Resensi Buku - CERITA DETEKTIF TANPA PEMBUNUHAN

Judul : Detective Diary
Penulis : Yokie
Penerbit : GagasMedia, Jakarta
Cetakan : Cetakan I, 2004
Tebal : viii + 227 halaman

Sebuah tawaran alternatif. Itulah kesan pertama, dengan terbitnya buku Detective Diary (DD) ini. Ketika pasar buku kita didominasi oleh komik-komik detektif terjemahan dari Jepang, seperti Detektif Kindaichi dan Detektif Conan, kehadiran buku pertama karya Yokie (21) ini patut disambut positif. DD memang bukan buku komik. Namun, struktur isinya sangat mirip pola komik Kindaichi atau Conan. Dua komik ini, yang edisi terjemahannya diterbitkan oleh PT. Elex Media Computindo, sudah beredar puluhan jilid.

DD berisi 12 kasus terpisah, dengan pemeran utama dan sebagian peran pembantu yang sama. Sebagai tokoh “detektif” di buku ini adalah Javit Adityo, pemuda bertubuh kecil, berkacamata minus, dan mahasiswa Fakultas Hukum di sebuah universitas di Depok, Jawa Barat. Tampaknya Javit adalah personifikasi dari Yokie sendiri, yang saat ini kuliah di Fakultas Hukum UI angkatan 2001.

Yokie sudah mulai menulis dan membuat komik sejak SD. Namun, baru pada awal 2003 lalu, ia mulai menulis naskah DD, setelah sebelumnya menjadi penulis tetap cerita detektif di buletin kampus Iqro. Meski tak disebutkan dalam pengantar bukunya, sebagian besar isi buku ini tampaknya merupakan kumpulan dari kasus-kasus lepas, yang pernah ia tulis di Iqro.

Pilihan untuk memaparkan 12 kasus pendek dalam satu buku, mungkin memudahkan dalam teknis penulisan, ketimbang menulis satu novel panjang yang utuh. Pilihan Yokie ini juga cocok untuk jenis pembaca yang tak punya waktu membaca novel panjang, tetapi ingin membaca “kasus-kasus pendek, yang cepat terungkap dalam 10-20 halaman.”

Berbeda dengan komik Kindaichi atau Conan, Yokie tidak mengungkap pelaku dan menganalisis kasus di setiap akhir episode. Namun, semua “analisis dan jawaban kasus” ditaruh di bab terakhir buku. Yokie di sini seperti menantang pembaca untuk menganalisis kasus. Lalu. jika pembaca tak sanggup memecahkannya, mereka boleh melihat “kunci jawaban” di bab terakhir buku.

Tiada motif yang jelas

Bagi pembaca yang mengharapkan kasus tegang dan dramatis, atau kasus yang berdarah-darah, akan kecewa membaca buku ini. Dibandingkan Kindaichi atau Conan, yang hampir selalu menangani kasus gawat seperti pembunuhan, tak ada kasus pembunuhan di DD. Hanya ada satu kasus bunuh diri, satu usaha bunuh diri, satu ancaman bom, dan satu ancaman pembunuhan dari seorang teman, yang ternyata psikopat.

Mungkin tidak adil, jika kita menuntut Yokie menampilkan kasus-kasus yang terlalu berat dan kompleks, karena ia menulis karyanya ini sendirian. Sebagai perbandingan, komik Kindaichi, misalnya, ditulis oleh tiga orang: Yozaburo Kanari, Fumiya Sato, dan Semaru Amagi. Mereka juga didukung oleh tim riset dan ilustrator handal. Sehingga kasus-kasus Kindaichi bukan saja canggih dan kompleks, tetapi juga menunjukkan keluasan jenis kasus dan setting ceritanya.

Keterbatasan Yokie ini membuat sejumlah kasus yang diangkat di DD terkesan sangat spesifik. Artinya, jika pembaca tidak memiliki latar belakang seperti Yokie, mungkin akan merasa sulit memecahkannya. Sejumlah kasus juga terkesan kurang masuk akal dan agak dipaksakan.

Dalam kasus ancaman bom di kampus, misalnya. Tak dijelaskan, bagaimana si pembuat bom –yang notabene adalah Billy, teman Javit sendiri-- bisa membujuk seorang gelandangan tua yang sakit-sakitan dan sebelah matanya buta, untuk mau berperan sebagai pemasang bom, tanpa membuka identitasnya sendiri terhadap si gelandangan. Billy jelas mengambil risiko yang tak perlu. Lalu, juga tak ada penjelasan yang masuk akal, bagaimana gelandangan tua itu bisa mati karena sakit di tahanan polisi, “pada waktu yang tepat” sebelum polisi berhasil mengorek keterangan tentang pembuat bom yang sebenarnya.

Dalam cerita detektif, hal penting yang tak boleh dilupakan adalah motif si pelaku. Namun elemen mendasar ini tak terungkap sama sekali dalam kasus “Menik Menikmati Mati”. Mahasiswa Menik bunuh diri di kamar mandi tempat indekosnya. Tapi tak pernah jelas, mengapa ia bunuh diri. Juga, mengapa ia harus merepotkan diri, mengatur proses bunuh diri yang begitu rumit, dengan melenyapkan pisau yang digunakan untuk menusuk tubuhnya? Apa bedanya bagi Menik, jika pisau itu ditemukan atau tidak ditemukan oleh polisi? Pernyataan “Menik mati demi kesenangan” sangat absurd, karena Menik tak pernah digambarkan sebagai orang yang menderita gangguan jiwa.

Dari segi perwajahan, kulit muka buku ini cukup menarik dan terkesan ngepop. Namun, penyuntingan buku ini masih kurang cermat. Di halaman 18, misalnya, ditulis: Kota dengan luas lebih dari 600 km.. (seharusnya 600 km persegi).
Yang juga masih harus dibenahi adalah alur cerita dan narasi, yang terasa tersendat-sendat. Banyak alinea yang mubazir dan mengganggu kenikmatan membaca. Hal ini terjadi karena penulis tampaknya ingin memasukkan terlalu banyak hal, dan terpengaruh oleh pola penceritaan komik.

Dalam struktur komik, yang mengandalkan bahasa gambar, memang bisa diselipkan satu-dua ilustrasi sebagai selingan, agar cerita bergambar itu tidak terasa monoton. Namun, dalam buku, yang sepenuhnya mengandalkan deskripsi berdasarkan pilihan kata dan kalimat, selingan semacam itu malah mengganggu alur cerita dan mengaburkan fokus.

Bagaimanapun, sebagai upaya menyajikan alternatif lokal, karya perdana Yokie ini patut dihargai. Masih banyak peluang bagi Yokie, sebagai penulis muda yang sedang berkembang, untuk menyempurnakan penggarapan kasus, setting dan karakterisasi tokoh di karya-karyanya mendatang. ***

* Satrio Arismunandar, penggemar cerita detektif.

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)