TEKNIK OBSERVASI INVESTIGATIF


Oleh Satrio Arismunandar

Peliputan investigasi pada akhirnya melibatkan observasi langsung di lapangan. Inilah ukuran yang paling nyata dalam sebuah tugas jurnalistik. Untuk mengetahui seberapa jauh dampak kerusakan lingkungan terhadap penduduk sekitar akibat ulah sebuah pabrik bahan kimia, wartawan tidak cukup hanya dengan mewawancarai pemilik pabrik, pejabat pemerintah, atau sejumlah penduduk. Namun wartawan harus datang dan mengobservasi langsung pabrik tersebut dan lokasi sekitarnya yang tercemar.

Hasil observasi bisa tiga macam. Pertama, hasilnya sama dengan informasi sebelumnya, yang sudah diperoleh lewat wawancara, studi kepustakaan, dan sumber lain. Kedua, hasil observasi bersifat komplementer atau melengkapi informasi yang sudah ada dari sumber lain. Ketiga, hasil observasi bersifat kontras atau sangat berbeda dengan informasi yang sudah diperoleh sebelumnya.

Perbedaan-perbedaan ini bisa disebabkan berbagai macam faktor. Dalam melakukan observasi dengan pengecekan langsung di lapangan, seorang wartawan harus sadar akan adanya berbagai kepentingan dari sumber-sumber berita. Contohnya: Seorang pemilik pabrik berkepentingan untuk meneruskan keberadaan pabriknya, karena pabrik tersebut menghasilkan keuntungan yang besar untuknya walaupun limbah pabrik mencemarkan lingkungan sekitar. Karena itu, pemilik pabrik akan cenderung memberikan informasi yang mengecilkan skala dampak kerusakan lingkungan tersebut.

Sebaliknya, penduduk yang air sumurnya tercemar limbah pabrik berkepentingan untuk memperoleh perhatian dari pemerintah, agar pabrik itu segera diberhentikan operasinya dan agar diberi uang ganti rugi sebesar-besarnya. Maka ada kemungkinan ia mendramatisir dampak kerusakan lingkungan itu.

Teknik observasi itu sendiri secara garis besar bisa dibagi dua macam, yakni teknik observasi terbuka dan observasi tertutup. Masing-masing teknik memiliki kelebihan dan kekurangan.
Observasi terbuka. Dalam hal ini wartawan melakukan observasi secara terang-terangan, dan dengan mengungkapkan identitas pribadi maupun institusi media yang diwakilinya secara jelas. Wartawan tidak merahasiakan apapun kepada sumber berita, termasuk niatnya untuk menulis laporan investigatif dan masalah apa yang sedang diinvestigasi.

Observasi terbuka adalah bentuk observasi yang ideal dan paling bisa dipertanggungjawabkan secara jurnalistik. Ini adalah keunggulan dari teknik observasi terbuka. Orang yang dijadikan sumber berita tidak merasa dikecoh atau ditipu, dan jika mereka memberikan keterangan atau informasi maka informasi itu diberikan secara penuh kesadaran akan segala konsekuensinya. Jadi kualitas informasi yang diberikan itu betul-betul bisa dipertanggungjawabkan. Mereka juga bisa menuntut kepada wartawan dan media bersangkutan jika informasi yang dimuat tidak sesuai dengan informasi yang mereka berikan.

Dari sisi wartawan itu sendiri, ia juga akan lebih terpacu untuk meliput dan menuliskan hasil liputan investigatifnya seakurat mungkin dan sebaik-baiknya. Hal itu karena wartawan bersangkutan sadar, ada yang mengontrol keabsahan hasil liputannya dan ia harus mempertanggungjawabkan hasil liputan tersebut (prinsip akuntabilitas).

Carl Bernstein dan Bob Woodward, dua wartawan suratkabar The Washington Post, yang laporan investigatifnya memaksa Presiden Amerika Serikat Richard Nixon mundur dari jabatannya pada 9 Agustus 1974, melakukan investigasi dengan teknik observasi terbuka. Mereka tidak pernah menyembunyikan identitasnya atau suratkabar yang diwakilinya, ketika mencoba menggali informasi dari pejabat-pejabat yang dekat dengan Nixon.

Kasus Nixon ini terkenal sebagai Skandal Watergate. Lewat investigasinya, Bernstein dan Woodward berhasil menyingkap keterlibatan kubu Nixon dalam pembobolan data Partai Demokrat, yang kala itu menjagokan George McGovern sebagai kandidat melawan Nixon. Bernstein dan Woodward mengendus keterlibatan orang-orang penting di sekitar Nixon, yang mereka juluki all the President men. Lika-liku investigasi yang dilakukan kedua wartawan ini sudah dibukukan dengan judul All the President Men, sehingga bisa dipelajari oleh para wartawan yang ingin mempelajari peliputan investigatif.

Observasi tertutup. Dalam hal ini wartawan mengobservasi secara diam-diam. Ia tidak mengungkapkan identitas pribadi maupun institusi media yang diwakilinya secara jelas, bahkan merahasiakannya. DJ. Pamudji, seorang wartawan senior Harian Kompas, misalnya, pernah menyamar menjadi kenek truk angkutan barang. Hal itu dilakukan untuk menyelidiki praktek pungutan liar yang dilakukan aparat di jalan raya dan jembatan timbang.

Keunggulan teknik observasi tertutup adalah cara ini bisa digunakan untuk menyusup ke orang atau kelompok orang yang dijadikan obyek investigasi, sehingga wartawan bisa melihat atau mengalami langsung berbagai praktek penyelewengan yang diinvestigasi. Dalam hal ini, si wartawan harus piawai dalam menyamar atau mengecoh pihak yang diinvestigasi. Dalam kasus Pamudji di atas, kebetulan wartawan ini bertubuh kekar dengan warna kulit kehitam-hitaman, khas pekerja kasar, sehingga tidak mencurigakan.

Namun teknik observasi tertutup juga punya kelemahan. Pihak yang diinvestigasi akan merasa dikecoh dan ditipu, dan tentu akan ada risiko serta konsekuensi bagi wartawan jika ketahuan sedang melakukan “penyamaran.” Selain itu, ada problem etika. Apakah wartawan berhak menipu, mengecoh, dan melakukan praktek-praktek yang umumnya dianggap tindakan tercela –seperti misalnya, mencuri dokumen data milik sumber berita—demi kepentingan mengungkap kasus yang ia investigasi?

Ada dua pandangan mengenai kontroversi ini. Pandangan pertama menyatakan, tindakan menipu, mengecoh, menyamar, mencuri dokumen, atau hal-hal lain semacam itu boleh dilakukan apabila ada kepentingan publik yang jauh lebih besar, yang diperjuangkan oleh wartawan. Kasarnya, dibolehkan melakukan “dosa-dosa kecil” demi menghindarkan terjadinya “dosa yang jauh lebih besar.”

Sebagai contoh: Seorang wartawan menyelidiki kasus tewasnya sejumlah penduduk akibat keracunan air sumur di suatu wilayah. Air sumur itu menjadi beracun karena diduga tercemar limbah kimia dari sebuah pabrik di dekat situ. Dalam kondisi normal, masuk ke lingkungan pabrik tanpa izin dan mencuri data limbah pabrik adalah tindakan terlarang dan tidak etis. Namun jika wartawan bersangkutan mencoba menyelidiki pabrik terang-terangan dengan teknik observasi terbuka, jelas akan ditolak.

Maka dalam kasus ini, wartawan itu dibolehkan menyamar, masuk ke lingkungan pabrik tanpa izin, atau mencuri data limbah pabrik, demi mencegah makin banyaknya jatuh korban tewas di kalangan penduduk akibat keracunan.

Sedangkan pandangan kedua menyatakan, tindakan menipu, mengecoh, menyamar, mencuri dokumen, atau hal-hal lain semacam itu tegas tidak boleh dilakukan, meskipun ada kepentingan publik yang lebih besar, yang konon diperjuangkan oleh wartawan. Landasan dari pandangan kedua ini adalah, siapa yang bisa menilai bahwa tindakan wartawan itu betul-betul untuk kepentingan publik? Siapa yang akan mengontrol? Kemudian, apakah tidak kontradiktif bahwa dalam upaya menegakkan hukum dan kebenaran, wartawan dibolehkan melanggar hukum? Apakah ini bukan berarti tujuan menghalalkan cara?

Kebohongan kecil. Dalam praktek di lapangan, taktik-taktik tertentu digunakan untuk menggali informasi. Bahkan wartawan yang memilih melakukan observasi terbuka pun tak lepas dari kiat-kiat lapangan ini, termasuk “kebohongan kecil” untuk membuat narasumber mau membuka mulut. Namun “kebohongan kecil” ini tidak bisa disamakan tingkatannya dengan penipuan identitas dan pengecohan yang dilakukan dalam observasi tertutup.

Bernstein dan Woodward, ketika mewawancarai seorang pejabat bawahan Presiden Nixon, sengaja memberi kesan bahwa kedua wartawan Washington Post itu sudah tahu informasi tertentu dari sumber lain, sehingga wawancara dengan pejabat tersebut pada dasarnya hanya bersifat konfirmasi. Karena mengira informasi itu sudah di tangan pers dan sudah dibuka oleh narasumber lain, pejabat tersebut tidak melihat alasan untuk terus menyimpan informasi tersebut dan bersedia membuka mulut. Padahal informasi itu sebetulnya belum diketahui oleh Bernstein dan Woodward.

Meskipun bukan praktek jurnalistik yang ideal, dalam batas-batas etis, kiat-kiat menggali informasi semacam ini relatif masih bisa diterima. Praktek “memancing” semacam ini sebenarnya juga banyak dilakukan wartawan dalam liputan biasa sehari-hari, tidak hanya dalam liputan investigatif. ***

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)