BIAS DALAM PEMBERITAAN MEDIA


Oleh Satrio Arismunandar

Faktor-faktor kepentingan ekonomi, politik, dan ideologis, disadari atau tidak, dapat menghasilkan pemberitaan yang bias terhadap etnis, ras, kebangsaan, atau kewarganegaraan tertentu. Sebagai contoh, sebuah studi yang diselenggarakan Sonoma State University, Amerika, menunjukkan bias yang meluas dalam laporan-laporan kantor berita Associated Press (AP) mengenai konflik Palestina-Israel.[1]

Alison Weir, Joy Ellison, dan Peter Weir dari organisasi If Americans Knew telah mengadakan riset tentang laporan berita AP, mengenai konflik Israel-Palestina. Studi tersebut merupakan analisis statistik atas berita-berita AP selama tahun 2004, dengan melihat jumlah kematian warga Israel dan Palestina yang dilaporkan AP. Secara spesifik, tim peneliti mengamati berita utama (headline) dan paragraf pertama (lead) liputan, untuk menentukan apa yang sebenarnya akan dibaca oleh rata-rata khalayak pembaca.

Studi itu menunjukkan, ada korelasi yang kuat antara peluang kematian seseorang diberitakan oleh AP dengan kebangsaan (kewarganegaraan) dari orang bersangkutan. Pada tahun 2004, ada 141 laporan tentang kematian orang Israel dalam headline dan lead berita AP. Padahal, faktanya hanya ada 108 orang Israel yang tewas. Perbedaan angka ini terjadi karena ada kematian yang diberitakan lebih dari satu kali. Sementara itu, pada periode yang sama, jumlah kematian orang Palestina yang diberitakan AP ada 543. Padahal kenyataannya, pada periode tersebut ada 821 warga Palestina yang terbunuh.

Rasio jumlah sebenarnya orang Israel yang tewas dibandingkan jumlah orang Palestina yang tewas pada tahun 2004 adalah 1 : 7. Namun, AP lebih banyak memberitakan kematian orang Israel dibandingkan kematian orang Palestina, dengan rasio 1 : 2. Dengan kata lain, AP melaporkan 131 persen kematian orang Israel, sementara pada saat yang sama AP hanya melaporkan 66 persen kematian orang Palestina.

Hal serupa dapat dikatakan tentang berita kematian anak-anak di AP. AP melaporkan sembilan kali tentang kematian anak-anak Israel di headline dan lead beritanya pada tahun 2004. Padahal yang meninggal hanya delapan anak Israel. Pada periode yang sama, AP hanya melaporkan 27 kematian anak Palestina, padahal kenyataannya ada 179 anak yang tewas.
Meskipun faktanya ada 22 kali lipat lebih banyak kematian anak Palestina ketimbang kematian anak Israel, AP melaporkan 113 persen kematian anak Israel dan hanya melaporkan 15 persen kematian anak Palestina. Kematian anak Israel diberitakan 7,5 kali lebih banyak ketimbang anak Palestina.

Contoh lain dari bias pemberitaan media adalah fenomena media massa, yang seolah-olah memberi dukungan pada perang, tapi justru kurang mendorong ke arah perdamaian. Hal itu diungkapkan Amy Goodman, pembawa acara program Democracy Now! di jaringan Pacifica Radio, dalam wawancaranya dengan Majalah Newsweek.

Pada kesempatan itu, Goodman mengutip hasil studi kelompok pemerhati media di New York, Fairness and Accuracy in Reporting, pada 2003.[2] Yakni, sebelum AS menyerbu Irak dengan dalih Irak menyembunyikan program senjata pemusnah massal (WMD = weapons of mass destruction). Organisasi ini melakukan studi terhadap program siaran berita malam di empat stasiun televisi Amerika, yaitu: CBS, NBC, ABC dan PBS’s NewsHour dengan Jim Lehrer.
Ternyata dari 393 wawancara televisi, yang dilakukan dengan topik seputar perang, hanya ada tiga narasumber yang mewakili kubu antiperang! Bayangkan, cuma tiga dari hampir 400 narasumber.

Dari temuan itu, Goodman menyimpulkan, media televisi Amerika tampaknya memiliki sudut pandang dan agendanya sendiri, dan mendorong kebijakan pemerintah ke arah yang tidak mewakili aspirasi mayoritas atau arus besar (mainstream) warga Amerika. Media Amerika, kata Goodman, “praktis bertindak sebagai juru bicara pemerintah, dan itu tak bisa dimaafkan.”

Dari berbagai uraian dan contoh di atas, jelas terlihat bahwa potensi terjadinya bias atau manipulasi dalam pemberitaan media cukup besar. Meski demikian, dengan segala keterbatasannya, peran media massa sangat vital, khususnya pada saat terjadi konflik militer dan politik. Media massa dapat menjadi alat yang efektif untuk memobilisasi dukungan politik dan dukungan publik bagi pihak sendiri, dan pada saat yang sama media tersebut dimanfaatkan untuk memojokkan pihak lawan.

Maka, memenangkan perang media ini tidak kalah pentingnya dibandingkan perang secara militer dengan bom, roket, tank dan pesawat tempur. Bahkan, artinya bisa jadi jauh lebih penting, karena baik pihak Hizbullah maupun Israel sama-sama menyadari bahwa pertempuran militer semata tidak akan menjamin kemenangan penuh untuk pihaknya sendiri ataupun kekalahan total di pihak lawan.

Fakta lapangan di Lebanon membuktikan hal ini. Meskipun dibombardir habis-habisan dan menderita banyak korban, selama tetap bertahan dan mampu melawan, Hizbullah bisa mengklaim kemenangan moral dan kemenangan politis atas Israel. Bahkan opini umum di Lebanon, Arab dan negara-negara lain yang mayoritas penduduknya Muslim telah mengangkat tinggi citra Hizbullah.

Perbedaan Syiah dan Sunni terbukti tidak menjadi penghalang bagi masyarakat Islam di seluruh dunia untuk mendukung posisi Hizbullah. Sejumlah warga malah sempat berkomentar: “Ternyata bukan militer nasional Lebanon atau militer negara Arab lain, yang sanggup menghadapi mesin-mesin perang canggih Israel, tetapi justru gerilyawan Hizbullah!”

Meningkatnya popularitas Hizbullah ini adalah sesuatu yang tidak dikehendaki para perencana operasi Israel dan AS, karena mereka melihat Hizbullah bukan semata-mata sebagai sebuah “organisasi teroris” biasa, tetapi juga kepanjangan dari pengaruh Republik Islam Iran dan Suriah di kawasan Timur Tengah. Itulah sebabnya, Israel dan AS begitu ngotot untuk melenyapkan Hizbullah. Namun, seperti juga pertandingan sepakbola, jalannya permainan tidak selalu bisa dikontrol sesuai skenario awal, sekalipun pembuat skenario itu adalah Israel dan AS.

[1] People’s Weekly World – Newspaper Online, 29 Juli 2006. Lihat di http://www.pww.org/article/articleview/9578/1/332
[2] “’Access of Evil’. Q&A: Did U.S. Media Beat the War Drums?” dalam Newsweek, 22 April 2006.

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI