memadai, kecuali angka perkiraan. Surat sukarela dari pendengar radio adalah sumber data pertama, namun sukarelawan jelas tidak mewakili audience umum.

Dari sinilah, mulai dikenal studi rating dengan pengambilan sample dari audience. Studi rating ini untuk waktu-waktu mendatang masih akan terus digunakan, namun ada beberapa hal mendasar yang perlu diketahui tentang sistem rating:
Rating hanyalah pendekatan atau perkiraan dari ukuran jumlah audience. Rating ini tidak mengukur kualitas program atau pendapat tentang program.
Rating tida…

RISET DAN PERANANNYA DI INDUSTRI MEDIA CETAK

Image
Foto: Crew program SISI LAIN lama dalam taping di Kuta, Bali.


Riset ilmiah punya peran dalam perkembangan industri media dan manajemen industri media. Khususnya, di media cetak (suratkabar). Jenis riset itu, antara lain:

Riset Pembaca (Readership Research):

Studi pembaca dilakukan di AS menjelang dan menyusul terjadinya Perang Dunia II. Perintisnya adalah George Gallup, dengan metode wawancara personal, di mana pembaca disodori suratkabar dan diminta menunjukkan artikel-artikel yang mereka baca.
Riset pembaca menjadi penting bagi manajemen selama 1960-an dan 1970-an, ketika tingkat sirkulasi suratkabar di daerah metropolitan mulai mendatar dan bahkan menurun.
Saat ini, riset pembaca suratkabar terutama dibagi dalam lima jenis: Profil pembaca, studi seleksi-item, studi pembaca-nonpembaca, studi uses and gratifications, dan perbandingan redaktur -pembaca.

1. Profil Pembaca:

Studi ini memberikan rangkuman demografis pembaca untuk suatu penerbitan (seperti: usia, jenis kelamin, pendidikan, penda…

KECENDERUNGAN PINDAH BAGI PEKERJA DI MEDIA TELEVISI SWASTA

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Latar belakang mereka yang baru masuk dan bekerja di industri media massa, khususnya media televisi, bermacam ragam. Ada yang berasal dari kalangan ekonomi lemah, atau dari keluarga yang betul-betul susah. Sebaliknya, juga ada yang berasal dari kalangan ekonomi atas, atau dari keluarga yang betul-betul kaya dan berkecukupan.

Di antara dua ujung ekstrem ini, banyak pekerja di media TV yang berasal dari keluarga tingkat ekonomi menengah. Kalau mau dibilang susah, ya hidup mereka sebenarnya tidak susah-susah banget. Tetapi, kalau mau mengaku kaya, ya tidak pas juga.

Menurut seorang praktisi Human Capital Trans TV, yang dituturkannya kepada saya, pada 3 Oktober 2006, persentase tertinggi kelompok karyawan yang “tidak stabil” alias cenderung mudah pindah kerja ke perusahaan lain umumnya berasal dari kalangan menengah ini. Mengapa demikian? Ada beberapa asumsi.

Mereka yang berasal dari kalangan bawah, cenderung bertahan karena kebutuhan ekonomi yang besar. Mereka cende…

Essay - STARBUCKS, AKU DAN TEMAN-TEMANKU

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Kawan, apa komentarmu jika kuberitahu, warna-warni kehidupanmu akan tercermin pada pilihan dan seleramu terhadap aroma kopi? Ah, omong kosong apa pula ini! Ya, kau mungkin akan berkata begitu. Aku mengerti. Tapi percayalah, pemahaman tentang relasi antara kehidupan dan selera terhadap aroma kopi itulah yang membuatku betah, nongkrong berjam-jam di gerai Starbucks Coffee.

Ini bukan cerita tentang betapa mengasyikkannya menghirup kopi panas di kafe, ketika langit senja sedang kemerah-merahan, sesudah bebas dari hiruk pikuk kesibukan kantor. Sekadar pelepasan dari kepengapan suasana kantor seperti itu, aku sudah lama tahu. Yang akan kuceritakan ini lebih dari itu.

Menit-menit yang kulalui di gerai Starbucks ini mengajarkan padaku banyak hal tentang kehidupan, tentang teman-temanku, dan terakhir --yang tak kalah penting—tentang diriku sendiri. Akan kumulai dengan cerita tentang teman-temanku. Ya, sebagai wartawan yang bekerja di sebuah stasiun televisi nasional, aku…

SEBUAH UCAPAN TERIMAKASIH

Image
Suatu malam, sehabis membuka account blogger-ku di komputer kantor News Trans TV, aku pulang setelah menutup windows. Tapi tidak menutup (sign-off) blogger-ku. Beberapa hari kemudian ketika membuka account ini aku menemukan tulisan di bagian posting, sebagai berikut:

"Mas Satrio yang terhormat,
mohon jangan lupa sign off bloggernya ya.. kalau sekedar di tutup windownya, orang selanjutnya yang membuka blogger akan langsung masuk ke halaman depan blogger mas Satrio. Mereka jadi punya kuasa untuk mengisi, mengubah atau bahkan mengganti password blogger mas Satrio, akibatnya Rajawali mungkin kehilangan pijakan untuk terbangnya.

Tulisan ini silahkan di delete saja. masuk lagi ke blogger halaman utama - pilih blogger yang ini - edit post - delete.

Saya baca blogger mas Satrio dan isinya luar biasa.
Entah kapan saya punya kemampuan menyimpan informasi dan memaparkannya seperti mas Satrio. Tapi saya terus akan berusaha..."

Itu saja. Tidak ada identitas apapun di tulisan ini. Aku ingin ber…

MENULIS RESENSI BUKU

Image
Oleh Satrio Arismunandar

Menulis resensi buku sebenarnya mirip dengan memilih calon istri atau calon suami. Mengapa demikian? Karena suatu resensi, apapun obyeknya (resensi film, buku, drama, teater, pembacaan puisi, musik, dan sebagainya), pada akhirnya memberikan suatu penilaian, dan kemudian tentunya suatu pertimbangan, saran, rekomendasi kepada pembaca untuk menentukan sendiri sikapnya terhadap obyek yang diresensi tersebut.

Sebelum memilih istri, misalnya, si laki-laki akan membuat penilaian atas berbagai aspek. Aspek luar, yang bisa langsung terlihat: kecantikan, bentuk tubuh, cara bicara, cara makan, dan cara berpakaian, dari calon istrinya. Aspek dalam, yang membutuhkan pengamatan lebih intens: kesabaran, kebaikan hati, sikap pengertian, kesetiaan, kecerdasan, dan sebagainya.

Dalam meresensi buku dan karya-karya lain, hal serupa juga dilakukan. Apakah pertunjukan musik Dewa itu cukup bermutu? Apakah aksi panggungnya menarik? Bagaimana tata suaranya? Apakah dengan kualitas pertunj…

SURAT TERBUKA UNTUK PRESIDEN SBY

Image
Surat Terbuka untuk Presiden SBY
dari Seorang Warga yang Dulu Bukan Pendukungnya,
Namun Kini Mengharapkan Kesuksesannya


Depok, 17 November 2004


Kepada Yth.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
di Istana Merdeka
Jakarta

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera untuk Anda dan seluruh rakyat Indonesia!

Saudara Presiden yang terhormat, sebelum saya menyampaikan berbagai harapan dan saran melalui surat ini, izinkanlah saya memperkenalkan diri. Saya adalah salah satu warga negara Indonesia, jurnalis sekaligus buruh di sebuah perusahaan siaran televisi swasta, dan ayah dari dua orang anak yang masih kecil-kecil. Sejak 1997, saya berdomisili di wilayah Depok, Jawa Barat. Terus terang saja, pada pemilihan presiden beberapa bulan lalu, saya tidak mendukung Anda untuk menjadi Presiden RI. Alasannya, bukan karena saya menganggap Anda kurang pintar, kurang bijak, atau kurang berkemampuan menjadi Presiden. Juga, bukan karena saya memandang Anda kurang bersih dalam masalah korupsi, kolusi dan nepoti…