BANK UNTUK ORANG MISKIN

Oleh: Satrio Arismunandar

Krisis ekonomi dan berbagai kesalahan penanganannya telah menambah jumlah rakyat miskin di Indonesia. Untuk mengurangi jumlah rakyat miskin ini, Indonesia tak perlu mengikuti ”titah” Dana Moneter Internasional (IMF), yang anjurannya lebih banyak tidak nyambung dengan kondisi nyata rakyat kita. Sebaliknya, Indonesia mungkin justru harus belajar pada negara yang lebih miskin dari kita: Banglades!

Kok Banglades? Begini ceritanya. Seperti juga di Banglades, puluhan juta rakyat miskin kita tinggal di pedesaan, dan sebagiannya lagi terlibat dalam berbagai sektor usaha mikro. Untuk mengangkat taraf kehidupan mereka, perlu dukungan modal. Namun bank-bank yang ada enggan memberi kredit tanpa jaminan (collateral), misalnya: tanah. Padahal, persoalan rakyat miskin justru tiadanya kemampuan menyediakan jaminan tersebut.

Maka yang terjadi adalah lingkaran setan kemiskinan: pendapatan rendah—tabungan rendah—investasi rendah—pendapatan rendah (lagi)—dan seterusnya. Ujung-ujungnya, warga yang miskin tetap miskin, bahkan bisa makin miskin jika pengeluarannya tiba-tiba membengkak karena satu dan lain hal. Misalnya: terkena bencana alam, kecelakaan, menderita sakit parah, dan sebagainya.

Maka, pada 1976 Banglades mengembangkan konsep Grameen Bank, dengan misi melayani rakyat ”yang termiskin dari yang miskin.” Grameen dalam bahasa Bangla berarti ”desa.” Grameen memberikan kredit mikro tanpa jaminan apapun, dan mengklaim, jumlah yang membayar cicilan pinjamannya (repayment rate) mencapai 96-100 persen.

Landasan pemikiran Grameen adalah: Untuk bangkit dari kemiskinan, dan untuk melepaskan diri dari cengkeraman lintah darat dan perantara lain, para petani yang tak punya tanah perlu diberi akses kredit. Tanpa itu, mereka tak bisa diharapkan menjalankan usaha sendiri, meskipun usaha itu berskala sangat kecil.

Percaya pada kemauan

Grameen membuktikan, memberi pinjaman pada orang miskin bukanlah hal yang tak mungkin. Sebaliknya, pinjaman itu telah memberi peluang pada para petani yang tak bertanah, untuk membeli peralatan sendiri dan berbagai sarana produksi lainnya, guna menjalankan usaha-usaha yang menghasilkan pemasukan (income). Pemasukan ini dapat membebaskan mereka dari lingkaran setan kemiskinan. Dengan kata lain, kepercayaan pihak bank didasarkan pada kemauan dan kapasitas para peminjam, untuk sukses dalam usaha-usaha yang dijalankannya.

Grameen memulai operasinya dengan mendirikan cabang-cabang di pedesaan. Bank cabang ini melayani 15 sampai 22 desa. Para staf bank mengunjungi desa-desa itu, untuk mendata siapa saja yang layak dan berprospek jadi peminjam, serta menjelaskan tujuan, fungsi dan cara beroperasi bank itu pada penduduk setempat.

Lalu dibentuk kelompok-kelompok, yang anggotanya terdiri dari lima calon peminjam. Pada tahap pertama, hanya dua dari lima anggota itu yang dianggap layak dan menerima kredit. Kelompok itu kemudian diamati selama sebulan, untuk melihat apakah para anggotanya mematuhi aturan bank. Jika dua peminjam pertama itu mulai membayar cicilan modal plus bunganya dalam periode enam minggu, barulah tiga anggota lain dianggap layak menerima kredit. Dengan cara ini, tanggung jawab kolektif dari kelompok itu berfungsi sebagai jaminan atas pinjaman.

Walau jumlahnya kecil, kredit itu mampu membiayai usaha-usaha mikro dari para peminjam, yang merupakan aktivitas tradisional di pedesaan. Seperti: perbaikan mesin, membeli becak, membuat gerabah, menanam sayuran, dan lain-lain. Tingkat suku bunga untuk semua pinjaman adalah 16 persen.

Mayoritas (95 persen) dari 2,3 juta peminjam Grameen pada tahun 2000, adalah kaum perempuan yang tak punya jaminan untuk meminjam dari bank konvensional. Selain memberi kredit mikro, Grameen juga menawarkan latihan keterampilan, saran-saran di bidang kesehatan dan keluarga berencana, dan lain-lain. Grameen juga melancarkan Program Telepon Desa pada 1997, yang memberi peluang usaha bagi kaum perempuan pedesaan yang menjadi operatornya.

Berbagai studi independen kemudian menunjukkan, Grameen berhasil meningkatkan taraf kehidupan rakyat di pedesaan Banglades. Tentu saja, pengalaman Banglades ini tak bisa mentah-mentah dilaksanakan begitu saja di Indonesia. Tapi semangat keberpihakan mereka pada rakyat miskin, yang diwujudkan dalam program nyata, patut dijadikan pelajaran.

* Satrio Arismunandar, wartawan dan mahasiswa program EMBA di AIM (Asian Institute of Management), yang memfokuskan pada materi manajemen dengan budaya Asia.

Comments

Pipit said…
Pak Satrio Arsmunandar, saya sedang terkagum-kagum dengan Bapak Muhammad Yunus sejak membaca koran tanggal 16 Oktober 2006 yang lalu. Setelah membaca kolom ini di blog Bapak, pengetahuan saya tentang masalah ekonomi jadi bertambah. Saya bingung, bukannya Bung Hatta juga pernah merintis koperasi yang mirip dengan Bank Grameen? Mengapa buah pikiran Bung Hatta itu tidak signifikan bagi perekonomian Indonesia dan salahnya di mana ya? Menurut Bapak bagaimana?
Anonymous said…
tulisan bagus. boleh juga kalo dilengkapi dengan artikel Rheinald Kasali, dengan judul yang sama. :)
Lady Mia said…
KABAR BAIK!!!

Nama saya Aris. Saya ingin menggunakan media ini untuk mengingatkan semua pencari pinjaman sangat berhati-hati karena ada penipuan di mana-mana. Beberapa bulan yang lalu saya tegang finansial, dan putus asa, saya telah penipuan oleh beberapa pemberi pinjaman online. Saya hampir kehilangan harapan sampai Tuhan menggunakan teman saya yang merujuk saya ke pemberi pinjaman sangat handal disebut Ibu Cynthia meminjamkan pinjaman tanpa jaminan dari Rp800,000,000 (800 Juta) dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa tekanan atau stres dengan tingkat bunga hanya 2%.

Saya sangat terkejut ketika saya memeriksa saldo rekening bank saya dan menemukan bahwa jumlah yang saya diterapkan untuk dikirim langsung ke rekening saya tanpa penundaan. Karena saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi, jika Anda membutuhkan pinjaman apapun, silahkan menghubungi dia melalui email: cynthiajohnsonloancompany@gmail.com dan oleh kasih karunia Allah dia tidak akan pernah mengecewakan Anda dalam mendapatkan pinjaman jika Anda mematuhi perintahnya.

Anda juga dapat menghubungi saya di email saya: ladymia383@gmail.com dan kehilangan Sety saya diperkenalkan dan diberitahu tentang Ibu Cynthia Dia juga mendapat pinjaman baru dari Ibu Cynthia Anda juga dapat menghubungi dia melalui email-nya: arissetymin@gmail.com sekarang, semua yang akan saya lakukan adalah mencoba untuk memenuhi pembayaran pinjaman saya yang saya kirim langsung ke rekening bulanan.
Apakah Anda mencari pinjaman? Atau anda telah menolak pinjaman oleh bank atau lembaga keuangan untuk satu atau lebih alasan? Anda memiliki tempat yang tepat untuk solusi pinjaman Anda di sini! Kami memberikan pinjaman kepada perusahaan dan individu pada tingkat bunga rendah dan terjangkau dari 2%. Silahkan hubungi kami melalui e-mail hari ini melalui christianmorganloanservices@gmail.com

DATA PEMOHON:

1) Nama Lengkap:
2) Negara:
3) Alamat:
4) Negara:
5) Sex:
6) Status Pernikahan:
7) Bekerja:
8) Nomor Telepon:
9) Posisi di tempat kerja:
10) Pendapatan Bulanan:
11) Jumlah Pinjaman Dibutuhkan:
12) Durasi Pinjaman:
13) Pinjaman Bunga:
14) Agama:
15) Apakah Anda sudah menerapkan sebelumnya;
16) Tanggal lahir;

Terima kasih,
Ibu Christian

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI