Cerpen - IMPIAN KEABADIAN


Oleh Satrio Arismunandar


Pertama kali kubuka mata, yang tampak adalah sebuah kamar tidur yang mewah. Aku terbaring di atas ranjang berukuran besar. Seprainya tebal, terbuat dari bahan kualitas terbaik, berwarna biru muda. Selimutnya lembut, berbulu halus, dan harum. Di samping ranjang, ada bufet kecil dengan vas bunga di atasnya. Mawar merah segar yang ada di vas itu memberi suasana menyegarkan.

Dinding ruangan ini terkesan kokoh dan anggun, dilapisi kertas tembok mengkilap. Selain sebuah cermin besar, ada sejumlah lukisan tergantung di dinding. Salah satu lukisan menggambarkan seorang laki-laki dan perempuan, duduk bersanding mesra. Mereka tersenyum, seperti pasangan suami-istri yang berbahagia. Yang laki-laki terlihat gagah dan tampan, di usianya yang kutaksir sekitar awal 40-an. Sedangkan yang perempuan berambut panjang terurai, sangat jelita, berumur kira-kira sepuluh tahun lebih muda dari pasangannya. Selain itu, ada tiga foto terpisah, yang menunjukkan tiga gadis kecil dengan usia yang berbeda-beda. Mungkin ini tiga putri dari pasangan tersebut.

Tubuhku terasa nyaman dan enteng, seperti baru bangun dari tidur lelap yang panjang. Baru kuperhatikan kemudian, ternyata aku memakai piyama dari bahan katun halus. Aku pun bangkit dari pembaringan, dan duduk bersila di ranjang. Ada perasaan aneh yang tak kupahami. Aku tak tahu sedang berada di mana, dan bagaimana bisa sampai di ruangan ini. Yang lebih membingungkan lagi, aku bahkan tak ingat siapa diriku ini. Apakah aku sedang bermimpi?

Pintu kamar terbuka. Seorang perempuan masuk, membawa segelas teh hangat dengan tatakan. Wajahnya persis perempuan di lukisan tersebut. Bibirnya menyunggingkan senyum, ketika melihatku sudah bangun. “Ah, selamat pagi, Mas Yunus! Sudah bangun rupanya. Ini kubawakan teh aroma melati kesenanganmu,” ujarnya, seraya meletakkan segelas teh itu di meja kecil di samping tempat tidur.

“Mas Yunus? Kamu bicara denganku?” Aku masih tertegun menatapnya.
“Ya, tentu saja. Dengan siapa lagi?” sahutnya, sambil duduk di sisi tempat tidur. Tanpa canggung, ia memegang tanganku, lalu meraba dan mengusap dahiku. Seolah memeriksa, apakah aku menderita demam.

“Yunus? Namaku Yunus?”
“Tentu saja. Lengkapnya, Muhammad Yunus.”
“Aku…aku tak ingat siapa diriku.” Aku terbata-bata. Nama itu terasa asing di telingaku. Seperti nama dari sebuah dunia lain yang jauh.

Perempuan itu tersenyum, menenangkan. “Mas Yunus tak usah bingung. Dokter sudah memberitahu, sejak kecelakaan itu, Mas Yunus mengalami shock, sehingga menderita amnesia atau lupa ingatan untuk sementara. Namun, kata dokter, berangsur-angsur ingatan itu akan pulih seperti sediakala. Jadi, Mas tenang saja. Yang penting, Mas harus menjaga kesehatan dan banyak beristirahat.”

“Kecelakaan? Kecelakaan apa?”
“Sedan yang Mas tumpangi ditabrak bus, di kawasan perbukitan, dan masuk ke jurang. Pak Nabil Basalamah, sopir kantor yang menyetir mobil Mas, meninggal. Mas Yunus sendiri beruntung, hanya menderita luka ringan. Tapi Mas mengalami shock, yang berdampak pada kehilangan ingatan untuk sementara.”

“Begitukah? Mengapa aku tidak dirawat di rumah sakit?”
“Mas sempat dirawat di sana. Waktu itu mungkin Mas belum sadar betul. Kata dokter, untuk memulihkan ingatan dan mempercepat penyembuhan, suasana rumah di tengah keluarga justru lebih baik. Itulah sebabnya Mas dipindahkan ke sini.”
Sebagian hal mulai jelas bagiku, tetapi banyak pertanyaan lain belum terjawab. “Maaf, tapi aku tak mengenalmu. Siapakah kamu?”

“Aku Dian, Mas. Dian Kencana Dewi, istrimu. Kita sudah menikah selama tujuh tahun, dan punya tiga orang putri,” sahut perempuan berkulit kuning langsat itu. Aura wajahnya seperti bersinar. Ia memiliki sejenis kecantikan alami yang membuatku terpana.
“Betulkah?” Kutatap mata Dian yang bening hitam itu. Tampaknya dia jujur. Aku masih berusaha menyesuaikan diri dengan kenyataan-kenyataan baru ini. Kenyataan yang asing dan tak pernah kukenal. Aku bahkan belum sepenuhnya yakin, semua ini memang nyata. Kebimbanganku rupanya bisa dirasakan oleh Dian.

“Tidak percaya? Mari kutunjukkan!” Dian dengan sabar menarik tanganku. Kami berjalan ke depan cermin besar yang menempel di tembok. “Nah, coba perhatikan.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat wajahku sendiri di cermin. Wajah seorang laki-laki yang gagah, namun sedikit kurang rapi, karena bulu-bulu kumis tipis dan janggut yang belum dicukur. Baru kemudian kusadari, wajahku persis sama dengan wajah laki-laki yang bersanding dengan Dian dalam lukisan besar di dinding. Ketika kami berdiri berdampingan di depan cermin, aku dapat membandingkan, ternyata wajah kami berdua di cermin ini tampak seperti kembaran wajah pasangan suami-istri dalam lukisan.

Entah mengapa, aku merasa lega. Di tengah belantara ketidakjelasan yang membingungkan ini, ternyata aku tidak sendirian. Istriku atau bukan, Dian adalah seorang lain yang menjadi bagian dari diriku, yang berbagi perasaan denganku, dan memahami situasiku. “Kamu…kamu sangat cantik!” Terlepas begitu saja ucapan itu dari mulutku, sambil menatap bayangan Dian di cermin.

Dian tersenyum. Wajahnya agak memerah, senang. “Sebelum kejadian ini, Mas Yunus jarang sekali memujiku. Lucu. Ketika kehilangan ingatan, Mas justru memujiku. Senangnya, kalau Mas Yunus bisa terus begitu.”

Dian menarik lenganku untuk kembali ke tempat tidur. Saat itulah pintu kamar terbuka. Tiga gadis kecil menghambur masuk ke ruangan. “Papa! Papa!” seru mereka padaku. Yang terkecil dan paling lucu, berumur sekitar lima tahun, memeluk kakiku. Rambutnya dipotong pendek model poni. Kakaknya, yang berusia sekitar tujuh tahun, memegang tanganku. Yang terbesar, berusia sekitar sembilan tahun, berdiri di belakangnya.
“Inikah anak-anak kita?” tanyaku pada Dian.
“Ya. Yang terkecil dan imut ini Mutia. Dia baru masuk Taman Kanak-Kanak. Kakaknya, Asty Rastiya, sudah kelas I Sekolah Dasar. Yang sulung, Annisa, sudah kelas III. Sebelum ini Mas Yunus terlalu sibuk bekerja, sehingga jarang punya waktu untuk anak-anak. Tak heran, mereka sangat kangen padamu.”

“Sibuk bekerja? Apa pekerjaanku?”
Dian tertawa. “Pekerjaan Mas Yunus? Mas Yunus adalah pemilik grup perusahaan PT. Media Kita Bersama, yang membawahi satu stasiun televisi, sepuluh stasiun radio komersial, satu pasar swalayan, dan sebuah bank swasta. Sebenarnya beberapa hari terakhir ini, banyak staf, bawahan dan relasi bisnismu yang mau menjenguk. Tapi kularang dulu, karena Mas Yunus butuh istirahat.”

Pemilik dari sekian banyak perusahaan! Hebat! Tak pernah kubayangkan bahwa aku begitu kaya raya. Kalau semua ucapan Dian itu benar, berarti aku ini bukan orang sembarangan. Ya, Tuhan. Kejutan apa lagi yang belum kuketahui?
“Papa! Temani Mutia ke kebun binatang dong!” rengek Mutia, membuyarkan anganku.
“Iya. Papa dulu juga janji mau menemani Asty berenang. Tapi nggak pernah sempat,” timpal Asty, yang berambut pendek dan bertubuh agak kurusan.
“Papa sih sibuk sama urusan kantor terus!” tambah Annisa. Sebagai anak sulung, Annisa yang mengenakan celana jeans biru ini, memang tampak paling dewasa.
“Sebentar, anak-anak! Papa masih kurang sehat dan harus banyak istirahat. Nanti kalau sudah sembuh betul, pasti Papa akan menemani kalian ke manapun kalian mau. Betul ‘kan, Papa?” tukas Dian.

“Iya. Betul,” sahutku begitu saja.
“Nah, kalian dengar sendiri janji Papa. Sekarang main di luar dulu, ya? Soalnya Papa harus istirahat,” bujuk Dian.
“Yaaaaah, Papa!” Mutia tampak agak kecewa. Mulutnya memberengut, lucu.
“Papa nggak bohong, ‘kan? Kalau sudah sembuh, Papa akan pergi berenang bersama kami?” ucap Asty.

“Tentu. ‘Kan Papa sudah janji!” jawabku, sekenanya. Anak-anak ini mengharapkan aku menjadi ayah yang baik. Mereka tak paham, bahkan untuk sekadar menjadi “ayah” mereka saja, aku sedang berusaha keras menyesuaikan diri. Apalagi untuk menjadi “ayah yang baik!” Namun, meski agak kikuk, aku tak tega mengecewakan anak-anak ini.

“Daaag, Papa! Kami tinggal dulu, ya?” ujar Annisa sambil mencium pipiku. Ia diikuti oleh Asty dan Mutia. Tiga gadis kecil itu lalu pergi. Kamar pun kembali sepi. Hanya aku dengan Dian, yang duduk di sisi ranjang.
“Mereka anak-anak yang baik,” ujarku.
“Memang. Mereka memberi warna, kesegaran dan keceriaan pada perkawinan kita.”
“Dian, aku ingin bertanya padamu tentang sesuatu hal yang agak bersifat pribadi. Bolehkah?”
“Tentu saja boleh. Tanyailah aku apa saja, sesuka Mas Yunus.”
Kutatap wajahnya lekat-lekat. “Maafkan, Dian. Aku terus terang belum terbiasa dengan semua ini, juga tentang hubungan kita. Bisakah kau ceritakan, kapan dan bagaimana dulu kita pertama kali bertemu?”

Dian tertawa. “Oh, kita berkenalan di acara outbound, yang diadakan oleh perusahaan untuk para karyawan baru. Aku waktu itu karyawan yang baru lulus pelatihan. Ketika berjalan meniti tambang di tempat ketinggian, dalam latihan outbound itu, aku terjatuh dan cedera. Mas Yunus, sebagai pimpinan perusahaan waktu itu, menjengukku di rumah sakit. Kita menjadi akrab sejak peristiwa tersebut. Setahun kemudian, kita pun menikah.”

“Tolong katakan padaku, Dian. Selama tujuh tahun perkawinan kita, apakah kau merasa bahagia? Suami seperti apakah aku selama tujuh tahun itu? Apakah aku ini suami yang baik? Suami yang bertanggung jawab?”

Tangan Dian meraba pipiku. Matanya balas menatapku dengan pandangan sejuk. “Mas Yunus, seandainya waktu bisa diputar kembali ke masa lampau, aku bersedia jatuh dan cedera lagi dalam latihan outbound, agar aku bisa bertemu dan menikah denganmu. Aku bersyukur pada Tuhan yang telah mempertemukan kita. Ya, aku sangat bahagia hidup bersamamu. Usia perkawinan kita selama tujuh tahun ini adalah masa-masa terindah dalam hidupku.”

“Tapi, Mas Yunus yang kau cintai adalah diriku yang dulu. Yunus yang penuh ingatan dan kenangan denganmu. Sedangkan diriku yang sekarang adalah manusia tanpa ingatan, tanpa kenangan masa lalu, dan karena itu juga tanpa ikatan emosi. Bagaimana kau bisa mencintai manusia tanpa masa lalu, seperti aku sekarang ini?”
“Bagiku, Mas Yunus yang sekarang tetap sama dengan Mas Yunus yang dulu. Tak ada yang berubah dalam perasaanku.”
“Kita berandai-andai sekarang. Seandainya…ya, seandainya ingatanku tak pernah kembali pulih seperti dulu, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan tetap menganggapku sebagai suamimu? Suami yang sama dengan yang kau kenal selama tujuh tahun terakhir ini? Padahal, saat ini pun aku baru saja belajar untuk mengenalmu!”

“Apapun yang dialami Mas Yunus, aku tetap mencintaimu. Kalau pun sekarang Mas Yunus tidak mengenal Dian, atau --lebih tepat—kehilangan kenangan tentang Dian, kita berdua bisa belajar dari awal lagi, untuk saling mencintai. Bukankah itu sesuatu yang menakjubkan? Kita memulai kehidupan baru, betul-betul baru, dan membangkitkan rasa cinta yang baru, sesudah tujuh tahun menikah?”
“Apakah itu mungkin?”
“Mengapa tidak?”
“Dian, aku hidup tanpa ingatan dan tanpa kenangan tentang masa lalu. Inilah yang membedakan kita. Terlepas dari baik-buruknya masa lalu itu, bagaimana orang bisa hidup tanpa masa lalu? Bukankah kita bisa memahami dan memaknai hari ini, karena kita telah mengalami hari-hari kemarin? Bukankah kita dapat merancang hari esok, karena kita telah menjalani hari ini?”

“Ya. Masa lalu memang membantu kita memaknai hari ini.” Dian menggengam jemariku. “Namun, masa lalu juga bisa menjadi beban atau rantai, yang membelenggu kita. Betapa banyak orang yang menderita, karena jiwanya tertambat di masa lalu. Namun, perputaran roda nasib telah membebaskan Mas Yunus dari masa lalu. Meski usia Mas Yunus sudah 43 tahun, engkau saat ini adalah seperti bayi yang terlahir kembali. Hari ini dan hari esok adalah milik Mas Yunus. Lepaskan, ikhlaskan masa lalu itu, Mas. Buang jauh-jauh beban dan belenggu itu. Hari ini, waktu ini, kita memiliki kesempatan untuk merasa bahagia. Rengkuhlah itu! Jangan sia-siakan itu.”

Kata-kata Dian membuatku termenung. Ya, mengapa jiwa kita selalu tertambat pada “masa lalu?” Masa lalu itu sebenarnya maya, karena toh aku tak punya kenangan apa-apa. Aku juga tak ingat, apa saja yang telah kulakukan di hari-hari kemarin. Namun, dengan sabar menjalani hari ini, dan menyongsong matahari esok pagi, bukankah sebenarnya aku akan membentuk masa lalu juga? Meskipun baru satu hari.

Biarlah waktu berjalan. Perlahan-lahan, sehari demi sehari, aku akhirnya juga akan memiliki “masa lalu yang baru.” Tentu, itu tak sama dengan masa lalu yang pernah kumiliki dan kini sudah kulupakan. Tetapi itu tetaplah masa lalu. Aku akan punya “masa lalu yang baru.” Dan aku akan membentuknya bersama keluargaku. Bersama Dian, dan anak-anakku Mutia, Asty, dan Annisa.

Seperti mentari pagi yang menyibak kegelapan malam, aku merasa memperoleh pencerahan. Pikiranku kini terasa jernih dan tenang. Dadaku lega dan lapang. Aku telah mengambil keputusan. Kupegang erat jemari Dian. “Panggillah anak-anak sekarang, Dian! Aku akan menemani mereka ke kebun binatang, berenang atau kemana pun mereka mau! Mereka layak berbahagia.”.

“Apa maksudmu, Mas? Bukankah kau masih lelah? Tidakkah kau ingin beristirahat dulu?”
“Tidak. Aku saat ini justru merasa sehat sesehat-sehatnya. Aku telah memutuskan untuk menciptakan masa lalu yang baru, dengan menjalani sepenuhnya hari ini dan hari-hari esok. Aku ingin menyia-nyiakan satu hari pun. Sebaliknya, aku akan mengisinya dengan melakukan semua hal yang bisa membahagiakanmu, Dian. Juga membahagiakan Mutia, Asty dan Annisa. Kita akan menjalaninya bersama-sama!”

Senyum Dian mengembang. Aku dapat merasakan kebahagiaannya, sebagai seorang istri yang suaminya telah “kembali.” Ia membuka pintu kamar dan memanggil anak-anak masuk. Kudengar sorakan riang Mutia, Asty dan Annisa, ketika Dian memberitahu bahwa kami sekeluarga akan pergi bertamasya. Mereka pun menghambur dalam pelukanku. “Papa! Papa! Ayo kita berangkat sekarang! Ayo, Mama!”

Aku merasakan seolah-olah ruangan itu dipenuhi cahaya. Cahaya lembut yang damai. Cahaya di atas cahaya. Cahaya bening dengan nuansa warna yang belum pernah kulihat, dan tak pernah terbayangkan, sekalipun di dalam mimpi. Yang kurasakan sekarang hanyalah kedamaian. Tenang dan damai. Oh, kebahagiaan yang sempurna…

***
Kondisi Muhammad Yunus Kritis

JAKARTA, KOMPAS - Kondisi Muhammad Yunus, Ketua Serikat Karyawan PT. Industri Nusantara, yang mengalami koma dan tak sadarkan diri sejak dua hari lalu, semakin kritis. Hal itu diungkapkan Dokter Agus Riyadi, yang merawat Yunus sejak masuk ke ruang ICU RS. Cipto Mangunkusumo, dalam temu pers di kantornya, kemarin.

Menurut Agus, Yunus bisa bertahan hidup berkat dukungan alat-alat kedokteran, yang memberikan oksigen dan nafas buatan. Namun, itu hanya bersifat artifisial, karena jika alat-alat itu dicabut, hidup Yunus diperkirakan tak akan bisa bertahan. “Itu dari segi perhitungan medis. Namun, bagaimanapun juga, hidup-mati di tangan Allah. Kita tak boleh berhenti berusaha dan berdoa. Semoga ada keajaiban,” sambungnya.

Namun, sumber-sumber di kalangan kedokteran menyatakan, melihat kondisinya yang begitu berat, tampaknya nyawa Yunus sulit diselamatkan. Hal ini karena luka di kepalanya, yang menyebabkan ia tak sadarkan diri dan koma, sudah terlanjur parah. Meski demikian, pihak RSCM terus mengupayakan berbagai cara, untuk memulihkan kondisi Yunus.

Kasus Yunus berkembang menjadi isu nasional, setelah terjadi bentrokan berdarah antara aparat keamanan dengan sekitar 8.000 karyawan PTIN, yang berunjuk rasa menolak PHK besar-besaran. PHK itu ditetapkan secara sepihak oleh Direktur Utama PTIN, Mufthi Akbar. Unjuk rasa yang damai itu berakhir dengan bentrokan sengit, karena ulah preman atau provokator yang menyusup dalam demo karyawan.

Mereka melempari aparat dengan batu dan merusak aset perusahaan. Aparat pun melepaskan tembakan secara membabi-buta. Akibatnya, 65 karyawan luka-luka, 10 di antaranya cukup parah. Nabil Basalamah, salah satu pengurus Serikat Karyawan tewas tertembak. Sedangkan, kepala Yunus luka parah kena pukul popor senapan, dan ia langsung rubuh tak sadarkan diri, hingga saat ini.

Berbagai organisasi nonpemerintah, serikat pekerja, LBH, bahkan DPRD mengecam cara pemerintah menangani masalah ini, yang dianggap terlalu represif. Menanggapi kritik itu, Kapolda Inspektur Jenderal Polisi Gatot Triyanto mengatakan, pihaknya akan mengusut tuntas kasus bentrokan itu, dan akan menghukum anak buahnya, jika terbukti bersalah.

Selama dua hari ini, berbondong-bondong, rekan kerja di PTIN dan para aktivis serikat pekerja menengok Yunus, yang masih mengalami koma di RSCM. Bahkan Menteri Tenaga Kerja, Ponco Wijaya, ikut menjenguk ke rumah sakit. Kepada para wartawan, Ponco berjanji akan memperjuangkan nasib karyawan PTIN dalam kasus ini.

Dalam temu pers, Dian Kencana Dewi, istri Yunus, tampak masih sangat terguncang. Matanya selalu berlinang. “Mas Yunus membaktikan seluruh tenaganya untuk membela nasib karyawan lain. Padahal, hidup kami sendiri sangat kekurangan. Namun, yang saya sedihkan bukan soal materi. Saya sedih, karena merasa gagal membahagiakannya. Ia sangat ingin punya anak. Namun, selama tujuh tahun perkawinan kami, kami belum dikaruniai anak seorang pun. Itulah keinginannya yang belum tercapai,” ujar Dian, yang saat itu didampingi kakaknya, Wulan Asti Rahayu.

Budi Afriyan, sahabat Yunus yang juga aktivis serikat karyawan, menyatakan: “Yunus tak pernah setengah-setengah dalam membela karyawan. Sosoknya yang gigih memberi inspirasi pada seluruh karyawan PTIN, untuk terus berjuang. Saya sempat menjenguknya di ruang ICU tadi siang. Aneh, meski kondisinya sangat kritis dan dibayangi maut, wajahnya terlihat begitu teduh dan damai. Mulutnya bahkan seolah-olah tersenyum. Tapi, mungkin ini hanya perasaan saya saja.” ***

Depok, Mei 2005

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)