SERANGAN DIGITAL KE STASIUN TV HIZBULLAH

Oleh Satrio Arismunandar

Pada 31 Juli 2006, stasiun televisi Al-Manar milik Hizbullah menjadi korban serangan digital, yang membahayakan sinyalnya selama beberapa menit. Serangan dari pihak Israel ini terjadi, sewaktu siaran berita di Al-Manar sedang berlangsung. Siaran tiba-tiba terganggu dan gambar-gambar para pejuang Hizbullah yang tewas ditunjukkan di layar TV.

Sebuah pesan dalam bahasa Arab juga muncul di bawah gambar pemimpin Hizbullah dan tokoh Shiah Lebanon, Sheikh Hassan Nasrallah, yang isinya menuduh Nasrallah sebagai pembohong. Karikatur Nasrallah itu tampil, disertai keterangan gambar berbunyi: “Kamu tinggal menunggu hari” dan “Nasrallah, waktumu sudah habis. Kamu akan segera tidak bersama kami lagi.”

Menurut majalah online Israel, Ynetnews.com, serangan itu dilancarkan oleh Unit Intelijen militer Israel atau IDF (Israeli Defence Force), yang di masa lalu sudah beberapa kali berusaha melumpuhkan stasiun TV milik Hizbullah, tetapi belum pernah berhasil.[1] Struktur sistem siaran Al-Manar memang sangat rumit, sehingga sulit melaksanakan sebuah serangan yang langsung bisa menembus semua jaringan transmisi. Stasiun TV Al-Manar menggunakan tiga sinyal satelit: satu di satelit ArabSat, satu di Badr 3, dan satu lagi di NileSat.

Gangguan siaran tersebut bukanlah serangan pertama Israel yang sukses terhadap Al-Manar. Pada 13 Juli 2006, kantor utama stasiun TV itu hancur jadi puing-puing, akibat serangan udara Israel. Bukan hanya stasiun TV Al-Manar yang diserang. Banyak situs Internet milik Hizbullah dan Al-Manar juga menjadi sasaran para spesialis teknik Israel. Sejumlah halaman web di situs milik Hizbullah sempat mereka hapus.

Kantor utama Al-Manar pun segera dipindahkan ke lokasi baru yang dirahasiakan. Namun, upaya ini tidak bertahan lama. Transmisi Al-Manar kemudian diblok lagi, akibat sebuah serangan Israel yang lainnya. Kali ini, serangan itu tidak berbentuk pemboman dari udara, tetapi serangan lewat dunia maya.

Seminggu sebelum serangan terhadap Al-Manar, suratkabar Israel Maariv melaporkan, sebuah situs web bernama All 4 Lebanon telah menawarkan bayaran untuk info-info dari warga Lebanon, yang bisa membantu Israel dalam melawan Hizbullah. Situs itu tampil dalam tiga bahasa: Arab, Inggris, dan Prancis. Menurut Maariv, situs itu didirikan oleh militer Israel.

Namun, menghadapi manuver-manuver Israel, pihak Hizbullah dan para pendukungnya juga tidak tinggal diam. Ratusan situs web milik Israel dan AS telah diserang pada sekitar pertengahan Agustus 2006, sebagai protes terhadap aksi pemboman yang dilakukan Israel atas Lebanon. Sebagian besar dari penyusupan web itu berbentuk defacement, yaitu suatu penyusupan web di semua tingkatan, di mana sebuah halaman web milik pihak yang diserang diganti oleh pesan-pesan dari pihak penyerang.[2]

Menurut catatan situs Zone-H, jumlah serangan defacement telah meningkat terhadap situs-situs web milik pemerintah dan swasta AS. Di antaranya, serangan terhadap situs web Badan Antariksa Nasional AS (NASA), Universitas Berkeley, dan banyak situs militer lainnya.

Yang patut dicatat, serangan terhadap situs AS itu bukan cuma dilakukan oleh hacker dari Turki, Kuwait, Maroko atau kalangan komunitas Islam dunia. Mobilisasi yang terjadi sebenarnya lebih luas dari yang diperkirakan siapapun, dan ini mencakup orang dari berbagai latar belakang kebangsaan dan agama.

Misalnya, situs NASA diterobos oleh tim dari Amerika Selatan yang dikenal sebagai tim hackers Beyond. Mereka mengganti beberapa halaman web di situs NASA dengan pesan yang menentang perang. Bunyi pesan itu: “No war” (tolak perang). Para penyerang ini mengaku sebagai gabungan hackers dari Argentina, Chile, Kuba, Dominika, Meksiko, Jerman, dan Turki.

Sejumlah defacement, isinya mendesak segera dilakukannya intervensi, untuk menghentikan agresi Israel di Lebanon. Seruan dari hacker yang menyebut dirinya El-Muhammed, misalnya, memfokuskan pesannya pada kondisi keluarga-keluarga Palestina. Pesannya: “Uni Eropa dan PBB membisu terhadap (agresi Israel) ini. Jangan diam saja melihat penindasan ini! Jika ada orang yang berbuat sesuatu, ia disalahkan. Tetapi (ketika) Israel yang berbuat, mengapa semuanya diam…”

Prospek Cyber-War Mendatang

Perang informasi di dunia maya, antara kubu Hizbullah dan Israel, memberi gambaran kasar tentang prospek wujud perang di tahun-tahun mendatang. Bahkan cyber-war antara kedua pihak yang berseteru sengit ini patut dijadikan bahan kajian, dan mungkin juga bisa menjadi model bagi pola cyber-war mendatang. Kenyataannya, dunia kita kini memang semakin tersambung dalam jaringan (networked).

Meski sejauh ini tidak terlihat dampak yang sangat berarti dalam cyber-war antara Hizbullah versus Israel, bukan berarti cyber-war antara keduanya itu tidak penting. Bukan tidak mungkin, pada dasawarsa-dasawarsa mendatang, cyber-war akan mendominasi atau menggantikan bentuk perang konvensional yang mengandalkan piranti keras, semacam: pesawat tempur, kapal perang, tank, meriam, rudal, dan roket.

Alat utama sistem senjata (alutsista) kini sudah semakin terpadu dan terintegrasi, dalam suatu sistem cerdas yang dikontrol komputer. Sistem ini semakin canggih dan andal, tetapi di saat yang sama juga membuka peluang bagi serangan balik pihak lawan lewat jaringan komputer itu sendiri, yang bisa melumpuhkan pusat kendalinya. Bagi Hizbullah, Amal, Hamas dan kelompok-kelompok perlawanan yang harus berhadapan dengan kekuatan agresor Israel di lapangan, tentu perlu memantau perkembangan ini.

Karena sumber utama persenjataan Israel adalah dari AS, maka langkah-langkah AS juga perlu dicermati oleh Hizbullah. Apalagi AS sering bertindak di Timur Tengah lewat koordinasi erat dengan Israel.

Dalam dokumen Information Operations Roadmap[3] (Peta Operasi Informasi), yang ditulis para pejabat Pentagon pada 2003 dan ditandatangani Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld, digambarkan operasi-operasi seperti: petugas urusan publik, yang memberi arahan pada jurnalis; tentara operasi psikologis (psyops), yang mencoba memanipulasi pemikiran dan keyakinan pihak musuh; dan spesialis penyerang jaringan komputer, yang berusaha menghancurkan jaringan musuh.

Dalam konteks manipulasi media massa dan perang informasi, pada tahun 2005, juga terungkap bahwa Pentagon telah membayar sebuah perusahaan swasta, Lincoln Group, untuk menempatkan ratusan cerita di suratkabar-suratkabar Irak. Artikel-artikel itu –yang semuanya mendukung kebijakan AS—ditulis oleh personel militer dan kemudian dimuat di berbagai media cetak Irak. Selain itu, situs-situs web yang tampak seperti situs informasi biasa tentang politik Afrika dan Balkan, ternyata belakangan ketahuan dioperasikan oleh Pentagon.

Teknik pengecohan dan penggalangan opini yang dilakukan Pentagon semacam ini juga sering dilakukan Israel. Namun, Hizbullah tentu telah mengambil banyak pelajaran, dalam perangnya yang berhadapan langsung dengan pasukan Zionis Israel di Lebanon. Juga, dalam cyber-war melawan para prajurit cyber pro-Israel di dunia maya. ***

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI