ARTI PENTING MEDIA MASSA


Tak bisa dipungkiri bahwa perang antara Israel dan Hizbullah telah menjadi fokus pemberitaan berbagai media massa di seluruh dunia. Secara objektif dari pendekatan jurnalistik, agresi Israel yang memakan banyak korban dan praktis telah menutup peluang perdamaian di Timur Tengah ini, memang layak dijadikan berita utama. Namun, bukan sekadar itu. Disadari atau tidak, selama proses perang yang berlangsung beberapa minggu, media massa sendiri sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perang tersebut.

Dalam suatu peperangan atau konflik militer, yang memerlukan penggalangan dukungan moral, ekonomi dan politik dari publik, keberadaan media massa sangat penting untuk fungsi komunikasi politik. Ada beberapa aspek dari media massa yang membuat dirinya penting.[1]

Pertama, daya jangkaunya (coverage) yang amat luas dalam menyebarluaskan informasi politik, yang mampu melewati batas wilayah (geografis), kelompok umur, jenis kelamin, status sosial-ekonomi (demografis), dan perbedaan paham dan orientasi (psikografis). Dengan demikian, masalah politik yang dimediasikan menjadi perhatian bersama di berbagai tempat dan kalangan.
Kedua, kemampuan media untuk melipatgandakan pesan (multiplier of message) yang luar biasa. Satu peristiwa politik dapat dilipatgandakan pemberitaannya, sesuai jumlah eksemplar koran, tabloid, dan majalah yang dicetak; serta pengulangan penyiarannya (di radio atau televisi) sesuai kebutuhan. Pelipatgandaan ini menyebabkan dampak yang sangat besar di tengah khalayak.

Ketiga, setiap media massa dapat mewacanakan sebuah peristiwa politik sesuai pandangannya masing-masing. Kebijakan redaksional setiap media menentukan bentuk tampilan dan isi beritanya. Karena kemampuan inilah, media banyak diincar oleh pihak-pihak yang ingin memanfaatkannya.

Keempat, dengan fungsi penetapan agenda (agenda setting) yang dimilikinya, media massa memiliki kesempatan yang luas untuk memberitakan sebuah peristiwa politik. Sesuai dengan kebijakan masing-masing media, setiap peristiwa dapat disiarkan atau tidak disiarkan. Yang jelas, belum tentu berita politik yang menjadi agenda media adalah juga agenda publik.

Kelima, pemberitaan peristiwa politik oleh suatu media biasanya berkaitan dengan media lainnya, sehingga membentuk rantai informasi (media as links in other chains). Hal ini akan menambah kekuatan tersendiri pada penyebaran informasi politik dan dampaknya terrhadap publik. Maka makin kuatlah peranan media dalam membentuk opini publik.

[1] Dikutip dari kata pengantar Harsono Suwardi dalam Ibnu Hamad. 2004. Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa. Jakarta: Granit, hlm. xv-xvi.

Satrio Arismunandar

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI