Essay - PERSOALAN BANGSA INI ADALAH SOAL KARAKTER


Oleh Satrio Arismunandar

Krisis yang melanda Indonesia selama bertahun-tahun, dan seolah-olah tak kunjung berakhir, menimbulkan banyak skeptisisme. Kita sering bingung, dari mana kita harus mulai membenahi negeri yang porak-poranda ini. Namun, menurut saya, salah satu persoalan utama bangsa Indonesia ini adalah soal karakter.

Indonesia tak pernah kekurangan orang pintar, dari dulu sampai sekarang. Tetapi banyak orang pintar di Indonesia berkarakter lemah: Mau hidup enak, tapi tak mau kerja (maka korupsi); tidak percaya pada kekuatan diri sendiri (maka menghamba pada orang asing dan minder ketemu bule-bule); berpikiran pendek (makanya suka menjual pasir laut ke Singapura, dengan menerima kerusakan lingkungan + wilayah laut wilayah Singapura tambah luas, dengan kerugian menyempitnhya wilayah kedaulatan kita), dan seterusnya.

Para Founding Father kita -- Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, dan lain-lain -- sudah jauh-jauh hari menyadari penyakit bangsa ini. Maka mereka bicara tentang pembangunan karakter (character building).

Tapi di era Orde Baru, pembangunan karakter itu diabaikan. Semua orang tunduk bak kerbau yang dicocok hidungnya. Orientasi pembangunan semata-mata ekonomi, itu pun hanya mengelompok di segelintir kroni di sekitar Soeharto (wawasan Soeharto memang cuma sampai sekitar soal harta, tak jelas wawasannya ke masa depan). Kita sekasrang mewarisi sisa-sisa kerusakan itu.

Namun, meski sudah jauh menjadi korban dan hancur-hancuran, masih belum terlambat untuk kita semua bangkit dan menata diri. Kita mulai dari karakter dulu. Benahi karakter diri sendiri, orang sekitar kita, dan bangsa ini, kalau memang bangsa ini mau survive dan dihormati di percaturan bangsa-bangsa. Jika tidak, bangsa Indonesia hanya akan menjadi seperti buih di lautan. Besar dan banyak, tapi tak punya kekuatan, dan diremehkan semua orang. Bangkitlah Indonesia!

Manila, 18 Februari 2007

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)