PROFIL BUDAYA ORGANISASI DI PERUSAHAAN MEDIA


(Foto: Taping Fenomena di Denpasar, Bali, Desember 2006)

Oleh: Satrio Arismunandar

Perusahaan media massa dalam menjalankan operasinya juga tidak berbeda jauh dengan perusahaan lain non-media, yang menjual produk atau jasa. Oleh karena itu, budaya organisasi di perusahaan media juga bisa dibandingkan dengan budaya organisasi di perusahaan-perusahaan lain tersebut. Dari literatur manajemen, kita kenal beberapa macam budaya organisasi seperti di bawah ini:

Budaya Klan (Clan Culture)

Tempat yang sangat ramah untuk bekerja di mana orang saling berbagi tentang banyak hal. Ini seperti sebuah keluarga besar. Para pemimpin atau kepala organisasi dianggap sebagai mentor dan mungkin bahkan figur bapak. Organisasi ini disatukan oleh loyalitas atau tradisi. Komitmennya tinggi.

Organisasi ini menekankan pada keuntungan jangka panjang dari pengembangan sumberdaya manusia (SDM) dan memposisikan arti penting pada kohesi (kesatuan/kekompakan) dan moral. Sukses dirumuskan dalam kepekaan terhadap customer dan keprihatinan terhadap manusia. Organisasi ini memberi nilai tinggi pada kerja tim, partisipasi, dan kesepakatan (consensus).

Budaya Adhokrasi (Adhocracy Culture)

Sebuah tempat yang dinamis, bersifat kewiraswartaan (entrepreneurial), dan kreatif untuk bekerja. Orang berani mengambil risiko. Para pemimpinnya dianggap sebagai pembaharu (innovator) dan pengambil risiko. Yang mempersatukan organisasi ini adalah komitmen terhadap eksperimentasi dan inovasi.

Penekanannya adalah bagaimana supaya bias berada di posisi terdepan. Penekanan organisasi ini untuk jangka panjang adalah pada pertumbuhan dan memperoleh sumberdaya-sumberdaya baru. Sukses berarti memiliki produk atau pelayanan/jasa yang unik dan baru. Menjadi pemimpin dalam produk dan pelayanan adalah penting. Organisasi mendorong munculnya prakarsa (inisiatif) dan kebebasan individu.

Budaya Hirarki (Hierarchy Culture)

Tempat yang sangat bersifat formal dan terstruktur untuk bekerja. Prosedur mengatur apa yang dikerjakan setiap orang. Para pemimpinnya bangga menjadi koordinator yang baik dan penyelenggara (organizer) yang cenderung pada efisiensi. Memelihara organisasi yang beroperasi secara mulus adalah sangat kritis. Aturan-aturan dan kebijaksanaan formal mengikat organisasi ini.

Perhatian jangka panjang adalah pada stabilitas dan kinerja, dengan operasi yang mulus dan efisien. Sukses dirumuskan dalam ukuran penyerahan (delivery) yang bisa diandalkan (dependable), penjadwalan yang mulus, dan biaya murah. Pengelolaan karyawan menekankan pada pemanfaatan tenaga kerja yang aman (secure employment) dan prediktabilitas (bisa diperkirakan).

Budaya Pasar (Market Culture)

Sebuah organisasi yang sangat berorientasi pada hasil (results), yang perhatian utamanya adalah pada bagaimana agar pekerjaan bisa tuntas diselesaikan. Orangnya bersikap kompetitif dan berorientasi pada tujuan. Para pemimpinnya adalah penggerak yang keras (hard drivers), penghasil (producers) dan kompetitor. Mereka ulet dan banyak menuntut. Hal yang menyatukan organisasi ini adalah penekanan pada kemenangan (winning).

Reputasi dan sukses adalah hal yang menjadi perhatian bersama. Fokus jangka panjangnya adalah pada langkah-langkah kompetitif dan pencapaian tujuan dan sasaran yang bisa diukur. Sukses dirumuskan dalam penguasaan pangsa pasar (market share) dan penetrasi pasar. Penetapan harga yang bersaing dan kepemimpinan di pasar (market leadership) dianggap sangat penting. Gaya organisasi ini adalah dorongan keras untuk bersaing (kompetitif).

Budaya Organisasi di TransTV dan Trans-7

Dari pengalaman saya selama 5 tahun bekerja di TransTV, saya merasakan budaya organisasi yang dikembangkan di TransTV adalah Budaya Pasar. TransTV sangat berorientasi pada hasil, dan ada dorongan keras untuk terus berkompetisi.

Setiap minggu kami di Divisi News TransTV rapat, membahas perolehan rating dan share setiap program. Kalau turun, dibahas mengapa bisa turun. Jika naik, dibahas tayangan apa yang membuat rating dan share itu naik. Apa strategi yang bias dilakukan supaya kinerja menjadi lebih baik, dan sebagainya. Posisi rating dan share stasiun TV ini juga dibandingkan, terutama dengan kompetitor terdekat: RCTI.

Budaya organisasi ini tampaknya akan ditularkan ke Trans-7 (dulu namanya TV7), yang sekarang sudah menjadi bagian dari Trans Corpora, sejak diakuisi tahun 2006. Target TransTV tahun 2005 dan 2006 adalah mengalahkan SCTV, dan TransTV terbukti telah berada di posisi nomor 2 di bawah RCTI pada Desember 2006. Sedangkan, target tahun 2007 adalah mengalahkan RCTI untuk menjadi stasiun TV nomor satu di Indonesia.

Untuk segmen penonton SES (status sosial-ekonomi) A dan B, sebetulnya pada Desember 2006 pun TransTV sudah menjadi nomor satu dan mengalahkan RCTI. Namun, untuk penonton SES A, B, C, D dan E secara total, RCTI masih di atas TransTV. Apakah target ini akan tercapai? Tunggu saja tahun 2007. ***

Comments

cahyo said…
mas satrio, pengen nanya, sebenarnya trans7 tuh mo dibawa kemana sih. kok acara sampai identitas korporat dibikin sama dengan transtv? bosen nih ngeliatnya.

http://nurulwibawacahya.blogspot.com/2006/12/transformasi-tv7-menjadi-trans-7.html

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)