Essay - WAJAH SINGAPURA DAN KERINDUAN MANUSIAWI


Oleh : Satrio Arismunandar

Kalau mendengar nama Singapura, yang selalu terbayang di benak saya adalah sebuah negeri kecil yang makmur, dengan penduduk yang giat bekerja, serta pemerintahan yang efisien, efektif dan relatif bersih dari korupsi. Singapura adalah surga di Asia, bagi mereka yang mengidamkan kebersihan, kerapihan, keteraturan, kemajuan dan kecanggihan teknologi.
Tidak perlu menjadi seorang pakar, untuk memahami hal itu. Cukup dengan berputar-putar sebentar di bandara Changi atau menaiki kereta MRT (mass rapid transit) di pusat kota, dan kesan-kesan yang saya sebutkan tadi akan terasa. Di Singapura, semua serba teratur dan terencana.

Efisiensi, efektivitas dan kemajuan adalah tuntutan kehidupan modern. Singapura diakui sangat berhasil dalam hal-hal ini. Namun, itu semua bukanlah segalanya. Manusia, dan tentunya rakyat Singapura sendiri, juga membutuhkan sesuatu yang lain. Karena pada akhirnya, seluruh sistem kehidupan modern itu ditujukan untuk membahagiakan manusia, bukan sekadar untuk mengejar “kemajuan”.

Dan apakah “sesuatu yang lain” itu? Wajah dan nuansa manusiawi. Sesuatu yang membuat kita sadar dan bahagia, bahwa kita adalah manusia. Bukan mesin, dan bukan sekadar sekerup dari mesin yang lebih besar lagi.
Ketika kedatangan saya disambut dengan senyum oleh seorang pelayan toko, saya menginginkan itu senyum yang tulus dari seorang manusia. Bukan sekadar mesin yang diprogram lewat komputer, untuk menggerakkan mulut dengan sudut kemiringan tertentu, sekadar untuk mengejar target profit lewat penjualan barang.

Di Singapura, untuk menjaga seluruh efisiensi, efektivitas dan keteraturan sistem, dibuat berbagai peraturan yang begitu lengkap dan rinci. Seolah-olah, tak ada ruang yang tak dijangkau peraturan. Tetapi bagaimana menanggapi kreativitas manusia, yang seringkali tidak terjangkau oleh peraturan? Karena, kalau kreativitas bisa dikungkung dalam sebuah peraturan, bagaimana peradaban kita bisa berkembang?

Obsesi pada keteraturan dan pengaturan, membuat Singapura gamang menghadapi keterbukaan, kreativitas, perbedaan pandangan, dan sebagainya. Semua itu sering diasosiasikan dengan potensi terjadinya kekacauan sistem, serta rusaknya kemakmuran dan standar hidup warga yang selama ini telah dinikmati.

Cara pandang seperti itu tidak sepenuhnya keliru. Namun, memutlakkan cara pandang tersebut adalah juga berlebihan. Karena mengakomodasi keterbukaan, kreativitas dan perbedaan pandangan adalah manusiawi. Persoalannya, adalah bagaimana mensinergikan berbagai unsur yang tarik-menarik ini, untuk memajukan negeri Singapura dengan tetap mempertahankan wajah manusiawinya.

Saya sungguh percaya, Singapura masih bisa bergerak lebih maju. Namun, caranya bukan dengan meningkatkan efisiensi, efektivitas dan kemajuan teknologi, melainkan lebih pada pengembangan wajah Singapura yang lebih manusiawi.
Dengan demikian, Singapura akan menjadi negeri yang lebih utuh dan lebih lengkap. Singapura juga akan memberi sumbangan berarti, bagi terwujudnya keluarga besar bangsa-bangsa Asia, yang bukan hanya lebih maju, namun –yang tak kalah penting-- juga lebih berbahagia. ***

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)