Posts

Showing posts from July 26, 2006

KIAT AGAR DILIPUT OLEH MEDIA TELEVISI

Image
Oleh Satrio Arismunandar

Saya sering mendapat keluhan dari sejumlah teman, yang kebetulan bekerja di departemen pemerintahan, atau pun yang aktif di NGO (organisasi non-pemerintah). Meski dengan ungkapan yang bervariasi, keluhan mereka hampir seragam. “Mengapa sih Trans TV tak pernah mengirim wartawannya untuk meliput acara kami? Padahal kami sudah mengundang berkali-kali, lewat telepon, lewat fax dan surat pos,” ujar mereka.
Bahkan ada sejumlah relasi, yang bicara blak-blakan seperti ini: “Apakah masalahnya cuma uang? Kalau cuma itu masalahnya, kami pun bersedia membayar untuk diliput. Termasuk menyediakan anggaran untuk wartawan yang meliput, dengan camera person-nya!”
Ungkapan yang terakhir ini tentu saja keliru. Seorang jurnalis yang baik dan profesional bekerja dan meliput berita bukan karena iming-iming uang dari narasumber, atau bahasa populernya diberi “amplop.” Namun, peristiwa itu diliput karena memang layak diliput. Bahwa ada sejumlah “oknum” j…

CARA OKNUM DI PERUSAHAAN MEDIA MENGGELAPKAN ASURANSI KESEHATAN

Image
Berbagai perusahaan media, baik media cetak maupun elektronik, kini menyediakan asuransi kesehatan untuk kesejahteraan karyawannya. Biasanya, pelayanan asuransi kesehatan ini disediakan melalui kerjasama dengan perusahaaan asuransi tertentu.

Masalahnya, ternyata asuransi kesehatan juga bisa menjadi ajang korupsi bagi oknum tertentu yang mengurusi layanan ini. Yaitu, oknum di media bersangkutan, yang bekerjasama dengan oknum di perusahaan asuransi terkait. Mereka menggelapkan uang premi sejumlah besar karyawan media. Di sini saya mengunakan istilah “oknum,” karena belum jelas benar, apakah penggelapan uang asuransi ini memang inisiatif pribadi bersangkutan, atau memang direstui oleh atau sepengetahuan pemilik perusahaan media, yang ingin mengurangi cost.

Bagaimana modus operandinya? Begini, misalnya, perusahaan media M punya karyawan 500 orang. Media M bekerjasama dengan perusahaan A, yang menyediakan layanan asuransi kesehatan. Oknum di media M lalu memantau data peserta asuransi tahun …

GAYA KEPEMIMPINAN DI PERUSAHAAN MEDIA

Image
Model Tradisional (1900-1930):

Dengan munculnya revolusi industri pada akhir 1800-an, paramanajer merasa perlu merumuskan kembali konsep tentang kerja dan hubungan sosial antara berbagai tingkatan posisi di organisasi. Juga ada kebutuhan atas filosofi manajemen yang baru, yang lebih konsisten dengan keyakinan manajerial yang berlaku pada waktu itu. Kepercayaan itu mengatakan, para karyawan pada dasarnya adalah pemalas dan motivasi mereka dalam bekerja hampir seluruhnya ditentukan oleh uang. Hanya sedikit karyawan yang mau atau sanggup memegang otonomi, atau bekerja tanpa arahan (self-direction), dalam menjalankan pekerjaannya.

Berdasarkan asumsi tersebut, cara terbaik untuk memotivasi karyawan adalah membayar mereka dengan menggunakan sistem piece-rate, dan kemudian mendisain ulang pekerjaan mereka, sehingga rata-rata pekerja dapat memaksimalkan hasil kerjanya. Pendisainan ulang pekerjaan ini bukan bertujuan untuk memperkaya kerja, tetapi untuk meningkatkan penyederhanaan kerja dan frak…

BERBAGAI MOTIVASI JURNALIS

Image
Manajer media harus membawahi berbagai jenis pekerja, dari bagian produksi/teknisi, sirkulasi, periklanan, front-office, dan staf redaksi. Dari semua pekerja ini, staf redaksi biasanya menjadi tantangan terbesar, karena para jurnalis sering bekerja berdasarkan motivasi yang berbeda ketimbang pekerja lain yang berorientasi tugas atau staf bagian bisnis. Pemahaman tentang apa yang memotivasi karyawan (jurnalis) ini penting bagi manajer, agar mereka dapat mengelola stafnya secara lebih efektif.

Kegagalan memahami motivasi para jurnalis ini menjadi sebab mengapa begitu sulit menerapkan gaya manajemen partisipatif di newsroom, justru ketika departemen lain bisa menerimanya dengan lebih mudah. Tampaknya terdapat lebih banyak skeptisisme di kalangan jurnalis, serta keengganan umum untuk berubah. Di bawah ini diuraikan sebagian ciri-ciri umum atau nilai-nilai di kalangan jurnalis, untuk memberi pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana memotivasi mereka.

Kebutuhan ego. Bukan rahasia lagi, ban…

Essay - BALADA SEEKOR ANAK KUCING

Image
Oleh Satrio Arismunandar

Aku selalu bermimpi menjadi jurnalis besar. Seorang jurnalis yang karyanya abadi, karena ikut mengubah nasib negara dan jutaan rakyat di dalamnya. Ya, seperti Bob Woodward dan Carl Bernstein, reporter suratkabar the Washington Post. Keduanya terkenal ke seluruh dunia berkat liputan investigatif tentang skandal Watergate, yang akhirnya menjatuhkan pemerintahan Presiden Richard Nixon.
Namun, kejadian yang akan kuceritakan ini telah menggeser mimpiku. Itu terjadi pada pertengahan Juni 2005, ketika crew program SISI LAIN (SILA) meliput tradisi bakar tongkang di kota Bagan Siapi-api, Riau, sekaligus syuting presenter Olga Lydia. Lokasi syuting adalah sebuah gedung sekolah Katolik, di bekas kota ikan tersebut, yang ornamen dan arsitekturnya kami anggap khas.
Campers SILA, Darmawan Eko (Koko), adalah yang pertama menemukan anak kucing itu. Ketika sedang mengambil gambar di lantai dua gedung sekolah tersebut, suara anak kucing yang mengeong-ngeong itu mengganggu audio da…