Resensi Buku - KETIKA BARA IRAK MENGGELEGAK


Pengarang : Trias Kuncahyono
Judul : Dari Damascus ke Baghdad
Penerbit : Penerbit Buku Kompas, Jakarta, Februari 2004
Jumlah hlm : xviii + 266 hlm

Pengarang : Trias Kuncahyono
Judul : Bulan Sabit di Atas Baghdad
Penerbit : Penerbit Buku Kompas, Jakarta, April 2005
Jumlah hlm : xxvi + 284 hlm

Pengarang : Trias Kuncahyono
Judul : Irak Korban Ambisi Kaum “Hawkish”
Penerbit : Penerbit Buku Kompas, Jakarta, Juli 2005
Jumlah hlm : l + 266 hlm

Konflik internasional yang mendominasi pemberitaan media massa sejak 2003 hingga sekarang tak pelak lagi adalah konflik di Irak. Mulai dari penyerbuan ilegal (tanpa dukungan resolusi PBB) oleh pasukan Amerika Serikat dan Inggris, 19 Maret 2003, jatuhnya ibukota Baghdad, disusul pendudukan militer di Irak, semua berlangsung cepat. Namun, perang yang sebenarnya justru baru dimulai kemudian, sesudah rezim Saddam Hussein jatuh, dengan bangkitnya perlawanan rakyat terhadap pasukan pendudukan yang dipimpin AS.

Dalam kaitan perkembangan di Irak khususnya dan Timur Tengah umumnya, tiga buku karya Trias Kuncahyono, wartawan senior dan Redaktur Pelaksana Harian Kompas ini bisa dibilang terbit pada momen yang tepat. Trias tidak menyebut karyanya sebagai “trilogi,” namun mungkin bisa kita perlakukan demikian. Rasanya kurang lengkap, jika hanya membaca satu tanpa membaca yang lain.

Buku pertama, Dari Damascus ke Baghdad, bukan merupakan analisis politik ketat tentang konflik di sana. Namun, lebih merupakan laporan jurnalistik, yang disertai dengan perenungan berwawasan historis-budaya. Separuh buku ini membahas negara tetangga Irak yang juga didominasi Partai Baath, Suriah.

Buku kedua, Bulan Sabit di Atas Baghdad, membahas proses jatuhnya Irak ke tangan pasukan gabungan pimpinan AS, penangkapan Saddam, dan kondisi negeri itu sesudah tamatnya rezim Saddam. Sedangkan buku ketiga, Irak Korban Ambisi Kaum Hawkish, memaparkan berbagai propaganda, strategi, dan latar belakang keputusan AS untuk menyerbu Irak. Serta, yang terpenting, prospek masa depan Irak.

Pendudukan Irak oleh pasukan asing telah menimbulkan berbagai implikasi, baik terhadap rakyat Irak sendiri, maupun terhadap pasukan pendudukan. Operasi yang oleh para perencana militer AS semula dibayangkan akan berlangsung cepat dan mudah, ternyata berubah menjadi neraka. Menundukkan dan mengatur rakyat Irak ternyata jauh lebih berat daripada menundukkan Saddam. Asumsi bahwa jika Saddam tertangkap maka perlawanan akan berhenti, terbukti keliru besar.

Ancaman disintegrasi

Perlawanan rakyat sekarang justru makin menghebat dan terorganisasikan dengan baik. Di luar puluhan atau ratusan ribu rakyat Irak yang tewas (angka persisnya sulit terdata) sejak invasi 2003, jumlah pasukan AS yang tewas sendiri sampai Agustus 2005 ini sudah melampaui 1.820 orang. Militer AS tidak siap dengan agenda rekonstruksi pasca invasi.

Dalam bukunya, Trias mengungkapkan, negara dan masyarakat Irak telah mengalami suatu transformasi besar, dari suatu negara sekuler yang dipimpin secara otoriter oleh Saddam, menjadi suatu negara yang (maunya) demokratis. Namun, bagaimana persisnya wujud Irak di masa depan masih merupakan bayangan kabur. Nyatanya, Irak yang kita lihat saat ini adalah negara yang remuk redam oleh konflik. Ledakan bom, pembunuhan, penculikan, dan kekerasan menjadi santapan sehari-hari.

Negeri dengan tiga etnis utama – kaum Sunni, Syiah, dan Kurdi – ini juga terancam mengalami disintegrasi, seperti telah terjadi pada Yugoslavia di Balkan. Kini Irak bagai bara atau lahar yang menggelegak.

Warga Syiah, etnis mayoritas yang tertindas di era Saddam, mulai menegaskan keberadaannya dengan menguasai parlemen dan pemerintahan. Namun, etnis Kurdi tidak mau menerima dominasi Syiah. Pihak Kurdi khawatir, kelompok Syiah akan mengarahkan Irak menjadi negara Islam, seperti Republik Islam Iran. Perdebatan tentang konstitusi Irak pasca Saddam, yang akan menentukan bentuk negara Irak masa depan, saat ini belum mencapai kata putus.

Di sisi lain, golongan Sunni, yang secara tradisional mendominasi politik Irak di era Saddam, merasa terancam dengan konstelasi baru ini. Karena tak mau disisihkan begitu saja, mereka melakukan pemboikotan politik, dengan tidak berpartisipasi dalam pemilihan umum Irak yang didukung AS. Kelompok Sunni inilah yang paling sengit menentang pasukan pendudukan AS.

Identifikasi Peran Islam

Penyerbuan dan pendudukan ilegal di Irak terkait dengan tiga kepentingan strategis AS di Timur Tengah. Pertama, mengamankan suplai minyak dari kawasan kaya minyak itu untuk kelangsungan ekonomi dan industri AS. Kedua, mengamankan dan melindungi kepentingan Israel, sebagai sekutu utama AS. Ketiga, melakukan penangkalan (containment) terhadap Irak dan Iran, dua negara yang belum mau tunduk pada AS. Namun, isu yang lebih penting bagi rakyat Irak adalah prospek masa depan negaranya.

Akankah Irak menjadi negara demokratis? Atau justru terjerumus dalam anarkhi tak berkesudahan, dan terpecah belah berdasarkan garis etnis dan agama? Trias cukup realistis ketika mengatakan, “…Yang pasti, demokrasi model AS tidak bisa begitu saja dipaksakan untuk diterapkan di Irak. Demokrasi tidak bisa muncul secara mendadak, secara tiba-tiba. Ia membutuhkan suatu proses…” (hlm. xlvi, buku ketiga).

Sinyalemen penting tentang prospek masa depan Irak dari Trias, adalah bahwa sistem pemerintahan demokratis hanya dapat hidup jika rakyat Irak memiliki keyakinan atau bahkan kepercayaan bahwa demokrasi dapat menjawab tiga tantangan fundamental. Yaitu, pemulihan keamanan, menjamin terpeliharanya persatuan nasional, dan mengidentifikasi peranan yang cocok bagi Islam dalam kehidupan politik (hlm. 182, buku ketiga).

Tiga buku yang terbit beruntun dari Februari 2004 sampai Juli 2005 ini, menggaribawahi keseriusan Trias, untuk tidak tanggung-tanggung dalam mengeksplorasi berbagai aspek dari konflik Irak. Trias, yang kebetulan lulusan Jurusan Hubungan Internasional Fisipol UGM, ini memang punya cukup bekal untuk melakukannya.

Berbeda dengan para pengamat di Indonesia, yang biasa mengulas hanya berdasarkan pemberitaan media massa, Trias telah mengunjungi daerah konflik dan merasakan “aura” konflik tersebut. Artinya, Trias memiliki sense dan perspektif berdasarkan pengamatan langsung di lapangan. Hal ini memberi warna dan aksentuasi khas pada tulisan dan ulasannya.

Kehadiran buku yang disunting secara cermat ini amat bermanfaat bagi kalangan jurnalis, akademisi, ataupun mahasiswa yang meminati politik Timur Tengah. Apresiasi perlu diberikan pada Trias, karena melengkapi bukunya dengan daftar pustaka, dari buku, koran, majalah, jurnal, bahkan sumber internet! Kalaupun ada yang bisa dikritik dari tiga buku ini adalah desain kulit mukanya yang terkesan konvensional dan konservatif. Meski begitu, pencantuman sejumlah foto di halaman dalam, diharapkan bisa menyegarkan pembaca dan mengurangi kesan berat dalam analisisnya. ***

* Satrio Arismunandar, News Producer di Trans TV. Pernah meliput Perang Teluk di Baghdad, Irak pada 1991, serta meliput ke Mesir, Libya, Yordania, Palestina/Israel, dan Iran.

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI