KISAH SEEKOR RAJAWALI - Oleh Satrio Arismunandar


AKU lahir di Semarang, 11 April 1961. Lulus dari SMAN 14, Jakarta Timur (1980), Jurusan Elektro Fakultas Teknik Universitas Indonesia (1989), dan menyelesaikan Program S-2 Pengkajian Ketahanan Nasional (PKN) Universitas Indonesia, Agustus 2000. Tesis S-2-nya berjudul "Peran Pers Mahasiswa dalam Gerakan Mahasiswa 1998: Studi Kasus Buletin Bergerak! Menjelang Berhentinya Presiden Soeharto.” Pada September 2005 sampai Februari 2007, aku mengikuti Program EMBA (Executive MBA) yang diselenggarakan Asian Institute of Management (AIM) Filipina bekerjasama dengan Grup PARA.

Sebagai mahasiswa S-1, aku pernah aktif di Badan Perwakilan Mahasiswa FTUI, Ikatan Mahasiswa Elektro, pencinta alam Kamuka Parwata (KAPA) FTUI, Resimen Mahasiswa Batalyon UI, Suratkabar Kampus Warta UI, ISAFIS (The Indonesian Student Association for International Studies), dan kepengurusan Masjid Arief Rachman Hakim UI di kampus Salemba. Pernah mengikuti masa penerimaan calon anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), 1981, tapi tak selesai.

Di dunia jurnalistik, aku pernah menjadi penulis cerpen, freelance (1981-1986), jurnalis Harian Pelita (1986-1988), Harian Kompas (1988-1995), Majalah D&R (1997-Maret 2000), dan Asisten Ketua Litbang Media Indonesia (Maret 2000 – Maret 2001). Pernah juga meliput Perang Teluk di Irak (1991), serta konflik di Balkan dan Bosnia-Herzegovina (1992 dan 1994). Terakhir menjadi news producer di Trans TV (sejak Februari 2002).

Sesudah pembreidelan tiga media –Tempo, DeTik dan Editor—pada 21 Juni 1994, aku bersama sejumlah teman jurnalis muda mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada 7 Agustus 1994. AJI secara tegas memperjuangkan kebebasan pers, menolak pembreidelan dan menentang represi dari rezim Soeharto. Padahal, saat itu organisasi resmi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang diakui Pemerintah justru menjadi alat penguasa, untuk mengontrol pers dan menindas jurnalis.

Karena aktivitasku itu, ditambah menjadi salah satu pimpinan DPP SBSI (Serikat Buruh Sejahtera Indonesia), aku bersama rekanku Dhia Prekasha Yoedha dipaksa mundur dari Harian Kompas pada Mei 1995. Namaku pun masuk dalam daftar black-list rezim Soeharto, sehingga tak ada satu media pun yang berani secara terbuka mempekerjakan aku. Selama periode black-list itu, aku sepenuhnya aktif sebagai Sekjen AJI (1995-1997). Kompensasi dari Kompas cukup untuk nafkahku, yang masih bujangan waktu itu.

Ketika pecah peristiwa 27 Juli 1996, yaitu penyerbuan ke markas PDI Megawati di Jl. Diponegoro, Menteng, serta kerusuhan dan pembakaran sesudahnya, aku berada di dekat lokasi itu. Kemudian terjadi gelombang penangkapan terhadap para aktivis oleh aparat militer/intel rezim Soeharto, dimulai dari penangkapan aktivis PRD. Aku pun ikut “menghilang” selama beberapa bulan, menghindari risiko penangkapan. Gara-gara itu, kuliah S-2-ku di PKN-UI terganggu, dan baru bisa kuselesaikan tahun 2000. Aku baru muncul kembali ke permukaan setelah aksi penangkapan aktivis mereda.

Melalui keterlibatanku di Forum Wacana UI, aku sempat ikut aktif mendukung gerakan mahasiswa 1998 di UI, hadir di rapat-rapat mereka, menjelang jatuhnya Soeharto. Aku bilang “ikut aktif”, karena waktu itu statusku adalah mahasiswa S-2 di UI, bukan lagi S-1. Aku sempat menginap di gedung MPR/DPR Senayan bersama ribuan mahasiswa, pada hari-hari terakhir sebelum berhentinya Soeharto waktu itu.

Kemudian aku mendirikan Yayasan Jurnalis Independen (YJI) bersama sejumlah teman pendiri AJI pada tahun 2000, yang menerbitkan buletin media watch Telisik. Mereka adalah: Hasudungan Sirait (ex-Bisnis Indonesia), Rien Hindryati (the Asian Wallstreet Journal), Roy Pakpahan (ex-Suara Pembaruan), Dadang Rachmat Hs (ex-DeTik), dan Dhia Prekasha Yoedha (ex-Kompas). Sementara karirku di Media Indonesia tidak berlanjut, karena aku dituding sebagai "aktor intelektual' di balik upaya mendirikan serikat pekerja pers di grup penerbitan tersebut. Padahal aku sebelumnya sudah dijanjikan akan diangkat jadi karyawan penuh dan diberi jabatan Redaktur Iptek.

Di era pasca Soeharto, sesudah beberapa kali pindah kerja, aku akhirnya menjadi News Producer di Trans TV (sejak Februari 2002). Di Trans TV, aku pernah menangani program Berita Trans Pagi dan Berita Trans Petang (2002-2003), Hitam-Putih (2003), Perjalanan Islam di Indonesia (2004), Sisi Lain (2004-2006), Cerita Sore (2006), Reportase Investigasi (2006), dan Fenomena (2006-2007).

Di dunia akademis, aku tak pernah memanfaatkan ilmuku sebagai insinyur elektro. Tapi malah pernah menjadi Dosen Tamu di Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-UI (1993), D-3 Ilmu Komunikasi UI (2004), dosen Public Relations di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Kawula Indonesia, Jakarta Timur (2001), dosen S-1 Ekstensi Ilmu Komunikasi FISIP UI (2005), dosen Pasca Sarjana (S-2) Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) 2005-2006, peneliti Forum Wacana UI (1999-2000), dan peneliti Yayasan API (2001). Terakhir, menjadi redaktur jurnal ilmiah Paskal dan Jurnal Ilmu Politik, serta Ketua Komisi Advokasi dan Pengabdian Masyarakat, Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) 2002-2005 dan anggota Komisi Publikasi AIPI (2006-2009).

Karyaku berupa buku yang pernah diterbitkan: Bergerak! Peran Pers Mahasiswa dalam Penggulingan Rezim Soeharto (Penerbit Genta Press, Yogyakarta, 2005); Megawati, Usaha Taklukkan Badai (Ditulis bersama Agus Harimulyana, Penerbit Mboro Kinasih, Jakarta, 1999); Di Bawah Langit Jerusalem (Penerbit Yayasan Abu Dzarr al-Giffari, Jakarta, 1995); dan Catatan Harian dari Baghdad (Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1991).

Aku juga menjadi kontributor tulisan untuk buku: Saddam Melawan Amerika (Penerbit Pensil-234, Jakarta, 2003); Panduan Parlemen Indonesia (Penerbit Yayasan API, Jakarta, 2001); Indonesia Masa Transisi: Persepsi Media Indonesia & Australia (Australian Studies Centre Publishing, Jakarta, 2001); Pers dalam “Revolusi Mei”: Runtuhnya Sebuah Hegemoni (PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2000); 5 th Aliansi Jurnalis Independen: Tetap Independen! (Aliansi Jurnalis Independen, Jakarta, 1999); 48 Profil Ketua Umum Parpol RI (PT Kreasi Karya Wiguna dan Penerbit Nias, Jakarta, 1999); Suara Mahasiswa Universitas Indonesia: Menyelamatkan Indonesia (Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1999); Broadcasting in Asia (The Alliance of Independent Journalists & Institute for The Studies on Free Flow of Information, Jakarta, 1997); Perubahan Tanpa Gejolak: Menuju Sidang Umum MPR-RI (Upaya Warga Negara, Jakarta, 1997); Kebebasan Cendekiawan, Refleksi Kaum Muda (Yayasan Bentang Budaya dan Pustaka Republika, Yogyakarta, 1996); Issue dan Igauan dari Salemba II (Badan Otonom Economica FEUI, Jakarta, 1995); Agama, Demokrasi, & Keadilan (PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993); Palestina: Solidaritas Islam dan Tata Politik Dunia Baru (Pustaka Hidayah, Jakarta, 1992); Menegakkan Demokrasi: Pandangan Sejumlah Tokoh dan Kaum Muda Mengenai Demokrasi di Indonesia (Yayasan Studi Indonesia, Jakarta, 1989); Kesaksian Kaum Muda (Yayasan Studi Indonesia, Jakarta, 1988).
Manila, 21 Februari 2007

Comments

Yo said…
Wah..oom, ternyata pengalaman sampeyan setumpuk, apalagi dengan menulis begitu banyak buku dan turut dalam pergerakan macam-macam. Salut. Menarik sekali, dan perlu belajar. Ingin link blog ini, tapi aku banyak nulis sastra. Aku simpan saja di bookmark.

Salam,
Yo
www.blue4gie.com
ikadewiana said…
Hai Mas Satrio,

Ini Ika. Ika Dewi Ana. Dulu pernah ketemu waktu Mas Satrio masih di Harian Pelita, dan kita sama-sama jadi pemenang Karya Tulis Kedirgantaraan Indonesia, 1986. Dulu masih SMA, sekarang sudah tua. He. He. Buku catatan saya barusan diterbitkan Mas Taufik Rahzen, judulnya "Tuntutlah Ilmu Sampai ke Nippon".

Kebetulan saja google nama kawan-kawan lama, dan nemu blog ini.

Selamat, salam, dan doa dari Nijmegen.

Ika Dewi Ana
Anonymous said…
Hallo mas. Bagaimana EMBA nya? kita pernah satu kelas ngebahas beberapa kasus di AIM, Manila :)
Sukses untuk project mba, kerja dan kiprahnya di dunia jurnalistik..

Cita- MM 2007
Anonymous said…
Mas Satrio,

Salam dari junior mu..
KAPA FTUI

nandan
NR 912
loper said…
Jurnalis emang tulisannya selalu bagus, salam buat pak AKU.
stwbod said…
Satu alasan saya beli Kompas! Membaca catatan politik Jurnalis Senior, Pak Satrio!
Bertemu blog ini, rasanya tak perlu mbeli Kompas...heeheh

Satu pertanyaan? Apakah Bapak di blog ini bertindak komunikatif sebagai journalist profesional atau seorang citizen journalist?

sambil menunggu jawaban, saya mengucapkan terima kasih. Bertemu blog ini, membuat saya amat exited!

wassalam

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)