Essay - BALADA SEEKOR ANAK KUCING


Oleh Satrio Arismunandar

Aku selalu bermimpi menjadi jurnalis besar. Seorang jurnalis yang karyanya abadi, karena ikut mengubah nasib negara dan jutaan rakyat di dalamnya. Ya, seperti Bob Woodward dan Carl Bernstein, reporter suratkabar the Washington Post. Keduanya terkenal ke seluruh dunia berkat liputan investigatif tentang skandal Watergate, yang akhirnya menjatuhkan pemerintahan Presiden Richard Nixon.
Namun, kejadian yang akan kuceritakan ini telah menggeser mimpiku. Itu terjadi pada pertengahan Juni 2005, ketika crew program SISI LAIN (SILA) meliput tradisi bakar tongkang di kota Bagan Siapi-api, Riau, sekaligus syuting presenter Olga Lydia. Lokasi syuting adalah sebuah gedung sekolah Katolik, di bekas kota ikan tersebut, yang ornamen dan arsitekturnya kami anggap khas.
Campers SILA, Darmawan Eko (Koko), adalah yang pertama menemukan anak kucing itu. Ketika sedang mengambil gambar di lantai dua gedung sekolah tersebut, suara anak kucing yang mengeong-ngeong itu mengganggu audio dan mengusiknya. Ternyata di pojokan lantai dua gedung itu ada dua anak kucing terlantar. Satu sudah mati terkapar. Satunya lagi terus mengeong, memanggil-manggil induknya.
Proses syuting, yang sudah memasuki tahap akhir, agak terganggu karena tangisan anak kucing ini. Sebagai pecinta kucing sejati, reporter SILA, Dian Kencana Dewi segera membawa anak kucing itu ke lantai bawah untuk dipertemukan dengan induknya. Sialnya, induk kucing itu tak terlihat ujung ekornya. Olga tampak ingin ikut, tetapi karena sedang syuting dan hari makin sore, kami terdesak untuk segera menyelesaikan syuting ini.
Anak kucing itu jelas lapar dan haus. Dian mencoba memberi minum anak kucing itu dengan air Aqua, menggunakan sedotan. Aku ikut sibuk mencari-cari induk kucing. Si induk itu akhirnya ditemukan, meski selalu mau kabur saja ketika didekatkan ke anaknya. Si ibu kucing ini tak mau menyusui anaknya. Mungkin karena terlalu banyak orang yang mengerumuninya, atau karena si anak sudah terlanjur terpapar “bau manusia.”
Begitu syuting selesai, Olga berinisiatif mencari ikan asin, sebagai iming-iming untuk si induk kucing agar mau menyusui anaknya. Wah, Olga ini memang presenter yang komplet. Betul-betul presenter SILA! Mana ada presenter lain yang mau repot-repot mencari ikan asin, untuk mengurusi anak kucing yang jelas bukan urusannya. Dan dia memang tidak dibayar untuk itu!
Karena hari sudah sore, tak ada warung yang buka. Untunglah, ada warga setempat yang mengenali Olga. Dulu Olga pernah syuting film di Bagan Siapi-api, sehingga ada saja warga yang ingat wajahnya. Setelah foto bersama, warga ini dengan sukarela menyerahkan ikan segar dari kulkasnya buat Olga.
Namun, ketika Olga datang membawa ikan itu, si induk kucing tetap ogah menyusui anaknya. Si induk kucing itu malah pergi begitu saja, tak bisa ditahan. Kami bingung bagaimana mengatasi kasus anak kucing ini. Hari sudah makin sore. Sebagian besar crew SILA sudah kembali ke hotel dengan mobil lain. Tinggal satu mobil beserta “tim penyelamat kucing” yang masih tertahan, yakni: Dian, Olga, Mbak Budi (crew bagian make-up yang setia menemani Olga), aku sendiri, dan penjaga sekolah yang tetap menemani tamu-tamunya ini.
Rasanya tak mungkin membawa anak kucing ini ke hotel untuk dirawat atau dibawa pulang ke Jakarta. Tetapi, untuk ditinggalkan begitu saja, rasanya tak tega. Bagaimana nasibnya nanti? Apakah si induk akan kembali, untuk merawat anaknya? Atau ia justru terus cuek, dan meninggalkan anaknya mati kelaparan?
Akhirnya, anak kucing dalam kotak kardus itu kami tinggalkan di tempat semula, di bawah anak tangga, dengan harapan si induk kucing akan kembali ke tempat itu nanti.
Langit senja yang semula kemerahan sudah semakin gelap, ketika mobil terakhir yang kami tumpangi meninggalkan lokasi syuting. Meski tahu, kami harus pergi, hati rasanya tak tenang. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dan belum tuntas. Nasib anak kucing itu masih belum jelas.
Ketika mobil baru bergerak, Olga merasa melihat kelebat bayangan si induk kucing. “Lihat! Ibunya kembali ke tempat anak kucing tadi!” serunya. Dian juga mengaku melihatnya. Mungkin mereka berdua benar. Tapi karena hari sudah gelap, aku tidak merasa melihat kelebat induk kucing itu.
Belakangan, Dian bercerita, di tengah hiruk pikuk mengurusi anak kucing tadi, Olga sempat menelepon temannya yang tinggal di Bagan Siapi-api, untuk mencari tahu atau jika mungkin sekaligus merawat anak kucing itu.
Sesudah kami meninggalkan Bagan Siapi-api dan kembali ke Jakarta, aku tak mendengar lagi kabar soal anak kucing itu. Mungkin lebih tepat jika kukatakan, kami menyerahkan nasib anak kucing itu ke tangan takdir.
Namun, setelah kejadian itu, aku jadi punya pikiran lain. Bagaimana aku bisa jadi jurnalis hebat, yang karyanya menggerakkan perubahan besar dan menyelamatkan nasib jutaan rakyat, jika untuk urusan kecil satu ini saja aku sudah gagal? Terbukti, aku bahkan tidak sanggup menjamin nasib seekor anak kucing! ***

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)