DIVERSITAS DAN PEMBERITAAN MEDIA



Oleh: Satrio Arismunandar

Diversity : Diversitas, keanekaragaman, perbedaan

Diversitas, baik di Amerika maupun di negara-negara lain, merujuk ke perhatian, nilai-nilai, minat, kepentingan dan perspektif dari kelompok-kelompok yang lebih kecil (sub-groups) dalam masyarakat yang lebih besar, serta hakikat hubungan mereka dengan masyarakat yang lebih besar.

Hubungan itu dapat menyangkut sejumlah perbedaan, antara lain:

Diversitas Lokal: Ini merujuk ke ikatan yang dirasakan orang terhadap desa, kota, atau daerahnya, dan kepada berita dan informasi yang melaporkan tentang dan mencerminkan kepentingan dan nilai-nilai lokal. Kepentingan dan nilai-nilai lokal ini sering dicerminkan dalam dan paling baik diekspresikan lewat suratkabar, stasiun radio dan televisi yang dikelola dan dimiliki lokal.

Diversitas Etnis/Rasial (Kultural): Ada tradisi lama di Amerika di mana para imigran baru mempublikasikan dalam bahasa lokalnya, seperti Jerman, Polandia, Yahudi atau Spanyol.

Diversitas Religius: Ada tradisi penerbitan dan siaran di radio dan TV yang bersifat religius.

Diversitas Partisan: Ada perbedaan yang sah dalam opini politik, yang mengekspresikan diri lewat ikatan pada partai atau ideologi yang berbeda-beda. Ada kelompok-kelompok yang mungkin pro atau anti-pemerintah, pro atau anti-aborsi, dan sebagainya.

Diversitas Nasional: Dalam “desa dunia” (global village) yang cepat terbentuk, para warga negara-bangsa menuntut dipeliharanya diversitas/ciri nasionalnya, menghadapi apa yang mereka pandang sebagai serangan suara, gaya hidup dan budaya asing yang menggerogoti dari luar.

Yang menjadi persoalan di sini bukanlah diversitas itu sendiri. Namun, bagaimana perwujudan diversitas itu di publik dan representasinya yang tampak lewat bebagai media di masyarakat kita.

Diversitas ini sendiri tidak sama. Ada yang mewarisinya begitu saja (ras, etnis), ada yang bisa dipilih (ikatan pada ideologi dan partai politik). Secara umum, banyak kelompok yang berbeda-beda ini –minoritas, kaum perempuan, warga desa kecil—memiliki sumberdaya politik dan ekonomi yang kecil, dan karena itu mereka tertinggal dalam perolehan informasi dan aset telekomunikasi yang lebih besar.

Masalah diversitas ini penting dalam pembahasan tentang media di negara yang multikultural, seperti Amerika Serikat dan Indonesia. Amerika, misalnya, menjadi negara yang semakin heterogen, di mana imigrasi mencapai level tertinggi pada awal 1990-an. Di sisi lain, sistem internasional sendiri juga semakin heterogen. Media dapat memperkuat atau menghambat multikulturalisme tersebut.

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)