LIPUTAN TENTANG LINGKUNGAN DAN PERLINDUNGAN SATWA LIAR DI MEDIA TV

Oleh Satrio Arismunandar

Agaknya banyak orang akan sepakat, jika dikatakan bahwa lingkungan hidup adalah masalah penting, karena berkaitan dengan masa depan bumi kita dan kelangsungan hidup umat manusia yang ada di bumi. Dalam jangka yang lebih dekat, isyu lingkungan berkaitan dengan nasib anak cucu kita, karena merekalah yang akan mewarisi langsung berbagai masalah lingkungan dan langkah solusi yang kita lakukan sekarang.

Namun, jarak antara retorika dan praktek, ternyata cukup jauh. Hal ini terlihat jika kita memantau liputan media massa di Indonesia. Dari segi kuantitas, isyu lingkungan jarang diangkat dan kalah dengan isyu politik, sosial-ekonomi, kriminalitas, hiburan, mistik, dan sebagainya. Sebagai praktisi media televisi, dalam tulisan ini penulis akan lebih menyorot liputan lingkungan umumnya, dan masalah perlindungan satwa liar khususnya, di media televisi.

Penulis mencoba melakukan survei kecil, dengan mengamati program acara yang ditayangkan oleh empat stasiun televisi utama, yang melakukan siaran nasional, yaitu Indosiar, RCTI, SCTV, dan Trans TV. Empat stasiun TV ini dipilih, karena berdasarkan nilai rating lembaga AC Nielsen, empat stasiun TV inilah yang saat ini menduduki posisi teratas.

Pengamatan ini dilakukan pada periode 2 – 8 Februari 2004, atau dalam rentang waktu seminggu, yang mencakup seluruh hari dalam seminggu itu (Senin sampai Minggu). Dengan cara ini, diasumsikan pilihan ini akan cukup representatif untuk menggambarkan variasi program di setiap stasiun TV.

Pengamatan ini menghasilkan sesuatu yang mengejutkan, sekaligus memprihatinkan. Ternyata, penulis tak menemukan satu pun program yang secara spesifik atau eksklusif menyangkut isyu lingkungan hidup, apalagi soal pelestarian satwa liar. Ada beberapa catatan menyangkut hasil ini:

Pertama, program lingkungan itu mungkin tidak ditayangkan setiap minggu. Bisa jadi, program itu hanya ditayangkan dua minggu sekali, sebulan sekali, atau ditayangkan secara non-periodik, dan kebetulan pada periode yang disurvei oleh penulis, program lingkungan itu memang sedang tak ditayangkan sama sekali. Dalam praktek di stasiun-stasiun TV, sudah menjadi hal biasa jika suatu program diubah, digeser waktunya, atau dicabut sama sekali, karena dinilai tak memenuhi target rating. Hal itu juga berlaku untuk program tentang isyu lingkungan.

Kedua, dengan kondisi seperti disebutkan di atas, bukan berarti isyu lingkungan sama sekali tidak terangkat. Bisa jadi isyu lingkungan itu sudah tercakup dalam liputan berita harian, meski tidak mendapat porsi istimewa. Berita yang menyangkut kebakaran hutan, bencana banjir, tanah longsor, penyitaan satwa liar terlarang, dan sebagainya ditayangkan di segmen News tersebut.

Kurang bersifat preventif dan sekadar memenuhi kewajiban

Dari pengamatan kasar tersebut, sudah terlihat betapa minimnya liputan tentang isyu lingkungan di media televisi. Hanya satu-dua program yang jelas-jelas mengangkat isyu lingkungan. Kalaupun ada isyu lingkungan yang diangkat, isyu lingkungan itu lebih banyak diangkat sebagai bagian dari program berita umum (berita pagi, siang, atau sore/malam). Jarang terjadi, isyu lingkungan yang diangkat secara khusus.

Ironisnya, isyu lingkungan biasanya baru terangkat jika sudah terjadi bencana alam, kecelakaan, atau kerusakan lingkungan (banjir bandang, tanah longsor, kebakaran hutan, pencemaran sungai, meledaknya pabrik bahan kimia, dan sebagainya). Jadi, seolah-olah harus menunggu ada kasus dulu, sebelum isyu itu diangkat.

Dalam kasus perlindungan satwa liar, berdasarkan pengamatan sekilas selama ini, yang banyak diangkat adalah peristiwa penggerebekan rumah warga yang menyimpan satwa liar, penyitaan satwa liar, atau penggagalan penyelundupan satwa liar di pelabuhan/bandara. Dengan kata lain, liputan yang isinya bersifat preventif (mencegah terjadinya kerusakan lingkungan, mencegah perburuan satwa liar, dan sebagainya), masih jarang dilakukan.

Hasil pengamatan lain, program lingkungan biasanya ditayangkan di “jam-jam sepi” penonton, bukan prime time (sekitar pukul 18.00 – 22.00) sehingga sifatnya seolah-olah lebih sebagai pengisi waktu. Serta, sekadar “memenuhi kewajiban moral” stasiun TV, untuk menyajikan juga tayangan yang bersifat informatif dan edukatif, tidak semata-mata program entertainment (hiburan) yang memang sudah mendominasi.
Hal lain yang perlu dicatat, program-program televisi tentang isyu lingkungan di stasiun-stasiun TV swasta kita umumnya bukan dibuat oleh stasiun TV itu sendiri, namun dibeli dari luar negeri. Misalnya, program tentang dunia satwa.

Faktor-faktor yang mempengaruhi liputan lingkungan

Ada beberapa faktor, yang menyebabkan minimnya program di stasiun televisi kita tentang isyu lingkungan atau perlindungan satwa liar. Penulis tidak memahami persis berbagai kendala yang ada di tiap stasiun TV. Namun, berdasarkan pengalaman di Trans TV, penulis memperkirakan faktor-faktor itu sebagai berikut:

Isyu lingkungan / perlindungan satwa liar dianggap kurang sexy. Inilah salah satu alasan yang membuat isyu lingkungan kurang terliput. Liputan politik (kasus korupsi Akbar Tandjung, bursa calon presiden, bentrokan antar-pendukung partai, dan sebagai), gosip selebritis (kasus selingkuh Elma Theana, problem rumah tangga Desy Ratnasari, dsb) dianggap lebih menarik dan bisa dijual.

Isyu lingkungan baru dianggap sexy jika terjadi bencana lingkungan, yang menimbulkan korban (banjir bandang di Bohorok, Sumatra Utara; atau ledakan pabrik bahan kimia Petrowidada di Gresik, Jawa Timur). Atau ada unsur action (penggerebekan oleh aparat terhadap rumah warga yang memelihara satwa liar terlarang). Jadi, liputan tentang konferensi pers atau seminar lingkungan, betapapun materi konferensi pers atau seminar itu dianggap penting, tak usah terlalu berharap untuk ditayangkan, karena membosankan dan tidak menarik (gambar kurang dinamis, hanya orang bicara).

Isyu lingkungan dipandang kurang meningkatkan rating, dan karena itu kurang mendatangkan iklan. Bagi media televisi, yang hidup-matinya tergantung pada pemasukan iklan, soal rating (jumlah penonton televisi yang menyaksikan program bersangkutan) dan pendapatan iklan sangat menentukan. Karena pemasang iklan biasanya lebih berminat pada program yang memiliki nilai rating tinggi, maka stasiun TV berlomba-lomba menayangkan program semacam itu.
Maka, kita bisa melihat di hampir semua stasiun TV nasional kini ditayangkan acara musik dangdut (Digoda, Kawasan Dangdut), tayangan mistik (Dunia Lain, Gentayangan), dan kriminalitas (Patroli, Buser, Sergap). Sementara, liputan lingkungan dianggap kurang berperan dalam meningkatkan rating.

Liputan isyu lingkungan yang serius biasanya mahal dan menuntut banyak sumberdaya. Dalam iklim persaingan yang ketat saat ini, stasiun-stasiun TV berusaha mengefisienkan penggunaan anggaran untuk liputan. Liputan yang relatif murah, mudah dilaksanakan, dan berpotensi meningkatkan rating, lebih diutamakan. Dalam hal ini, liputan isyu lingkungan yang serius dianggap memerlukan biaya yang besar.

Untuk meliput masalah kehutanan atau satwa liar di cagar alam, misalnya, perlu biaya transportasi dan akomodasi yang cukup tinggi, karena lokasinya tak mudah dijangkau. Selain itu, liputan tersebut menuntut pendedikasian peralatan (kamera, mobil, dan sebagainya yang berisiko rusak/hilang), serta sumberdaya manusia (reporter, camera-person, sopir) untuk jangka waktu yang cukup lama, tidak cukup satu-dua hari. Sementara, hasilnya juga belum bisa dipastikan.

Padahal, pada saat yang sama, ada kebutuhan mendesak untuk melakukan liputan harian, yang sudah pasti akan ditayangkan. Sementara, ada keterbatasan alat, mobil operasional, anggaran, dan sumberdaya manusia. Dengan pertimbangan efisiensi, penghematan, kepraktisan, dan hasil kerja yang lebih pasti, umumnya stasiun TV akan kurang memprioritaskan liputan tentang isyu lingkungan.

Karena pertimbangan itu pula, stasiun TV cenderung membeli program lingkungan hidup dari luar negeri, yang jelas lebih murah, daripada harus memproduksi sendiri. Risikonya, kasus-kasus yang diangkat lebih banyak menyangkut masalah lingkungan di negeri-negeri lain, yang mungkin tidak persis sama atau relevan dengan problem lingkungan dan perlindungan satwa liar di Indonesia. Namun, hal ini masih lebih baik ketimbang tidak ada sama sekali.

Beberapa saran yang dapat dilakukan

Untuk mengatasi berbagai kendala yang menyebabkan minimnya liputan tentang isyu lingkungan tersebut, perlu dilakukan sejumlah langkah. Langkah itu antara lain:

Melakukan kampanye tentang pentingnya isyu lingkungan ke berbagai stasiun TV. Yang menentukan ditayangkan-tidaknya suatu program adalah para producer dan pemilik media. Jika mereka tidak memiliki “kesadaran lingkungan”, sulit diharapkan isyu lingkungan akan terangkat. Oleh karena itu, para aktivis lingkungan dan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap pelestarian satwa liar, misalnya, harus rajin melobi, mendorong, dan meyakinkan para producer dan pemilik media, untuk mengangkat isyu ini.

Mengemas isyu lingkungan agar menarik dan layak ditayangkan. Para producer dan pemilik media TV adalah orang pragmatis. Mereka tidak anti-lingkungan. Kalau program lingkungan dapat dikemas dengan menarik, dan diyakini dapat mengangkat rating, mereka dengan senang hati akan menayangkannya. Oleh karena itu, perlu diupayakan kerjasama antara lembaga donor dengan kalangan profesional media, untuk menghasilkan program-program lingkungan yang baik, dikemas menarik, dan layak-tayang, serta dapat ditawarkan ke stasiun-stasiun TV. Para aktivis NGO lingkungan juga harus pintar-pintar mengemas isyu lingkungan yang sedang diperjuangkan, agar ditayangkan oleh stasiun-stasiun TV.

Menggalang kerjasama antara NGO lingkungan/pelestari satwa liar dengan stasiun TV. Kerjasama semacam ini setahu saya pernah dilakukan antara NGO lingkungan, WWF Indonesia, dengan RCTI dan Trans TV. Kerjasama ini mudah dan tak butuh biaya mahal. WWF Indonesia, misalnya, telah memiliki banyak proyek lingkungan yang digarapnya di berbagai di berbagai wilayah Indonesia. Dalam hal ini, RCTI dan Trans TV diajak untuk meliput proyek lingkungan itu. Hasilnya ditayangkan kemudian dalam program yang sudah ada (News), tanpa perlu membuat program lingkungan tersendiri.

Dalam kerjasama ini, NGO lingkungan menyediakan akomodasi, berupa transportasi dan penginapan untuk 2-3 awak televisi, selama 3-4 hari di lokasi proyek. Kalau liputannya di hutan, tentu tak perlu menginap di hotel. Itu sudah cukup memadai. Awak TV tidak perlu diberi uang lagi, karena mereka sudah digaji oleh kantornya dan peliputan ini merupakan tugas dari producer, bukan proyek liar reporter/camera-person.

NGO lingkungan juga menyiapkan narasumber untuk diwawancarai (ini mudah, karena memang proyek garapan mereka sendiri), dan informasi lain yang terkait dengan proyek bersangkutan. Dalam kasus kerjasama WWF Indonesia dan Trans TV, proyek yang telah ditayangkan adalah pelestarian terumbu karang di wilayah Ujungkulon, Jawa Barat. Dalam kerjasama ini, Trans TV mendapat “bonus”, karena bisa menayangkan juga keindahan pantai di Ujungkulon sebagai daerah wisata potensial dalam segmen Wisata di Berita Trans Petang, meski program ini semula bukan bagian dari kerjasama dengan WWF Indonesia.

Kalau kerjasama ini bisa dilakukan oleh sejumlah stasiun TV dengan WWF Indonesia, mungkin hal serupa juga bisa dilakukan dengan berbagai NGO lingkungan lainnya, yang menangani pelestarian satwa liar. Mengapa tidak? Mungkin masih banyak hal lain yang bisa dilakukan. Namun, jika tiga langkah di atas ini saja kita laksanakan, sudah banyak perubahan akan terjadi dalam liputan lingkungan di media televisi Indonesia. ***

Februari 2004

* Satrio Arismunandar, News Producer di Trans TV. Pernah menjadi jurnalis di Harian Pelita (1986-88), Harian Kompas (1988-1995), Majalah D&R (1997-2000), dan Harian Media Indonesia (2000-2001). Semasa mahasiswa adalah anggota kelompok pencinta alam KAPA FTUI (1981-1989).

Comments

Sejahtera said…
kalo punya apapun berbentuk tulisan atau artikel yang berhubungan dengan "pemanfaatan media televisi dalam kampanye lingkungan hidup", saya sangat berharap anda dapat mengirimkannya kepada saya.
semua bisa dikirimkan ke: notorious_e17@yahoo.com

terimakasih atas responnya...

enggus fatriyadi-bengkulu
notorious_e17@yahoo.com

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)