Posts

Showing posts from October 13, 2006

KONVERGENSI MEDIA

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Convergence: Konvergensi; pengertian harfiahnya adalah dua benda atau lebih bertemu/bersatu di suatu titik; pemusatan pandangan mata ke suatu tempat yang amat dekat.

Secara umum, konvergensi adalah penyatuan berbagai layanan dan teknologi komunikasi serta informasi (ICTS – Information and Communication Technology and Services).

Dalam arti paling umum, konvergensi berarti runtuhnya penghalang lama yang sebelumnya memisahkan ICTS menurut sejumlah dimensi: antara industri dan industri, antara aplikasi dan aplikasi, antara produser dan konsumen, antara negara dan negara.
Masing-masing mempengaruhi kepemilikan minoritas, penggunaan dan akses teknologi informasi (IT) dengan berbagai cara.

Industri-Industri: Konvergensi teknologi-teknologi baru melenyapkan perbedaan fundamental antara berbagai industri: Antara industri telepon dan industri komputer, antara pencipta content (isi pesan) dan pentransmisinya, dll. Industri-industri yang dulunya berbeda dan terpisah, kini ber…

DIVERSITAS DAN PEMBERITAAN MEDIA

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Diversity : Diversitas, keanekaragaman, perbedaan

Diversitas, baik di Amerika maupun di negara-negara lain, merujuk ke perhatian, nilai-nilai, minat, kepentingan dan perspektif dari kelompok-kelompok yang lebih kecil (sub-groups) dalam masyarakat yang lebih besar, serta hakikat hubungan mereka dengan masyarakat yang lebih besar.

Hubungan itu dapat menyangkut sejumlah perbedaan, antara lain:

Diversitas Lokal: Ini merujuk ke ikatan yang dirasakan orang terhadap desa, kota, atau daerahnya, dan kepada berita dan informasi yang melaporkan tentang dan mencerminkan kepentingan dan nilai-nilai lokal. Kepentingan dan nilai-nilai lokal ini sering dicerminkan dalam dan paling baik diekspresikan lewat suratkabar, stasiun radio dan televisi yang dikelola dan dimiliki lokal.

Diversitas Etnis/Rasial (Kultural): Ada tradisi lama di Amerika di mana para imigran baru mempublikasikan dalam bahasa lokalnya, seperti Jerman, Polandia, Yahudi atau Spanyol.

Diversitas Religius: Ada tradis…

BANK UNTUK ORANG MISKIN

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Krisis ekonomi dan berbagai kesalahan penanganannya telah menambah jumlah rakyat miskin di Indonesia. Untuk mengurangi jumlah rakyat miskin ini, Indonesia tak perlu mengikuti ”titah” Dana Moneter Internasional (IMF), yang anjurannya lebih banyak tidak nyambung dengan kondisi nyata rakyat kita. Sebaliknya, Indonesia mungkin justru harus belajar pada negara yang lebih miskin dari kita: Banglades!

Kok Banglades? Begini ceritanya. Seperti juga di Banglades, puluhan juta rakyat miskin kita tinggal di pedesaan, dan sebagiannya lagi terlibat dalam berbagai sektor usaha mikro. Untuk mengangkat taraf kehidupan mereka, perlu dukungan modal. Namun bank-bank yang ada enggan memberi kredit tanpa jaminan (collateral), misalnya: tanah. Padahal, persoalan rakyat miskin justru tiadanya kemampuan menyediakan jaminan tersebut.

Maka yang terjadi adalah lingkaran setan kemiskinan: pendapatan rendah—tabungan rendah—investasi rendah—pendapatan rendah (lagi)—d…