TRANS TV KIRIM 11 KARYAWAN KE PROGRAM EMBA DI AIM - FILIPINA




Oleh Satrio Arismunandar

Hari Minggu pagi (4 Februari 2007), 11 karyawan Trans TV akan berangkat ke Manila, Filipina, untuk menyelesaikan “kuliah terakhir” program EMBA (Executive MBA), yang telah mereka ikuti sejak September 2005. Mereka berada di Manila sampai Sabtu (24 Februari 2007).

Program EMBA ini adalah kerjasama antara Grup Para (yang membawahi Trans TV, Bank Mega, dan Bandung Supermal) dengan lembaga pendidikan AIM (Asian Institute of Management) yang berpusat di Manila, Filipina.

AIM adalah lembaga pendidikan manajemen bisnis yang cukup terkemuka di Asia , dengan ciri khusus pada “manajemen bisnis dengan nilai-nilai Asia ”. Ciri inilah yang membedakan AIM dengan lembaga pendidikan manajemen umumnya. Selain di Indonesia dengan Grup Para, AIM telah melakukan kerjasama serupa dengan grup perusahaan lain di India dan Malaysia .

Program EMBA ini, kurikulumnya pada pokoknya sama dengan program MBA regular, namun kuliahnya sangat dipadatkan. Maklum, pesertanya adalah karyawan yang sudah sangat sibuk dengan beban pekerjaan kantor. Jadi, kuliahnya hanya seminggu dalam setiap bulan. Dosennya adalah “dosen terbang” yang setiap bulan datang langsung ke Jakarta dari Filipina. Untuk program EMBA bagi Grup Para, kuliahnya adalah di lantai 12 Gedung Bank Mega, Jl. Kapten P. Tendean, Jakarta Selatan.

Sebelas karyawan Trans TV ini adalah bagian dari 34 karyawan Grup Para yang mengikuti Program EMBA, yang mencakup juga 21 karyawan Bank Mega, dan dua orang dari Bandung Supermal (BSM). Mereka adalah: Achmad Irwan Ferizqo (Programming), Mira Amiranti Soenoto (Programming), Hannibal Karunia Pertama (Finance), Latif Harnoko Hadiputro (Human Capital), Emil Syarif (Production), Herny Mulyani (Production), Rowina Hafni Noor (Production), Widuri Diah Astuti (Production), Muhamad Agus Riyadi (News), Shanta Curanggana (News), dan Satrio Arismunandar (News).

Setelah selesai kuliah di Manila , mereka tidak akan serta merta mendapat degree MBA. Karena berdasarkan aturan dari AIM, peserta program ini harus mempraktekkan ilmu yang diperoleh dalam memimpin sebuah proyek yang strategis bagi kepentingan perusahaan. Jika proyek itu dianggap sukses oleh tim panel 3 orang (satu dari pimpinan Para Grup plus dua dosen AIM), barulah si peserta berhak menyandang MBA. Ini yang membedakan program EMBA dengan program MBA regular, yang biasanya harus membuat tesis. Sedangkan EMBA fokusnya adalah pada praktik bisnis yang real, bukan sekadar pemahaman teori.

Bagi Grup Para sendiri, pengikutsertaan karyawannya dalam program EMBA ini juga jadi semacam “uji coba,” apakah para peserta program ini nantinya betul-betul bisa memberi kontribusi signifikan dan strategis pada grup perusahaan ini. Jika jawabannya “ya,” bisa saja program EMBA ini dilanjutkan dengan angkatan kedua.

Apalagi Grup Para masih punya banyak rencana besar. Selain aktif di bisnis Media, Lifestyle & Entertainment (di bawah payung Trans Corpora), Grup Para juga punya bisnis di bidang Financial Services (di bawah Mega Global Finance) dan bidang Energy, Mining & Infrastructure (CT Global Resources).

Dalam bisnis Food & Beverages, belum lama, Grup Para juga sudah mengakuisisi Coffee Bean, yang lalu diganti namanya jadi Trans Coffee. Trans Coffee akan menempati space yang tadinya dipakai oleh waralaba Starbucks di lobby gedung Trans TV, Jl. Kapten P. Tendean, Jakarta Selatan.

Kalau bicara muluk, idealnya para lulusan program EMBA ini nantinya harus jadi manajer yang mumpuni, yang siap dierjunkan di mana saja, di semua perusahaan Grup Para. Jadi, lulusan EMBA yang berasal dari Bandung Supermal, misalnya, tidak harus terus berkutat di Bandung Supermal. Jika tenaganya dibutuhkan (karena ekspansi perusahaan di bawah Grup Para), dia harus mau dan siap ditugaskan di perusahaan-perusahaan lain. Ke asuransi Mega Life atau Bank Syariah Mega, misalnya. Itu idealnya.

Bagi saya pribadi, yang karena “perjalanan nasib” akhirnya menjadi salah satu peserta program EMBA (saya menggantikan posisi rekan Riza Primadi, yang hijrah ke Astro TV, sehingga batal ikut program EMBA), tak ada harapan muluk-muluk.

Syukur-syukur, setelah belajar berbagai ilmu dari sini, saya bisa memberi kontribusi strategis pada perusahaan. Atau, setidaknya memberi warna dan pengaruh yang lebih baik, pada program dan bidang yang menjadi tanggung jawab saya sekarang.

Selain itu, karena setiap Sabtu kebetulan saya juga mengajar sebagai dosen di Program Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), saya berharap ilmu yang saya peroleh juga bisa ditularkan ke mahasiswa-mahasiswa saya. Insya Allah! ***

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)