SISI LAIN YANG "TAKUT SUKSES"



Oleh Satrio Arismunandar

Producer Program SISI LAIN

“Mas, sebaiknya kita jangan terlalu sukses. Nanti nasib kita seperti Fenomena, disuruh striping,” ujar seorang crew Sisi Lain kepada saya, beberapa bulan lalu. Saat itu, Sisi Lain adalah program mingguan, yang menampilkan features tentang berbagai sisi unik kehidupan, dan tayang setiap Selasa malam, pukul 23.30 – 24.00.

Perolehan rating dan share Sisi Lain, yang sudah menghias layar Trans TV sejak September 2004 ini, memang cukup lumayan. Beberapa kali kami memperoleh bonus, meski tidak sesering Fenomena. Fenomena, yang semula tayang mingguan dan dianggap sukses menangguk rating, sudah jauh-jauh hari disuruh striping.

Anda mungkin heran, mengapa ada yang takut sukses? Bukankah sukses itu justru sesuatu yang dikehendaki setiap orang? Tapi Anda harus memahami kondisi di Divisi News, sebelum bisa mengerti “ketakutan terhadap sukses” tersebut. Diukur dari jumlah program inhouse maupun durasinya, Divisi News Trans TV adalah yang terbanyak memberi kontribusi dibandingkan divisi news di stasiun-stasiun TV swasta lainnya (kecuali Metro TV tentunya, yang memang TV spesialis berita).

Nah, di Divisi News Trans TV, striping berarti tayang setiap hari, bekerja lebih banyak, jadwal kerja lebih ketat, dan waktu libur serta istirahat berkurang. Semua itu terjadi di tengah keterbatasan tim (jumlah crew kurang dan sulit menarik orang dari program lain, yang juga sudah kekurangan crew), kamera (sudah banyak yang rusak), mobil (jumlah mobil kantor terbatas, sedangkan uang taxi juga minimal), dan dukungan teknis lain.

Sangat mudah dipahami, dari sudut pandang crew, striping lebih banyak rugi ketimbang untungnya. Tapi kemajuan sebuah stasiun TV tergantung pada kerja kolektif dan kontribusi setiap orang di setiap program. Untuk mencapai sasaran strategis Trans TV, Sisi Lain juga harus memberi kontribusi. Kesadaran inilah yang membuat crew Sisi Lain toh bisa menerima, ketika akhirnya disuruh striping, Senin sampai Jumat, mulai 30 Januari 2006. Jam tayangnya juga diubah ke siang hari, pukul 13.30-14.00, sesudah program Ceriwis. Sementara berbagai keterbatasan yang ada, secara bertahap coba diatasi.

Berubah jam tayang berarti berubah pula segmen pemirsanya, dari penonton pria di tengah malam, ke penonton yang dominan wanita di jam siang.. Untuk tiga pekan pertama ini, Sisi Lain banyak menampilkan episode lama yang dikemas ulang (repackage), seraya melakukan liputan-liputan baru untuk tayang minggu-minggu berikutnya. Tapi kami tetap mempertahankan presenter lama, Olga Lydia.

Di jam tayang baru ini, perolehan Sisi Lain ternyata cukup baik, dari rata-rata rating/share 1.2/9.0 di pekan pertama, menjadi 1.4/10.0 di pekan kedua. Memang belum menjaring bonus, tetapi sebagai permulaan sudah menunjukkan prospek yang baik. Ini semua terjadi berkat dedikasi dan kerja keras seluruh crew Sisi Lain (Thanks, teman-teman semua!). Semoga, dengan berjalannya waktu dan makin dikenalnya keberadaan Sisi Lain oleh pemirsa, performance Sisi Lain akan makin memuncak! ***

Comments

tanpa nama said…
mnurut pndapat sy semua tayangan program berita TV trans Tv dipengaruhi oleh budaya populer dan tidak memberikan dampak apa2 bagi masyarakat yg diliput. seolah2 narasumber hanya seogok barang yg tak berharga dan memarjinalkan masyarakat kaum bawah. bahasan yg dipaparkan dalam tayangan sisi lain dan fenomena menurut sy,basi...!! sy pikir untk memproduksi isi pesannya kru jurnalis gak perlu berpikir berat, karena bisa ditebak perspektif yg dipakai untk menggambarkan realitas tersebut hanya diinjau dari fakta dilapangan,hal ini menurut sy yg menyebabkan tayangan program berita di trans tv bentuk-tanpa-makna.

pdhal jk digali lbh dalam realitas yg diliput bisa ditinjau dari berbagai perspektif dan sy pikir perlunya membangun opini yg teoritif bukan sekedar bdasarkan pengalaman sj.

dan yg mebuat sy sangat geram dan kesal adalah pd salah satu tayangan proggram Good News, bener deh... budaya populer&mermajinalkan masyarakat kaum bawah.
bayangkan pemberitaan mengenai kehidupan PSK dijadikan lawakan dan dipaparkan dengan menonjolkan sisi sihuran... wake up man.. itu foto realitas masyarakat kita.

salut buat tayangan Infotaiment Trans TV>> Insert Investigasi<< pd dasarnya sy bukan pecinta tayangan ini tp melihat isinya yg berani mengungkapkan kebobrokan moral masyarakat kita... perlu juga.

to be continue.









dan bahasan yg gak perlu berpikir dalam untuk memaparkannya.

ingat... masyarakat kini sudah cerdas, membutuhkan sajian berita yang membuka wacana atau cara kita berfikir dalam memandang realitas kehidupan.

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)