CYBER-WAR ANTARA ISRAEL VS. HIZBULLAH


Oleh Satrio Arismunandar

Perang di dunia maya atau cyber-war antara Israel versus Hizbullah, dengan para sekutu dan simpatisan masing-masing, bukan cuma dalam bentuk upaya mempengaruhi isi wacana chatroom dan menang-menangan suara di berbagai polling pendapat umum. Namun, perang informasi itu telah beranjak ke serangan terhadap situs Web atau institusi pengelola situs itu sendiri.

Cyber-war antara Israel vs. Hizbullah pada Juli-Agustus 2006 hanyalah salah satu episode dari perang panjang, yang sudah dimulai sejak tahun 2000. Meskipun perang di dunia maya ini tidak mengalirkan darah dan tidak perlu mengorbankan jiwa, seperti perang antarmiliter biasa, cyber-war ini melibatkan banyak orang dengan gairah bertarung yang sama kuatnya.

Ribuan kaum muda Israel dan Arab tampaknya terlibat dalam kontes ini. Masing-masing saling mengirim e-mail yang isinya kasar, rasis, dan kadang-kadang berbau pornografi ke pihak lawan. Sedangkan, di antara teman dan kubu mereka sendiri, mereka berbagi informasi tentang alamat-alamat situs lawan yang harus diserang, disertai petunjuk sederhana tentang bagaimana cara menembus dan melumpuhkan benteng elektronik pihak lawan.

Sebagai salah satu masyarakat dunia yang paling melek-komputer, Israel memiliki keunggulan yang besar. Di Negara Yahudi itu ada 1,1 juta pelanggan Internet, atau lebih banyak ketimbang seluruh pelanggan Internet dari 22 negara Arab digabung menjadi satu.[1] Namun keterhubungan (connectedness) Israel yang fenomenal itu juga bisa berarti kerawanan, karena banyak sekali target di Israel yang bisa diserang via Internet. Dan pihak Arab juga sudah menemukan cara-cara untuk menyerang balik.

Ini bermula pada Oktober 2000. Waktu itu, situs Hizbullah telah diterobos oleh para hacker Israel. Jika situs itu dibuka, yang muncul di layar adalah gambar bendera bintang segi enam Israel, teks Hebrew (Ibrani), dan suara denting piano, yang menyanyikan Hatikva, lagu kebangsaan Israel.

Ujung tombak para hacker Israel, yang didukung oleh ribuan “pejuang keyboard” berusia belasan tahun, melancarkan serangan Internet-nya ke situs Hizbullah dan situs-situs dunia Arab lainnya, seiring dengan pecahnya aksi kekerasan di dunia nyata antara Arab dan Israel. Jadi, peserta cyber-war ini tidak harus hacker kelas tinggi yang berkualifikasi pakar.

Tetapi, pihak Arab yang marah karena kecolongan, berhasil menyerang balik. Serangan ini tampaknya dipimpin oleh para prajurit-cyber pro-Palestina, yang berdomisili di AS. Dalam serangan balik yang terkoordinasi dan berkesinambungan itu, situs-situs militer Israel, Kementerian Luar Negeri, Perdana Menteri dan parlemen, antara lain, sempat sempoyongan dihantam dengan ratusan ribu –mungkin bahkan jutaan—sinyal elektronik yang tidak bersahabat.

Peristiwa ini merupakan perang skala penuh pertama di cyberspace antara Arab dan Israel. Cyber-war ini menghabiskan banyak uang dan sumberdaya manusia. Pihak Israel mengakui, bukannya sibuk menangani soal uang itu, para pakar tekniknya malah sibuk melindungi situs-situs web Israel.

Enam tahun kemudian, seiring dengan pertempuran di dunia nyata, cyber-war berulang lagi. Sekelompok hacker Muslim telah melumpuhkan 750 situs web Israel, sebagai pembalasan atas aksi militer Israel terhadap pemerintahan Hamas di Palestina, Juni 2006.[2] Kelompok warga Maroko, yang menyebut diri “Team-evil”, telah mengubah halaman web beberapa ratus situs, sebagai aksi dukungan pada rakyat Palestina di daerah pendudukan Israel.

Sejumlah bank dan rumah sakit pun menjadi sasaran serangan hacker. Di layar homepage situs mereka, muncul tulisan: “Anda membunuh rakyat Palestina, (maka) kami membunuh servers Israel.” Kampanye ini rupanya didukung di Inggris oleh para pengikut ulama Omar Bakri Mohammad, dengan mengeluarkan pernyataan: “Israel adalah kanker, Islam adalah jawabannya.”

[1] Baca http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/articles/A21154-2000Oct26.html
[2] “Hamas crisis sparks cyber-war”, lihat http://www.neildoyle.com/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=382

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI