TEKNIK PELAPORAN INVESTIGATIF

Oleh Satrio Arismunandar

Sebelum bicara tentang teknik pelaporan, harus disadari bahwa peliputan investigatif pada umumnya adalah kerja tim, bukan kerja perorangan. Tentu saja seorang wartawan mungkin saja melakukan investigasi seorang diri, tetapi akan sangat memakan energi dan waktu.

Faktor lain yang menyulitkan kerja perorangan adalah peliputan investigatif biasanya membutuhkan komitmen tenaga, waktu, dan mungkin juga biaya yang cukup besar. Selama investigasi, reporter bersangkutan dibebaskan dari tugas-tugas rutin lain dan harus terfokus pada kasus yang diinvestigasi. Sementara hasil dari investigasi itu sendiri belum bisa dipastikan. Hal yang membutuhkan banyak komitmen tanpa hasil yang pasti ini sulit dilakukan tanpa persetujuan dan dukungan pimpinan redaksi media bersangkutan.

Menyadari bahwa peliputan investigatif pada dasarnya merupakan kerja besar, pimpinan redaksi biasanya membentuk tim khusus untuk menjalankannya. Dalam kerja tim, sejumlah reporter akan dikoordinasikan oleh seorang redaktur yang ditugasi khusus untuk menginvestigasi kasus tertentu. Bisa jadi redaktur itu adalah redaktur kompartemen di bidang liputan terkait. Investigasi tentang penyelewengan dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia, misalnya, mungkin akan ditangani oleh redaktur ekonomi.

Redaktur membagi tugas di antara para reporter: Siapa mengejar informasi apa, di mana informasi itu dapat diperoleh, dan siapa yang harus diwawancarai. Sesudah tugas dibagi, redaktur memantau perkembangan peliputan, seberapa jauh kemajuannya, hambatan-hambatan apa yang dihadapi reporter di lapangan, dan bagaimana harus menembusnya. Para reporter secara teratur menyampaikan laporan tugasnya kepada redaktur.

Redakturlah yang kemudian memilah-milah informasi itu, mengaitkannya satu dengan yang lain, sehingga memperoleh gambaran yang utuh tentang kasus yang diinvestigasi. Bisa jadi informasi yang disampaikan reporter dianggap tidak relevan, sehingga tidak dipakai. Tetapi bisa jadi juga, reporter menemukan informasi baru yang sangat krusial, yang bisa mengubah arah penyelidikan keseluruhan. Semuanya tergantung hasil investigasi di lapangan.

Format penulisan laporan dari reporter ke redaktur bervariasi, tergantung kebutuhan dan keinginan redaktur. Penulisan laporan ini dapat mengacu kepada cara penulisan berita yang baku di dunia jurnalistik, misalnya, gaya penulisan straight news, bisa juga format deskriptif biasa, format kronologis, atau format wawancara.

Format Straight News. Straight news adalah berita yang lugas, singkat, tidak bertele-tele, langsung ke pokok persoalan dan fakta-faktanya. Straight news merupakan bentuk dasar penulisan berita, dan yang pertama diajarkan kepada para wartawan baru. Straight news biasanya harus memenuhi unsur 5 W + 1 H (apa, siapa, mengapa, kapan, di mana + bagaimana) secara ketat. Dilihat dari isinya, straight news bisa menjadi hard news jika isi tulisan itu bersifat “keras” dan menuntut harus segera dimuat demi aktualitas. Faktor waktu pemuatan menjadi penting di sini. Lawan dari hard news adalah soft news, di mana isi berita lebih “lunak” dan biasanya lebih tahan waktu.

Dilihat dari struktur penulisannya, straight news atau hard news biasanya ditulis dalam bentuk struktur “piramida terbalik.” Yakni, hal-hal yang terpenting ditulis paling awal, dan hal-hal yang paling tidak penting ditulis paling akhir. Dengan struktur penulisan semacam ini, pembaca biasanya sudah bisa menangkap substansi berita cukup dengan membaca satu-dua alinea pertama.

Format straight news ini digunakan jika redaktur menghendaki informasi spesifik tertentu, yang memang menjadi fokus tugas reporter bersangkutan. Misalnya, reporter ditugaskan untuk menginvestigasi, berapa persisnya jumlah uang yang diselewengkan oleh seorang pejabat di daerah tertentu, dari program jaring pengaman sosial hasil pinjaman dari Bank Dunia. Dalam hal ini, redaktur tidak mau repot-repot membaca informasi sampingan, yang bisa dibaca kemudian. Hal utama dan pertama yang ingin ia baca adalah fokus investigasi yang telah ditugaskan kepada reporter.

Format ini cocok bagi kepentingan dan keinginan redaktur, karena hal terpenting –besarnya jumlah uang yang diselewengkan—ditulis langsung di alinea pertama. Dengan format semacam ini, redaktur langsung bisa mengetahui, apakah reporter itu berhasil atau gagal menjalankan tugas yang ia berikan.

Format Deskriptif. Format ini berbentuk pemaparan akan suatu keadaan, kondisi, atau situasi, yang diperlukan untuk memberi ilustrasi pada permasalahan utama yang diinvestigasi oleh media bersangkutan. Misalnya, dalam investigasi kasus pencemaran lingkungan oleh sebuah pabrik, seorang reporter ditugaskan membuat laporan deskriptif tentang kondisi dan situasi desa, tempat pabrik yang diduga mencemarkan lingkungan itu berlokasi.

Berbeda dengan format straight news yang mengedepankan fakta atau informasi tertentu, dalam format deskriptif tidak ada fakta atau informasi tertentu yang ditonjolkan atau dianggap jauh lebih penting dari yang lain. Sifat deskriptif ini lebih datar dan merata.

Dalam kasus pencemaran lingkungan di atas, misalnya, reporter akan melaporkan secara runtun situasi dan kondisi desa setempat. Mulai dari air sumur penduduk yang menjadi berbau amis dan beracun, pohon-pohon yang gersang, dan ternak yang mati akibat minum air dari sumur itu. Dijelaskan pula, bagaimana penduduk harus mencari sumber air alternatif untuk kebutuhan sehari-hari. Ditambahkan pula informasi tentang atap seng rumah-rumah penduduk yang cepat keropos dan bocor, karena terkena debu kimia dari limbah asap pabrik.

Selain dampak fisik, bisa dilaporkan juga dampak sosial akibat keberadaan pabrik. Misalnya, mulai berkembangnya warung-warung yang menjual minuman keras untuk melayani buruh dan pegawai pabrik itu. Lalu juga munculnya praktek pelacuran, yang meresahkan para ulama dari pesantren di desa setempat, serta bentrokan fisik antara penduduk setempat dan karyawan pabrik. Dari laporan deskriptif ini, redaktur bisa memperoleh gambaran seberapa luas sebenarnya dampak kerusakan lingkungan terhadap kehidupan desa sekitar dan berbagai kerugian yang diderita penduduk akibat pencemaran dari pabrik.

Format Kronologis. Format kronologis antara lain digunakan untuk memaparkan proses berkembangnya suatu situasi dan kondisi, sehingga menjadi permasalahan yang patut diinvestigasi. Pelaporan berformat kronologis menempatkan fakta dan informasi itu dalam urut-urutan waktu, dan menunjukkan hubungan sebab-akibat yang berkesinambungan, sampai timbul permasalahan.

Misalnya, dalam kasus pencemaran lingkungan oleh sebuah pabrik, akan dirunut ke belakang sejak saat pabrik itu belum didirikan. Apakah proses pengalihan tanah penduduk menjadi tanah milik pabrik itu sudah benar dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku? Apakah ongkos ganti rugi terhadap tanah penduduk yang diambil pabrik waktu itu sesuai harga pasaran, atau harga ditekan terlalu murah lewat intimidasi aparat desa?

Apakah sebelum pabrik itu didirikan sudah dilakukan Amdal (analisis mengenai dampak lingkungan)? Tim dari universitas atau lembaga penelitian mana yang melakukan Amdal tersebut, dan apa rekomendasi yang diberikan tim itu? Apakah penduduk dan tokoh masyarakat setempat diajak berkonsultasi tentang rencana pendirian pabrik tersebut?

Mulai kapan ada gejala kebocoran limbah pabrik ke sawah dan air sumur penduduk? Apakah waktu itu penduduk melaporkannya ke pihak pabrik? Apa tanggapan pihak pabrik waktu itu? Apakah pihak pabrik melakukan tindakan teknis untuk mengetahui penyebab kebocoran dan menyekat kebocoran itu? Apa tanggapan pejabat pemerintah setempat dan aktivis organisasi nonpemerintah terhadap keluhan penduduk saat itu? Dan seterusnya.

Format Wawancara. Format wawancara biasanya digunakan jika tugas yang diberikan pada reporter adalah mewawancarai sumber-sumber tertentu, dan hasil wawancara itu akan dimuat dalam bentuk tanya-jawab. Jadi, informasi yang dihendaki redaktur bukanlah hasil pengamatan lapangan reporter bersangkutan (biasanya lebih cocok dengan format deskriptif), bukan penonjolan fakta tertentu (format straight news), juga bukan menekankan pada proses sebab-akibat hingga munculnya permasalahan yang diinvestigasi (format kronologis).

Pertimbangan lain penggunaan format wawancara adalah redaktur ingin “main aman.” Dalam penulisan laporan oleh reporter, tidak semua fakta dan informasi yang ia ketahui dituliskan dan dilaporkan ke redaktur. Fakta atau informasi yang dianggap tidak relevan atau tidak penting, disisihkan.

Namun tidak jarang, terdapat perbedaan persepsi antara redaktur dan reporter, tentang fakta dan informasi mana yang dianggap relevan dan penting, dan mana yang dianggap tidak penting dan oleh karena itu dapat disisihkan. Boleh jadi ada fakta atau informasi yang oleh redaktur dianggap relevan atau penting, tetapi oleh reporter sudah terlanjur disisihkan.

Untuk menghindari kasus semacam ini, redaktur meminta reporter menuliskan seluruh isi wawancara yang dilakukannya, baik yang dianggap penting maupun tidak penting, dalam format tanya-jawab seperti aslinya. Redaktur sendirilah nanti yang akan menyeleksi dan memilah-milah data mentah dari reporter tersebut. Laporan ini disebut “data mentah” karena relatif tidak mengalami proses pengolahan, seleksi, atau penyisihan oleh reporter. Reporter mentranskrip selengkapnya dan seutuhnya isi wawancara yang dilakukan. ***

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)