KISAH RAJAWALI-RAJAWALI


Oleh Satrio Arismunandar

(Catatan tersisa dari liputan dan Raker Program SISI LAIN
TransTV, di Dieng, Jawa Tengah, 27-29 April 2005)


Yossie dan Dian melangkah di depanku, menyusuri pematang dan alur-alur ladang kentang dan bawang. Cuaca di lereng bukit yang kami lewati cukup cerah, bahkan agak panas, pada tengah hari itu. Aku berjalan di belakang kedua reporter SISI LAIN (SILA) tersebut sambil memanggul tripod. Di belakangku, Komar, cameraman SILA, berjalan dan sesekali berhenti untuk mengambil gambar.

Kami baru saja mengambil gambar tugu peringatan terjadinya bencana alam tanah longsor 1955, yang menimpa Dukuh Legetang, di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Sekitar 350 orang, atau bisa dibilang hampir seluruh penduduk Legetang, tewas dalam bencana tersebut. Desa itu sendiri sekarang sudah tinggal sejarah.

Pengambilan gambar ini adalah bagian dari liputan utama untuk program SILA, yang ditayangkan di TransTV tiap Selasa pukul 23.30. Sesudah liputan beberapa hari, akan langsung diteruskan dengan Raker Program SILA di Hotel Kledung Pass, Dieng, 27-29 April. Menjadikan lokasi liputan sekaligus sebagai lokasi Raker jelas lebih praktis dan menghemat biaya.

Rabu, 27 April itu seharusnya liputan sudah selesai dan Raker dimulai. Tapi masih kurang sedikit gambar lagi. Narasi yang kami peroleh dari wawancara dengan Pak Agus Tjugianto, pemilik Hotel Kledung Pass, menyebut soal tugu peringatan bencana ini, padahal kami belum punya gambarnya secuil pun. Karena Raker baru akan dimulai pukul 16.00, kupikir masih cukup waktu untuk melengkapi liputan siang itu.

Sebagai Producer, sebenarnya tak ada keharusan bagiku untuk ikut meliput. Tapi, menunggu di hotel sampai Raker dimulai, sangat menjemukan. Paling-paling aku hanya akan menghabiskan waktu dengan membaca buku “The Da Vinci Code,” yang belum juga tamat kubaca. Buku laris karya Dan Brown itu adalah hadiah dari crew SILA pada ulangtahunku, 11 April lalu. Selain itu, dataran Dieng yang diapit Gunung Sumbing dan Sundoro ini sangat menarik. Maka kuputuskan untuk ikut meliput.

“Beautiful, Misty and Mysterous.” Cantik, berkabut dan misterius. Begitulah gambaran Pak Agus tentang alam Dieng. Contoh kemisteriusannya adalah bencana yang menimpa Dukuh Legetang. “Sebetulnya jarak antara gunung dan desa itu jauh, sehingga sulit diterima akal bahwa tanah longsor itu bisa menimpa desa. Jadi, tanah itu seolah-olah terbang dari gunung, dan menimpa desa. Ada cerita, bahwa banyak penduduk desa itu yang berperilaku tidak benar. Mirip kisah Soddom dan Gomorah,” ujar Pak Agus waktu itu.

Berbagai kenangan peristiwa berkelebat dalam benakku, ketika kami turun menyusuri lereng bukit. Melihat ransel Fila di punggung Dian, dan bagaimana gadis lulusan Hubungan Internasional Unpad itu melompat kecil, melangkahi alur daun bawang di depanku, seperti membawaku ke masa lalu. Masa ketika aku masih bergabung dalam kelompok pencinta alam Kamuka Parwata FTUI.

Masa mahasiswa itu sudah bertahun-tahun berlalu, tetapi seperti baru berlalu beberapa minggu saja. Masa-masa pergolakan. Masa-masa pencarian diri. Masa-masa ketika seorang anak muda sangat berhasrat, untuk menjawab sekian banyak pertanyaan, tentang dirinya dan tentang di mana tempatnya di dunia ini…

***
“To travel is to take a journey into yourself.” Aku lupa, di mana ungkapan itu pernah kubaca. Kalau tak salah, itu pernah kubaca di sebuah laporan perjalanan dari seorang penulis wisata. Aku setuju dengan ungkapan itu, karena merasa sering mengalaminya sendiri. Bepergian, seperti juga tugas liputan luar kota untuk program SILA ini, seolah seperti melakukan perjalanan di dalam diri.

Di tempat yang cukup berjarak dari rutinitas dan tekanan kerja kantor, aku merasa lebih punya waktu. Waktu untuk berpikir, merenung, mengevaluasi, mempertimbangkan pilihan-pilihan yang pernah kuambil, merancang pilihan-pilihan baru, dan memutuskan hal-hal yang selama ini terabaikan.

Sebagai Producer di Divisi News TransTV, aku harus menciptakan suasana di mana seluruh crew SILA merasa bebas untuk berkreasi dan berkarya. Aku juga harus mendorong agar mereka memunculkan seluruh kemampuannya, tidak setengah-setengah, dan tidak mudah puas dengan hasil liputan yang asal jadi saja. Namun, aku juga harus tahu batas. Aku tak boleh berlebihan mendesak mereka, untuk melaksanakan tugas-tugas yang tidak lagi proporsional dengan kemampuan dan ketahanan mereka.

Ujian itu muncul dalam perjalanan menuju tugu peringatan, ketika kami masih di kaki bukit. Gambar tugu itu sebenarnya bisa diambil dari kejauhan, tapi hasilnya pasti tidak memuaskan. Namun, untuk mengambil gambar dari jarak dekat, kami harus mendaki bukit yang tampaknya cukup curam. Entah, berapa lama dan kesulitan apa yang akan kami peroleh, jika tetap mau mendaki bukit itu.

Kami bertanya ke seorang ibu petani kentang, berapa lama harus berjalan kaki mendaki, untuk bisa bisa sampai ke tugu. “Setengah jam, Pak,” jawabnya. Setengah jam mendaki? Di tengah cuaca yang cukup panas ini? Hanya untuk mengambil sebuah gambar tugu, yang cuma akan muncul selama beberapa detik di layar kaca paket liputan Dieng? Lumayan berat.
Karena Komar adalah cameraman, tanggungjawab pengambilan gambar tertuju kepadanya, bukan ke Yossie atau Dian. Sebagai producer, sebetulnya aku punya otoritas untuk langsung memberi instruksi: “Mar, naik ke bukit, dan ambil gambar tugu itu! Itu tugasmu!” Tapi, itu bukanlah gayaku.

Yang keluar dari mulutku adalah: “Untuk mendaki ke atas, perlu jalan kaki setengah jam. Bagaimana pendapatmu, Mar?”

Aku lega dan bersyukur, Komar tidak menyerah pada tantangan. “Kita sudah jauh-jauh ke mari, Mas. Tanggung kalau kita pulang lagi, dan hanya mengambil gambar dari jauh. Kita naik saja.”

“Hmm, begitu, ya?” Aku sebenarnya punya kesimpulan yang sama. Namun, aku ingin penyikapan itu keluar dari mulut crew-ku, bukan sekadar karena mengikuti instruksi producer.
“Aku akan tanya Yossie dan Dian, apakah mereka mau ikut.”

“Aku dan Komar akan naik ke bukit untuk mengambil gambar. Kalau mau ikut, silahkan. Tapi, kalau kalian terlalu lelah dan mau istirahat di mobil, juga tak apa-apa,” kataku pada Yossie dan Dian, di dalam Suzuki APV yang kami sewa buat liputan.

“Saya ikut, Mas!” sahut Yossie, spontan. Aku tahu, Yossie adalah mantan atlet wushu tingkat nasional. Mendaki bukit jelas sekali tidak membuatnya gentar. Dian sendiri juga tidak mau ketinggalan.

Maka, kami berempat akhirnya mendaki bukit. Agar tidak membebani Komar, Dian dan Yossie dalam pendakian ini, sengaja aku memanggul tripod. Jalan yang kami lalui sebenarnya cukup lebar, tapi persoalannya terletak di kecuramannya itu. Kami mendaki pelan-pelan sekitar seperempat jam, dengan beberapa kali berhenti.

Akhirnya, tugu itu pun tampak. Ternyata lama pendakian tidak sampai setengah jam. Ada rasa lega, bahwa pendakian ini ternyata tidak seberat yang dibayangkan. Ibu petani kentang itu tampaknya kurang pas memperkirakan waktu. Kami pun mengambil gambar untuk liputan, ditambah sedikit foto untuk kenangan. Untunglah, Yossie selalu membawa kamera digital.

***
Mengapa kami harus bersusah payah mengambil gambar itu, hanya untuk beberapa detik tampilan di layar kaca? Bukankah, jika tak kami ambil gambar itu, tak akan banyak orang yang tahu atau perduli? Dan, paket liputan ini toh tetap akan jadi juga? Motivasi apa yang mendasarinya? Demi TransTV? Demi para pimpinan di TransTV? Demi rating dan share? Demi menjadi yang terunggul, dengan mengalahkan kompetitor kami di stasiun-stasiun TV lain?

Tidak. Bukan semua itu. Kupikir, motivasi sebenarnya adalah untuk kepuasan diri, bahwa kami telah memberikan yang terbaik dari diri kami. Rating, share dan kemajuan bisnis TransTV hanyalah implikasi dari kesediaan para crew ini untuk memberikan yang terbaik dari diri mereka.

Adalah kewajiban setiap orang untuk mengembangkan dirinya semaksimal dan seoptimal mungkin. Pengembangan diri itu akan terjadi jika ia menggali seluruh potensi dirinya secara total, lewat kreasi dan karya. TransTV hanyalah lahan tempat kami berkreasi, berkarya, mengembangkan dan mengekspresikan diri. Apa yang telah dilakukan para crew-ku di SILA itu menunjukkan, mereka punya komitmen untuk memberikan yang tebaik. Semangat inilah yang seharusnya diapresiasi dan dihargai.

Aku tidak akan menghina anak-anak muda di program SILA ini dengan mengatakan, bahwa mereka di TransTV cuma sekadar “numpang hidup” dan “cari nafkah,” dan karena itu bisa diperlakukan seenaknya oleh manajemen. Tidak. Ucapan semacam itu akan merupakan penghinaan, yang secara tak langsung juga mencerminkan kualitas orang yang melontarkannya.

Akan kuberi sebuah ilustrasi. Dalam film laga mandarin “Fist of Legend,” tokoh utama yang diperankan Jet Li bertarung tangan kosong melawan karateka terbaik Jepang, yang diperankan oleh Yasuaki Kurata. Sesudah pertarungan yang berjalan imbang, terjadilah dialog yang bersahabat di antara mereka.
“Apa sebenarnya tujuan belajar kungfu?” tanya Yasuaki Kurata.
“Untuk mencapai kemenangan?” jawab Jet :Li, agak ragu.
“Bukan,” bantah Kurata. “Kalau cuma sekadar ingin menang, kau tak perlu susah payah belajar kungfu. Kau bisa menggunakan pistol. Tujuan kungfu sebenarnya adalah memaksimalkan energi!”

Memaksimalkan energi! Itulah kuncinya. Seperti seorang pendekar kungfu, seorang jurnalis juga menghadapi berbagai tantangan dan persaingan. Tantangan dan lawan-lawan yang tangguh itu berfungsi untuk memancing keluar seluruh potensi dan sumberdaya terpendam dalam diri kita. Maksimalkan seluruh kekuatanmu, leburkan seluruh dirimu di dalamnya. Tantangan tidak membuat kita lemah, tetapi –jika kita tetap bertahan— justru akan membuat kita lebih tangguh, lebih kuat, dan lebih percaya diri.

Namun, bukankah misi dan visi TransTV adalah untuk menjadi TV terunggul di Indonesia, dan mendapat rating tertinggi? Bukankah lembaga penentu rating, AC Nielsen, merupakan “dewa” yang harus kita sembah, dan laporan mingguannya menjadi “kitab suci” yang harus kita baca dan analisis tiap minggu? Itukah segala-galanya?

Kalau tujuannya CUMA ITU, kita tak perlu repot-repot membuat liputan bagus atau merancang program bermutu. Dengan biaya jauh lebih murah, kita bisa menyewa sekelompok teroris atau bajingan, yang cukup tega untuk menyabot dan membom studio-studio TV kompetitor kita.

Jika stasiun-stasiun TV pesaing kita tak bisa beroperasi, sudah pasti TransTV akan melenggang bebas tanpa tandingan. Tujuan tercapai. Selesai. Persis seperti ucapan Yasuaki Kurata pada Jet Li: “Untuk menang, kau tak perlu belajar kungfu. Dengan pistol, kau bisa menang dan membunuh musuh-musuhmu!”

Tapi bukan itu. Bukan seperti itu yang kita inginkan. Dengan tulisan singkat ini, aku cuma mau bilang: Manusia adalah aset TransTV yang terpenting, khususnya di Divisi News. Mereka harus diperlakukan secara manusiawi, dihargai, diapresiasi, dan dihormati. Ini seharusnya menjadi komitmen kita semua, khususnya bagian manajemen dan jajaran pimpinan.
Rating, share, iklan, uang, dan sebagainya itu penting. Namun, itu bukan segala-galanya. Terutama, jika kita masih menghargai para karyawan dan jurnalis di TransTV ini sebagai manusia, yang punya hati, punya perasaan, punya jiwa, sama seperti kita semua.


Depok, Mei 2005

Kupersembahkan untuk seluruh karyawan dan jurnalis Divisi News TransTV,
khususnya untuk para crew SISI LAIN:

Dedi Suchyar
Rasyadian M. Putra
Eko Darmawan
Komarudin
Ahmad Syakur
Sugiarti Andika
Marlia Yossie
Dian Kencana Dewi

Aku percaya, mereka semua adalah rajawali-rajawali. Dan sangkar emas tidak akan mengubah mereka menjadi burung nuri.

Comments

chai said…
aktualisasi diri :)

terima kasih Pak, sangat menginspirasi
guns said…
beuh mantep bapak satu ini, mantep gan moga2 bisa ketemu kapan2

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI