TRANS TV DAN DAFTAR PERUSAHAAN IDAMAN


Oleh Satrio Arismunandar

Berdasarkan survey terhadap 1.103 karyawan level staf di berbagai perusahaan swasta di sejumlah kota, pada tahun 2005, Majalah Warta Ekonomi kembali membuat daftar 20 Perusahaan Idaman Sebagai Tempat Bekerja (The Best Company to Work for). Trans TV adalah salah satu yang masuk dalam daftar tersebut.

Urutannya sebagai berikut: 1. PT. Astra International Tbk (11,266 %); 2. PT. Pertamina (5,384 %); 3. PT. Unilever Indonesia Tbk (5,384 %); 4. PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (3,689 %); 5. PT. Caltex Pacific Indonesia (3,290 %); 6. PT. Indofood Sukses Makmur Tbk (2,891 %); 7. PT. Indosat Tbk (2,393 %); 8. Bank Mandiri Tbk (2,094 %); 9. PT. Telekomunikasi Seluler /Telkomsel (1,795 %); 10. Bank BCA Tbk (1,595 %); 11. Beyond Petroleum Indonesia (1,595 %); 12. PT. Freeport Indonesia (1,595 %); 13. PT. Schlumberger Indonesia (1,496 %); 14. Citibank Indonesia (1,296 %); 15. PT. IBM Indonesia (1,196 %); 16. PT. Microsoft Indonesia (1,196 %); 17. PT. Nestle Indonesia (1,196 %); 18. Total E&P Indonesie (1,096 %); 19. PT. Televisi Transformasi Indonesia/ Trans TV(0,897 %); 20. Unocal Indonesia (0,897 %).

Mayoritas perusahaan yang masuk dalam daftar ini bergerak di bidang pertambangan. Yang menarik bagi saya, Trans TV adalah satu-satunya perusahaan media yang masuk dalam daftar ini, menggeser posisi RCTI (yang masuk dalam daftar tahun 2004). Padahal Trans TVrelatif masih baru berdiri saat itu (4 tahun), jauh lebih yunior dibanding kompetitornya.

Di bisnis media cetak, ada pemain lama seperti Harian Kompas dan Majalah Tempo. Namun keduanya tidak masuk dalam daftar perusahaan idaman untuk bekerja tahun 2005. Padahal tingkat kesejahteraan karyawan di dua media besar itu cukup baik dan image keduanya juga lumayan bagus. Di Harian Kompas, ada banyak bonus dan gratifikasi, tunjangan, juga benefit lain. Tapi, image memang sesuatu yang berbeda.

Saat tahun 2005 itu, dari segi perolehan rating dan share, RCTI masih nomor 1 dan jauh di atas Trans TV. Tapi dari segi image perusahaan, jika survey Warta Ekonomi ini layak dipercaya (tingkat kepercayaan survey ini 95%), Trans TV tampaknya telah menggeser posisi RCTI. Menurut Warta Ekonomi, salah satu penyebab pilihan responden ini adalah prospek perusahaan (Trans TV) ke depan, yang dianggap lebih baik.

Bagaimanapun juga, persaingan antar media penyiaran kini makin ketat. Masuknya modal asing raksasa kedunia broadcasting Indonesia (Rupert Murdoch dengan Star TV yang membeli 20% saham ANTV, salah satunya) lewat pembelian saham atau merger, akan menimbulkan pergolakan dalam peta persaingan media penyiaran.

Hal ini juga akan berdampak pada dunia politik Indonesia, karena penguasaan media bisa berdampak pada pembentukan opini publik, yang sangat menentukan dalam dinamika politik. Ekonomi memang tak bisa dipisahkan dari politik, dan penguasaan ekonomi (serta media) bisa berdampak pada pengendalian arah politik nasional.

Ini sekadar untuk mengingatkan bahwa masa depan bangsa ini tergantung pada penguasaan aset-aset strategis. Perusahaan-perusahaan yang berprospek baik adalah aset strategis Indonesia, karena dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi, memberi lapangan kerja, dan meningkatkan kemakmuran. Maka, semua ini harus dijaga baik-baik.

Pada tahun 2006 sendiri, meski Trans TV mencatat peningkatan perolehan iklan yang luar biasa (tembus angka Rp 1 trilyun, dan hanya tersaingi oleh RCTI dan SCTV), serta peningkatan rating sehingga menjadi posisi nomor 1 untuk penonton SES AB (mengalahkan RCTI di SES tersebut), ternyata nama Trans TV justru hilang dari Daftar 20 Perusahaan Idaman.

Apa artinya? Mungkin, ya ini cuma mungkin (Catatan: survey Warta Ekonomi tidak bisa dijadikan satu-satunya referensi), meski prestasi dan image di mata orang luar sangat meningkat pesat, Trans TV justru harus banyak berjuang untuk lebih "winning the heart" kalangan internal, alias para karyawannya sendiri! Ya, ini sekadar renungan saya saja, karena kesepian sekaligus keasyikan belajar di AIM (Asian Institute of Management) di Manila, Filipina.

Makati City, Manila, 18 Februari 2007

Comments

Anonymous said…
wah, hebat ya, trans tv masuk 20 besar kategori Perusahaan Idaman Tempat Karyawan Bekerja. Untuk perusahaan media cetak seperti Kompas saja tidak masuk. Salut... Ehm tapi... saya meragukan survey itu. Sebab, saya lihat, di penghasilan karyawan jauh lebih rendah ketimbang di Harian Kompas. Ketika teman saya menyebutkan besarnya nominal penghasilan dia di Trans TV (Yang kata suver Majalah Warta Eknomi masuk dalam daftar 20 besar Perusahaan Idaman Tempat Karyawan Bekerja) ternyata rendah BANGETTTTT..... Di bawah 1,7 juta rupiah untuk seorang REPORTER. Alhasil beberapa teman saya nggak bertahan lama kerja di perusahaan itu. Sekali lagi, kalau Trans TV dilihat orang luar sebagai Perusahaan Idaman Tempat Karyawan Bekerja, mohon keadaan di dalam perusahaan dibenahi. Memalukan Bok.... Cuman OMDO (Omong Doang)!!!! Sorry kalau ini menyakitkan pihak pejabat Trans TV
lusy said…
Assalamualaikum Wr.Wb

Subhanalloh, semoga ke depan trans tv lebih menyajikan tayangan yang religius dan edukatif bagi anak-anak kami sehingga trans tv benar-benar menjadi "MILIK KITA SEMUA". tolong tayangan dan iklan yang tidak edukatif ditayangkan malam hari di atas jam 9 malam. Karena apalah gunanya kita menjadi favorit dan kebanggaan tetapi menghancurkan nasib bangsa ini terutama generasi mudanya.
semoga seluruh kru trans tv dan insan pertelevisian di indonesia selalu mendapat kebaikan dunia dan akhirat dengan manyajikan tayangan yang mendidik. Karena hidup ini hanya untuk beribadah kepada ALLOH SWT QS : Az-Zariyat ayat 56.
untuk pihak intern Trans TV harus banyak-banyak komunikasi dan bersyukur dengan kondisi yang ada serta lebih meningkatkan kualitas diri bukan hanya menuntut saja tanpa ada bukti.
Wassalamualaikum Wr.wb

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)