Essay - KETIKA PAK CHAIRUL TANJUNG MENETESKAN AIR MATA

Oleh Satrio Arismunandar

“Ada tissue, nggak?” ujar Pak Chairul Tanjung. Matanya berair. Selama hampir lima tahun bekerja di Trans TV, itulah pertama kalinya saya melihat CT –demikian sebutan akrab untuk pemimpin tertinggi Grup Para yang membawahi Trans TV ini—meneteskan air mata.

Ini bukan adegan sinetron, tapi betul-betul terjadi pada hari kedua Rapat Kerja gabungan Trans TV dan Trans-7 di Hotel Sheraton, Bandung, 11-13 Januari 2007. Sesaat sebelum ia memberi sambutan di podium, CT tampaknya begitu terharu melihat presentasi keberhasilan yang spektakuler dari Trans TV dalam tahun 2006.

Betapa tidak? Pada tahun 2006, Trans TV berhasil menanjak menjadi stasiun TV nomor satu untuk SES AB, dan nomor dua untuk all SES di bawah RCTI. Trans TV sendiri sudah melampaui SCTV, Indosiar, dan lain-lain.

Yang lebih mengejutkan, Trans TV berhasil meraup angka sales di atas Rp 1 trilyun, atau persisnya Rp 1,035 trilyun. Berarti Trans TV telah masuk di klub eksklusif stasiun TV yang pernah meraih nilai sales di atas Rp 1 trilyun. Yang menandingi Trans TV Cuma RCTI dan SCTV, dua pemain lama di industri TV di Indonesia. Ini suatu prestasi yang bahkan di luar perkiraan bagian Sales & Marketing Trans TV sendiri.

Namun CT tidak larut dalam keterharuan. Sesudah menghapus air matanya dengan tissue, sesaat kemudian, ia sudah kembali bersikap biasa. CT mengatakan, ia terharu karena menyadari betapa beratnya proses mencapai posisi tersebut. “Usaha yang bersusah payah, berdarah, berkeringat, sampai meneteskan air mata,” sambungnya. Prestasi terakhir ini seperti membuat suatu mimpi menjadi kenyataan.

Baru tahapan pertama

CT mengenang masa lalu, ketika baru merintis bisnis TV siaran. Waktu itu banyak yang tidak percaya. “Ada beberapa sahabat yang khusus datang untuk menasehati,” tuturnya. “Tapi ini justru membuat saya lebih tertantang, untuk membuktikan bahwa pilihan bisnis TV ini tidak salah.”

Prestasi Trans TV tahun 2006, bagi CT, barulah tahapan pertama, bukan tahapan akhir. Sedangkan bagi Trans-7 (dulu bernama TV7), ini barulah awal sebuah proses. Keduanya seperti dua mata pisau. Yang satu (Trans TV) sudah maju. Sedangkan yang satu lagi (Trans-7) mulai berproses, tetapi tentu tidak harus mulai dari nol, karena bisa belajar dari pengalaman Trans TV.

CT mengingatkan para pengelola Trans TV dan Trans-7 untuk belajar dari sejarah dan kesalahan. Menyikapi prestasi saat ini, ada tiga hal yang digarisbawahi CT.

Pertama, perjuangan belum selesai. “Kita masih jauh dari rasa ‘harus istirahat.’ (It’s still a) long way to go!” sambungnya.
Kedua, kita harus bersyukur, karena Allah SWT menyatakan, jika kita pandai bersyukur maka Tuhan akan menambah nikmatnya pada kita. “Dan wujud dari bersyukur itu dalam terjemahan saya adalah kerja yang lebih keras…” tegas CT.

Ketiga, yang telah dicapai ini bukanlah tujuan akhir. Trans TV akan berusaha menjadi stasiun TV nomor satu di all SES pada tahunn 2007, sedangkan Trans-7 menjadi nomor 4 atau 5.

Sedangkan tentang target sales tahun 2007, CT masih sempat bercanda. CT berkata: “Sales nggak perlu mencapai 3 T (baca: Rp 3 trilyun, Red.), tapi cukup 2 T. (Kalau pencapaian sales terlalu besar), nanti elu nggak mau kerja sama saya, tapi malah beli (stasiun) TV lain…ha…ha…”
Ditambahkan CT, jangan berhenti sebelum mencapai share 50%. Apakah itu mustahil? Tidak juga, karena di Filipina ada stasiun TV yang mencapai share 70 %. “Di bisnis ini, tak boleh mrasa (lebih cepat) puas diri,” lanjutnya. ***

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)