CARA OKNUM DI PERUSAHAAN MEDIA MENGGELAPKAN ASURANSI KESEHATAN



Berbagai perusahaan media, baik media cetak maupun elektronik, kini menyediakan asuransi kesehatan untuk kesejahteraan karyawannya. Biasanya, pelayanan asuransi kesehatan ini disediakan melalui kerjasama dengan perusahaaan asuransi tertentu.

Masalahnya, ternyata asuransi kesehatan juga bisa menjadi ajang korupsi bagi oknum tertentu yang mengurusi layanan ini. Yaitu, oknum di media bersangkutan, yang bekerjasama dengan oknum di perusahaan asuransi terkait. Mereka menggelapkan uang premi sejumlah besar karyawan media. Di sini saya mengunakan istilah “oknum,” karena belum jelas benar, apakah penggelapan uang asuransi ini memang inisiatif pribadi bersangkutan, atau memang direstui oleh atau sepengetahuan pemilik perusahaan media, yang ingin mengurangi cost.

Bagaimana modus operandinya? Begini, misalnya, perusahaan media M punya karyawan 500 orang. Media M bekerjasama dengan perusahaan A, yang menyediakan layanan asuransi kesehatan. Oknum di media M lalu memantau data peserta asuransi tahun sebelumnya (tahun 2005). Ternyata, dari 500 karyawan media itu ada 100 karyawan yang bisa dibilang selalu sehat, tidak pernah sakit.

Nah, maka untuk periode 2006, oleh oknum di media M, uang premi bagi 100 karyawan yang tak pernah sakit itu digelapkan dan tidak diserahkan ke perusahaan A. Untuk mengelabui 100 karyawan ini, kepada mereka tetap diberi kartu asuransi kesehatan, seperti kepada 400 karyawan lainnya. Tetapi 100 kartu itu sebetulnya kartu “bodong” (karena preminya tidak pernah dibayarkan). Untuk membuat kartu ini, tentu saja oknum di M harus bekerjasama dengan oknum di perusahaan A.

Terus, bagaimana jika pada tahun 2006 ini, ternyata di antara 100 karyawan tersebut ada yang sakit dan perlu masuk rumah sakit. Ketika mereka menyerahkan kartu asuransinya ke RS, tentu tak bisa digunakan. Gampang! Jika ini terjadi, oknum di media M akan mendatangi rumah sakit dan membayar biaya rawatnya dengan uang premi yang sebelumnya ia gelapkan.

Cukup dikatakan bahwa “telah terjadi kesalahan kecil administratif,” sehingga nama si karyawan tak terdaftar. Toh cuma beberapa karyawan yang masuk rumah sakit. Artinya, sisa uang premi yang digelapkan masih cukup banyak untuk dinikmati oleh oknum di media M dan oknum di perusahaan A.

Saya mendengar, modus operandi semacam ini telah dilakukan di Harian Media Indonesia, dan baru-baru ini terbongkar. Dana asuransi kesehatan yang digelapkan kabarnya mencapai sekitar Rp 406 juta! Cukup besar. Hanya dengan akal-akalan kecil, para oknum ini dapat menangguk untung besar.

Semoga dengan informasi ini, bisa menjadi masukan pada rekan-rekan, khususnya yang bekerja di perusahaan media, untuk waspada dan tak mudah dikibuli. Ini juga sekadar mengingatkan pada perusahaan media, untuk sungguh-sungguh memelihara dan meningkatkan kesejahteraan karyawannya. Tidak main kucing-kucingan dengan karyawan dalam hal isyu kesejahteraan.

Jakarta, 25 Juli 2006

Satrio Arismunandar
Buruh di Industri media
Trans TV - Jl. Kapten P. Tendean Kav 12-14A.
Jakarta Selatan 12790

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI