Resensi Buku - MEMBEDAH TERORISME HINGGA BOM BALI

Judul Buku : Terrorism, The New World War
Penulis : Llyod Pettiford & David Harding
Penerbit : Arcturus Publishing Ltd, Leicester, 2003
Tebal : 239 halaman

Di tengah banyaknya buku tentang terorisme, khususnya sejak serangan yang meruntuhkan gedung kembar World Trade Center (WTC) di New York, 11 September 2001, buku ini tampaknya termasuk yang paling baru. Terbukti, dalam bahasannya, ia sudah mencakup kasus ledakan bom di Legian, Kuta, Bali, 12 Oktober 2002, yang memakan korban lebih dari 200 jiwa dan sebagian besar warga asing.

Tampaknya ada nuansa personal dan kemanusiaan, yang ikut mendorong penulisan buku ini. Dalam bukunya, Pettiford dan Harding menyebutkan rasa kehilangan, akibat tewasnya seorang kawan dalam serangan ke gedung WTC, serta tewasnya seorang kawan lain dari kawannya dalam kasus bom Bali.

Secara umum, buku ini bertujuan memberi pegangan yang cukup komprehensif tentang terorisme, dengan mengulas secara jelas sejarah aksi terorisme, evolusinya, dan munculnya terminologi terorisme tersebut. Paparan ini masih dilengkapi dengan biografi kelompok-kelompok teroris, individu teroris, dan rincian aksi teroris yang dilakukan perseorangan.

Dengan gaya bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, Pettiford dan Harding tidak menutup mata tentang kesulitan dalam mendefinisikan terorisme, dan siapa yang pantas disebut teroris. Seorang yang disebut teroris oleh satu pihak, mungkin akan disebut pejuang kebebasan oleh pihak lain. Sulit melihat hal ini secara hitam-putih.

Pemimpin Palestina, Yasser Arafat, yang dikutip di buku ini, menyatakan: “Perbedaan antara kaum revolusioner dan teroris terletak pada alasan yang mereka perjuangkan. Siapapun yang memiliki alasan yang benar, dan berjuang bagi kebebasan dan kemerdekaan tanahnya dari penjajah, pemukim dan kolonialis, agaknya tidak dapat disebut teroris.”

Persoalannya, bagaimana kita bisa merasa pasti bahwa kita adalah pihak yang benar? Yang “benar” itu bisa berbeda-beda, tergantung pada posisi atau prasangka seseorang. Yang “benar” itu bisa berarti: kapitalisme, sosialisme, Islam, anti-aborsi, anti-pemerintah, dan sebagainya. Pertanyaan lebih lanjut, andaikata alasan itu benar, apakah hal itu juga boleh dijadikan dasar untuk melakukan apa saja?

Terorisme Negara

Kerelatifan ini diperumit oleh kenyataan bahwa sejarah cenderung ditulis oleh mereka yang menang dan berkuasa. Dalam hal sejarah ini, tentu termasuk pula definisi tentang terorisme dan siapa yang pantas dimasukkan dalam daftar teroris.

Pettiford dan Harding membuat perumpamaan sederhana. Jika yang menjadi pemenang dalam Perang Dingin adalah Uni Soviet, dan bukan Amerika Serikat, sejarah jelas akan ditulis secara berbeda. Atau, jika kelompok Al-Qaeda menjadi pemenang dalam “perang melawan terorisme” yang dilancarkan Amerika, tentu serangan terhadap gedung WTC tidak akan disebut aksi terorisme. Contoh yang paling jelas adalah Nelson Mandela, yang oleh rezim apartheid Afrika Selatan pernah disebut sebagai teroris, tetapi kini ia diakui sebagai “bapak bangsa.”

Maka, untuk menghindari kerumitan definisi ini, secara sederhana penulis mendefinisikan aksi terorisme sebagai aksi serangan terhadap warga sipil. Meski definisi operasional ini terlalu umum dan mungkin kurang memuaskan, penulis menggunakannya untuk membuat uraian lebih lanjut.

Salah satu nilai plus buku ini adalah kedua penulis tidak terjebak pada definisi resmi Departemen Luar Negeri Amerika, yang seolah-olah menganggap terorisme hanya dilakukan oleh kelompok atau perseorangan. Terorisme diakui penulis, juga bisa dilakukan secara sistematis oleh negara, dan Amerika ikut bertanggungjawab dalam hal ini.

Kekurangan buku ini, penulis tampaknya masih setengah-setengah dalam uraiannya. Ketika membuat daftar kelompok teroris di Asia, yang dimasukkannya adalah: Liberations Tiger of Tamil Eelam (Sri Lanka), Harakat Ul-Mujahadin (Pakistan), Jaish e-Mohammed (Pakistan), Abu Sayyaf Group (Filipina), Islamic Movement of Uzbekistan (Uzbekistan), Kurdistan Workers Party (Turki), Revolutionary People’s Liberation Party atau Dev Sol (Turki), dan Japanese Red Army (Jepang).

Tidak ada uraian tentang Jemaah Islamiah (JI), padahal di ulasan tentang bom Bali, ia menyebut JI sebagai tersangka pelaku. Juga tak ada uraian tentang aksi kelompok komunis Filipina dan kelompok militan Sikh di India. Padahal penulis sendiri menyebutkan, “perjuangan kaum teroris di Asia sebagian besar berpusat di India” (hal. 75). Tidak ada penjelasan tentang kevakuman ini, apakah sekadar karena kekurangan data, atau karena kelompok-kelompok ini memang tidak dianggap penting.

Dengan beberapa kekurangan tersebut, bagaimanapun karya Pettiford dan Harding ini cukup menarik dan bermanfaat. Sistematikanya yang sederhana dan uraiannya yang runtun, akan memudahkan pembaca –yang relatif awam sekalipun—untuk memahami terorisme. Sebagai pegangan awal tentang terorisme, buku ini layak dibaca. ***

Satrio Arismunandar, alumnus Program Studi Pengkajian Ketahanan Nasional, Universitas Indonesia, dan pengurus pusat Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI).

Comments

Jafar G Bua said…
assalamu alaikum, mas rio

buku yang bagus benar. sayang, di palu, aku tak bisa mendapatkannya.

salam hangat dan hormat selalu

jgbua
koresponden trans tv palu sulawesi tengah
http://catatanposo.blogspot.com
Museum Biografi said…
resensi yang bagus.. saya coba untuk membacanya

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)