TENTANG TIDAK PERLUNYA MEMBERI TANGGAPAN DI MILIS

Oleh : Satrio Arismunandar

Seorang anggota milis Mediacare bertanya, mengapa ada komentar seorang miliser yang tak pernah saya tanggapi di milis? Saya menjawabnya dengan butir-butir seperti di bawah:

1. TIDAK semua posting harus atau perlu ditanggapi.

2. Bahkan tidak semua posting harus dan perlu dibaca.

3. Keanggotaan kita di suatu milis adalah mencari MANFAAT yang bisa diraih.

4. Faktanya, dari semua postingan yang muncul, TIDAK semua relevan dengan urusan kita, bahkan banyak yang TIDAK bermanfaat sama sekali bagi kita.

5. Berdasarkan pengamatan selama ini di milis Mediacare, saya bisa menyimpulkan: 95% postingan dari si X, Y, dan Z biasanya tidak relevan dengan kepentingan/urusan saya. Isinya baik, santun, sopan, dan mungkin bermanfaat bagi orang lain, tapi tidak relevan dengan kepentingan/urusan saya sekarang.

6. Sedangkan 95% (untuk tidak mengatakan 100%) postingan dari si A, B dan C biasanya bernilai sampah, tidak ada manfaatnya sama sekali bagi saya (saya juga ragu, apakah benar-benar ada manfaatnya bagi orang lain). Isinya biasanya sumpah serapah, caci maki, tidak jelas nalar dan logikanya, tidak jelas gaya bahasanya, seperti muntahan atau orang mengigau saja, dan sebagainya.

7. Yang biasa saya lakukan: Postingan si X, Y, dan Z kadang-kadang saya buka, dan kadang-kadang saya simpan (jika sekarang belum dianggap penting, mungkin suatu saat bisa berguna, entah buat saya sendiri, entah buat orang lain).

8. Sedangkan postingan si A, B dan C biasanya LANGSUNG saya delete begitu melihat nama pengirimnya. Ini saya lakukan, untuk tidak menyia-nyiakan waktu, mengurusi hal-hal yang betul-betul tidak ada manfaatnya sama sekali buat saya.

9. Selain itu, saya sangat menghargai keterbukaan, dan saya menaruh respect lebih tinggi kepada anggota milis yang IDENTITAS-nya jelas. Karena kejelasan ini bagi saya merupakan sikap dewasa, matang, dan bertanggung jawab. Siap menerima akibat dari postingannya sendiri di milis.

10. Sebaliknya, saya kurang menaruh respect pada anggota milis yang hanya berani menghantam orang di milis, tetapi berlindung di balik nama samaran. Meskipun tidak ada kewajiban harus mengungkap identitas asli di sini, itu saya anggap sikap yang kurang bertanggung jawab, dan kurang percaya diri, sehingga saya tidak merasa perlu menanggapi atau menganggap serius postingannya.

Seandainya mereka tidak hantam kanan-hantam kiri, sebetulnya tidak masalah. Tetapi main hantam kanan dan kiri dengan bersembunyi di balik nama samaran, sama saja seperti mengirim surat kaleng. Itu gaya seorang pengecut, yang tidak layak sama sekali ditanggapi. Mengapa kita harus membuang waktu, berdebat dengan orang yang begitu pengecut atau begitu tidak percaya diri, sehingga harus selalu bersembunyi di balik nama samaran di berbagai milis? ***

Comments

Anonymous said…
Untuk orang yang ngoceh terus dan menggunakan nama samaran, lebih baik gak usah ditanggapin. Memang sudah pasti, karena isi otaknya memang gak ada.
Setujuuuuuu mas Satriooooo.. :D
Hihihi... aku lagi jalan2x di dunia per-blogeran.. baca postingan mas ini, jadi keglitik pengen ikut komentar. Tak papa kan?! :)

Nge-baca 10 butir2x yg mas tulis, aku senyam-senyum sendiri jadinya, krn... andai postingan ini dibaca semua orang yg ada di milis tsb.. huehehehe.. dapat dipastikan semua orang ('oknum2x milister' kali yee istilahnya) yg berusaha mengompori, memanasi, menghasut, mengajak perang argumen yg berbasis Debat Kusir dan tidak ada manfaatnya di milis itu dengan mas Satrio, sudah pada tahu diri dan gak bakal mempan mengorek sepatah dua patah kata yg (mungkin) nantinya berbau emosional dalam meladeni mereka.

Yang jelas.. aku jd inget byk pepatah2x di jaman SD dulu deh.. "Sedikit bicara banyak bekerja, Diam itu Emas, Tong kosong nyaring bunyinya, Waktu adalah uang, Bagaikan padi.. makin berisi makin merunduk"... kekekekekekkk..

Btw,... blog nya menyenangkan mas.. enak bacanya & edukatif.. :)

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI