Posts

Showing posts from July 27, 2006

Essay - IRONI PERTANGGUNGJAWABAN Rp 20.000,-

Image
Seorang UPM News Trans TV belum lama mengeluh ke saya, tentang sebuah laporan pertanggungjawaban keuangan, yang dikembalikan oleh Bagian Keuangan. Alasannya sepele, hanya gara-gara sebuah item kecil yang dianggap oleh bagian keuangan tak jelas "pembuktiannya."

Dari situ, saya lalu ingat sebuah cerita yang saya peroleh dari mengikuti program Executive MBA (dengan biaya kantor). Ceritanya kira-kira begini (ini cuma contoh saja, bukan kasus riil lho...):

Ada seorang karyawan yang dipercaya oleh kantornya untuk membuat deal pembelian film-film Hollywood senilai 2 juta dollar AS. Dia berangkat sendiri ke Amerika, dan lalu pulang ke Jakarta. sesampai di Bandara Cengkareng, ia menggunakan jasa porter dan membayar Rp 20.000, tapi tak ada bonnya.

Ketika menyerahkan laporan keuangan DLN (dinas luar negeri), bagian keuangan tak mau mengganti Rp 20.000 yang ia keluarkan untuk porter, dengan alasan tak ada bukti kwitansi atau bonnya.

Bisakah Anda bayangkan? Karyawan ini DIPERCAYA oleh perusa…

MEGAWATI DAN MEDIA MASSA

Image
Oleh Satrio Arismunandar

Untuk kesekian kalinya, Presiden Megawati Soekarnoputri, yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan, mengritik keras pers Indonesia. Dalam pidato politik di depan massa PDI Perjuangan, di Jakarta Selatan, 21 Januari 2003, ia menyebut pemberitaan pers Indonesia sebagai njomplang (berat sebelah), njlimet (rumit) dan ruwet (Kompas, 22/1).
Pemberitaan pers dianggap tidak mendidik bangsa tentang pergantian kepemimpinan scara konstitusional dan terhormat. Lebih tajam lagi, Mega mempertanyakan, "Apakah pers kita ini bagian dari bangsa Indonesia?" Ditambahkannya, sejak dulu pihaknya berusaha berkomunikasi dengan pers, tetapi tidak pernah diterima dengan baik.

Dua minggu sebelumnya, di depan peserta Rakornas Sosialisasi Kebijakan Komunikasi dan Informasi 2003 di Istana Negara, 8 Januari lalu, Megawati juga mengeluhkan media yang ia anggap "tidak simpatik" terhadap dirinya. Katanya, "Begini, media 'kan tidak simpatik kepada saya, jadi saya tidak tahu…

DEPKOMINFO, DEPPEN WAJAH BARU?

Image
Oleh Satrio Arismunandar

Kontroversi, yang berkaitan dengan keluarnya empat peraturan pemerintah (PP) tentang penyiaran, masih berlanjut. Salah satu butir yang dikecam keras dari substansi PP itu adalah pemberian peran –yang dianggap sangat besar dan berlebihan-- kepada Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo). Akibatnya, Depkominfo pun dituding sudah menyerupai Departemen Penerangan (Deppen) era Orde Baru dengan wajah baru.

Empat PP bermasalah, yang melatarbelakangi tudingan terhadap Depkominfo, itu adalah PP No. 49, 50, 51 dan 52 tahun 2005. Isinya berturut-turut adalah tentang: penyelenggaraan penyiaran oleh lembaga penyiaran asing, lembaga penyiaran swasta, lembaga penyiaran komunitas, dan lembaga penyiaran berlangganan.

Berdasarkan PP ini, Depkominfo difungsikan sebagai lembaga regulator dan pengontrol penyiaran. Peran ini, oleh sejumlah organisasi pers dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), dianggap bertentangan dengan dengan semangat kebebasan pers dan UU No…

PWI DI MATA “KORBAN” PWI JAYA ERA TARMAN AZZAM

Image
Oleh Satrio Arismunandar

Makalah ini saya tulis dalam rangka memenuhi undangan Panitia Sarasehan Nasional Menyelamatkan PWI, yang berlangsung di Yogyakarta, 21 November 1998. Bagi saya, yang menjadi salah satu anggota-pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI), segala hal yang berkaitan dengan kemelut di tubuh PWI belakangan ini sebenarnya adalah masalah internal PWI, yang harus diatasi dan diselesaikan oleh anggota PWI sendiri.

Maka saya akan bicara di sini lebih sebagai mantan Anggota Muda PWI, yang kebetulan menjadi salah satu “korban” PWI Jaya Era Tarman Azzam. Meskipun sudah tidak berada di PWI lagi, saya tetap memiliki komitmen bagi kemajuan profesi wartawan di Indonesia umumnya, serta kesadaran akan pentingnya reformasi dan koreksi terhadap praktek-praktek menyimpang Orde Baru dalam dunia kewartawanan di Tanah Air, yang telah terjadi selama ini melalui tubuh PWI.

Menurut pandangan saya, terpilihnya Tarman Azzam dan Bambang Sadono menjadi Ketua Umum dan Sekjen PWI Pusat…

KARTUN NABI DAN "BAKSO TIKUS"

Image
Oleh Satrio Arismunandar


Tak dinyana, dua bulan pertama tahun 2006 ini, insan media di tingkat nasional maupun internasional disibukkan dengan sejumlah kasus yang berfokus pada kebebasan pers serta tanggung jawab media. Berbagai kasus yang muncul itu menunjukkan, cara-cara kalangan media dalam memposisikan kebebasan pers di tengah dinamika masyarakat yang majemuk, masih menjadi persoalan.

Kasus yang paling spektakuler adalah kemarahan massa di berbagai negara, khususnya yang mayoritas penduduknya beragama Islam, akibat dimuatnya kartun yang melecehkan Nabi Muhammad SAW di sebuah suratkabar Denmark. Gelombang protes massa itu menimbulkan ketegangan diplomatik, boikot terhadap produk Denmark, perusakan bangunan, bahkan menelan sejumlah korban jiwa di Pakistan dan Libya.

Di Indonesia, tayangan investigasi tentang “bakso tikus” oleh Trans TV, pada Januari 2006, telah mengangkat kasus itu menjadi isu nasional. Rating TransTV meningkat. Namun, dampak sampingan yang tak diinginkan terjadi. Bany…

ANTIPOLITISI DAN ANTIPOLITIK...

Image
Oleh Satrio Arismunandar

Lord Tweedsmuir, salah satu penulis favorit Presiden Amerika John Fitzgerald Kennedy, dalam otobiografinya pernah menuliskan, “Arena publik adalah puncak karier, dan bagi orang muda, arena publik itu merupakan ambisi yang tertinggi nilainya. Politik tetap merupakan petualangan terbaik dan termulia.”

Tweedsmuir boleh saja mengatakan begitu, terutama kalau ia bicara dalam konteks politik di Amerika. Toh bagi sebagian kalangan masyarakat, termasuk masyarakat di Amerika sendiri, ada masanya ketika mereka merasa lelah dengan politik. Dunia politik mereka pandang sebagai dunia yang kotor, penuh tipu muslihat, konspirasi, tempat di mana idealisme dan prinsip digadaikan untuk kepentingan sesaat, dan semboyan “untuk kepentingan rakyat” menjadi retorika kosong.

Para ibu di Amerika dari kalangan ini setuju anaknya bercita-cita menjadi apa saja –pilot, dokter, ahli hukum, insinyur, dosen, atau artis—asal jangan jadi politisi. Lucunya, menurut salah satu jajak pendapat Gallup…

Essay - WAJAH SINGAPURA DAN KERINDUAN MANUSIAWI

Image
Oleh : Satrio Arismunandar

Kalau mendengar nama Singapura, yang selalu terbayang di benak saya adalah sebuah negeri kecil yang makmur, dengan penduduk yang giat bekerja, serta pemerintahan yang efisien, efektif dan relatif bersih dari korupsi. Singapura adalah surga di Asia, bagi mereka yang mengidamkan kebersihan, kerapihan, keteraturan, kemajuan dan kecanggihan teknologi.
Tidak perlu menjadi seorang pakar, untuk memahami hal itu. Cukup dengan berputar-putar sebentar di bandara Changi atau menaiki kereta MRT (mass rapid transit) di pusat kota, dan kesan-kesan yang saya sebutkan tadi akan terasa. Di Singapura, semua serba teratur dan terencana.

Efisiensi, efektivitas dan kemajuan adalah tuntutan kehidupan modern. Singapura diakui sangat berhasil dalam hal-hal ini. Namun, itu semua bukanlah segalanya. Manusia, dan tentunya rakyat Singapura sendiri, juga membutuhkan sesuatu yang lain. Karena pada akhirnya, seluruh sistem kehidupan modern itu ditujukan untuk membahagiakan manusia,…

MEDIA SELEWENGKAN SUMBANGAN KORBAN BENCANA?

Image
Bencana Tsunami di Aceh dan Nias tahun 2004, hingga bencana gempa di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan terakhir di Pangandaran, Jawa Barat, Juli 2006 ini, memberi peluang pada sejumlah media untuk menggalang dana masyarakat untuk korban bencana. Namun, betulkah sumbangan itu sudah disampaikan secara utuh kepada korban yang berhak menerimanya?

Celakanya, kontrol masyarakat terhadap media-media ini tidak terlalu ketat. Sehingga sejumlah penyelewengan dana masyarakat tampaknya telah terjadi, tanpa terdeteksi.

Beberapa hari lalu, saya menjadi narasumber dalam suatu acara pelatihan LSM di Cibogo, Jawa Barat. Dari diskusi yang berkembang, saya mendapat kabar bahwa grup Media Indonesia – Metro TV, yang menggalang dana masyarakat besar-besaran untuk korban Tsunami Aceh, ternyata hingga saat ini TIDAK atau BELUM diaudit oleh Ernst & Young. Padahal, sebelumnya digembar-gemborkan tentang adanya audit ini. Kalau kabar ini benar, berarti Ernst & Young, dan juga grup media pimpinan Surya Paloh ini…