"DATA TRAP" DALAM RATING PROGRAM TELEVISI


Ada hal yang menarik, yang terungkap dalam Raker News Magazine Trans TV, di Hotel Novus, Puncak, Jawa Barat, 22-23 Desember 2006. Pak Sulaeman Sakib, Kepala Departemen Magazine & Documentary di Divisi News Trans TV, mengungkapkan apa yang disebutnya sebagai “data trap.” Yakni, kesalahan dalam membaca data rating/share, yang berimplikasi pada kesalahan membaca apa yang sebenarnya dibutuhkan atau diinginkan penonton TV.

Secara sederhana, perumpamaannya begini: Ada seorang pedagang yang menjual singkong goreng, tempe goreng dan tahu goreng. Dari data, terbukti yang paling banyak dibeli orang adalah singkong goreng. Hal ini ditafsirkan oleh para pedagang lain bahwa masyarakat membutuhkan atau menginginkan singkong goreng. Maka beramai-ramailah mereka ikut menjual singkong goreng.

Padahal, sebenarnya masyarakat (terpaksa) membeli singkong goreng, karena tidak ada alternatif lain yang tersedia di pasar. Mereka sebenarnya ingin makanan yang rasanya agak manis. Seandainya ada yang menjual pisang goreng, mereka sebenarnya ingin membeli pisang goreng. Apa daya, yang tersedia cuma singkong, tempe dan tahu. Dari tiga pilihan ini, yang agak manis atau masih bisa dicampur gula, adalah singkong goreng.

Nah, analogi ini mungkin bisa diterapkan pada praktik umum yang dilakukan banyak stasiun TV. Mereka tiap hari atau tiap minggu menganalisis data rating/share yang disediakan AGB Nielsen Media Research. Ketika rating tertinggi diperoleh program “esek-esek” di satu stasiun TV, misalnya, maka beramai-ramailah stasiun TV lain memproduksi program “esek-esek”.

Padahal data kuantitatif itu bisa mengecoh. Bisa jadi, penonton menginginkan program lain, yang saat itu tidak tersedia di pasaran. Jadi, diperlukan survey atau penelitian kualitatif untuk melengkap data rating/share dari AGB Nielsen Media Research tersebut, dan menangkap apa yang sebetulnya dibutuhkan atau diinginkan penonton.

Saran dan pandangan ini mungkin masih seperti angin semilir, di tengah badai persaingan sengit antar-stasiun TV, yang sangat terpaku pada data kuantitatif Nielsen. Namun, mudah-mudahan, meski pelan dan bertahap, pandangan-pandangan alternatif ini bisa mendapat perhatian dan diterima oleh para pengelola dan pemilik media TV.

Satrio Arismunandar
News Producer Trans TV

Comments

Anonymous said…
ur blog is very inspirable..
keep spirit che..!

king zi.
www.usukorupsi.blogspot.com
Roby said…
Menarik Pak Satrio.

Argumen yang sama bisa dipakai untuk menolak argumen bahwa media "menyihir" penonton. Sering dikatakan kehidupan modern di atur oleh media, memang ada betulnya.

Tapi, spt post Pak Satrio, banyak media berusaha "mengikuti" keinginan masyarakat. Jadi jika ada argumen negatif bahwa media "meracuni" masyarakat, sebaliknya juga terjadi: masyarakat "meracuni" media.
Salam kenal Bang Satrio. Saya urun nimbrung beri salam. Saya bisa dijumpai di www.sunaryo-adhiatmoko.blogspot.com. Bagi sedikit teman2 trans tv di cerita sore dan good news bagian liputan nama saya pasti ada yg kenal. Sebagian tulisan ZISWAF saya di REPUBLIKA acap kali menjadi sumber liputan teman2 trans. Karena tulisan saya berbincang tentang kemiskinan dan kemanusiaan. Juga kadang jika teman trans cari bahan ke luar kota kerap kontak saya adakah referensi nara sumber. Di antara sumber yg saya referensikan tentang dakwah suku kokoda di Papua.

Alhamdulillah saya bersyukur atas respon teman2 yg turut mengangkat problem hidup komunitas LIRIH yang nyaris terabai dan tak banyak dipihak nasibnya ini. Semoga TV ttap memberi ruang pada orang miskin untuk mengekpresikan diri. Bicara pada dunia tentang sedu sedannya. Agar dunianya tak dibungkus oleh sajian semu yang mengalahkan keberpihakan bangsa ini pada masyarakat lemah.

Saya bererimakasih pada transtv atas apresiasinya pada orang susah dengan memvisualisasi pergulatan hidupnya dalam program-programnya.

Salam,
Sunaryo Adhiatmoko
Public Relations Manajer
Dompet Dhuafa Republika
www.sunaryo-adhiatmoko.blogspot.com
Salam kenal Bang Satrio. Saya urun nimbrung beri salam. Saya bisa dijumpai di www.sunaryo-adhiatmoko.blogspot.com. Bagi sedikit teman2 trans tv di cerita sore dan good news bagian liputan nama saya pasti ada yg kenal. Sebagian tulisan ZISWAF saya di REPUBLIKA acap kali menjadi sumber liputan teman2 trans. Karena tulisan saya berbincang tentang kemiskinan dan kemanusiaan. Juga kadang jika teman trans cari bahan ke luar kota kerap kontak saya adakah referensi nara sumber. Di antara sumber yg saya referensikan tentang dakwah suku kokoda di Papua.

Alhamdulillah saya bersyukur atas respon teman2 yg turut mengangkat problem hidup komunitas LIRIH yang nyaris terabai dan tak banyak dipihak nasibnya ini. Semoga TV ttap memberi ruang pada orang miskin untuk mengekpresikan diri. Bicara pada dunia tentang sedu sedannya. Agar dunianya tak dibungkus oleh sajian semu yang mengalahkan keberpihakan bangsa ini pada masyarakat lemah.

Saya bererimakasih pada transtv atas apresiasinya pada orang susah dengan memvisualisasi pergulatan hidupnya dalam program-programnya.

Salam,
Sunaryo Adhiatmoko
Public Relations Manajer
Dompet Dhuafa Republika
www.sunaryo-adhiatmoko.blogspot.com
Anonymous said…
Salam kenal Bang Satrio,

Bagi sedikit teman-teman trans tv di lapngan yang bergabung dalam program cerita sore dan good news saya kerap menjalin kontak. Lantaran tulisan ZISWAF saya di REPUBLIKA tiap Jumat dapat perhatian mereka sebagai sumber liputan.

Saya berterima kasih masih ada TV yang sudi memberi panggung pada Komunitas LIRIH mengekpreskan diri. Bicara suka dukanya dalam menjalani hidup tanpa keberpihakan negaranya. Semoga trans tetap punya ruang untuk orang miskin menampakkan diri hingga bangsa ini tak lupa bahwa kemiskinan di negri ini makin meryak.

Untuk teman-teman media yg perlu sumber atau referensi daerah liputan, tentang kemanusiaan dan kemiskinan tentunya, dengan senang hati saya akan membantu.

Salam
www.sunaryo-adhiatmoko.blogspot.com
Public Relations Manajer
Dompet Dhuafa Republika
arsawening@gmail.com
wah catatannya mas satrio di blog ini sangat handal..benar2x wartawan sejati... memberikan saya inspirasi baru..
terima kasih untuk pencerahannya..

saya sering melihat mas kalo di kantin trans tv..he he..
salam

KEMENTERIAN DESAIN REPUBLIK INDONESIA
http://menteridesainindonesia.blogspot.com
Green Flower said…
yuph..

ben er pak...

saya jg udh bosen ama tayangan tv yg itu2 aja


terus terang, semua yg ada di rating ac nielsen, saya malah g' pernah ntn...lol

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI