Essay - MENULIS DENGAN HATI


Oleh Satrio Arismunandar

Pernahkah engkau membaca sebuah puisi, novel, essay, atau artikel, dan dadamu kemudian terasa sesak? Engkau ingin menangis, ingin berjuang, ingin marah, ingin mengubah dunia?

Tetapi di sisi lain, banyak sekali bacaan yang sambil lalu lewat di kepalamu, dan segera terlupakan tanpa kesan apapun. Apa yang membedakan keduanya?

“Kemampuan menggerakkan hati pembaca”. Inilah kualitas yang membedakan tulisan yang dibuat sekadar jadi, sebagai bagian dari produk massal industri media, dan tulisan yang dibuat dengan “menggunakan hati.”

Tulisan “dengan hati” yang kumaksud adalah tulisan yang mengalir dari jiwa, dari sukmamu. Begitulah menulis yang benar, menulis dari getar hati terdalam. Getaran hati itu mengalir ke sekujur tubuhmu, ke tanganmu, ke jari jemari yang menekan keyboard komputer, atau menggoreskan pena di kertas. Dan akhirnya ke untaian kalimat dan kata-kata yang dibaca orang lain.

Suatu tulisan bisa menggetarkan jiwa si pembaca, jika ia memang ditulis dengan gerak hati, gerak jiwa, gerak sukma. Karena jiwa yang satu bisa menangkap getaran jiwa yang lain, walau terpisah seribu kota, walau
fisikmu tak tampak di mata. Itulah sebabnya orang bisa menangis ketika membaca Al Quran, Alkitab atau Bhagawad Gita. Atau bahkan novel-novel Pramudya Ananta Toer.

Kata-kata itu terbang, seperti kupu-kupu di taman hati, karena memiliki kekuatannya sendiri, kekuatan jiwa si penulisnya. Begitulah adanya. Maka, menulislah dengan jiwa. Tuangkan kata-katamu seperti matahari menyiramkan cahaya...begitu saja...

Tendean, 11 Agustus 2004

Buat seseorang di Lt. 3 News Trans TV, dengan getar jiwa...

Comments

indra kh said…
Salam kenal pak Satrio, postingan Anda sangat menarik. Tips menulis dengan hati ini bermanfaat buat saya. Trims.
udin said…
Mas, saya sepakat, tulisan yang muncul dari kejujuran hati penulis, maka akan mampu menyentuh pembaca. Singkatnya, menulis dengan hati, maka akan sampai ke hati pula.

Saya kagum pada karya-karya yang muncul dari kejujuran penulis. Meski sederhana, namun bisa menyentuh, bahkan menggerakkan (trigger).

Bagi saya, membaca karya-karya pengarang macam Pram, Achdiat (Atheis), Kuntowijoyo, Danarto, maupun Leo Tolstoy, meninggalkan bekas yang akan terus membayang, berkelebat muncul, sebuah rentang kenikmatan cerita yang tak habis dalam sekali membaca.

Tapi dalam prakteknya menulis dengan hati tidaklah sesederhana seperti yang banyak disampaikan orang, setidaknya yang saya rasakan. Banyak sekali persoalan yang melingkupi dalam proses kelahiran sebuah tulisan/karya, sebelum karya itu berujud di layar monitor atau kertas. Menulis juga butuh konsentrasi segenap pikiran. Nah di sini muncul persoalan, yang saya kira tidak mudah, yakni bagaimana menyatukan hati dengan pikiran, kemudian menuntun jari-jari yang menghentakkan tuts-tuts keybord. Barangkali Anda punya tipsnya yang bisa dibagi?
IRA LATHIEF said…
Menulis dengan hati menurut saya adalah saat kita menulis dgn jujur, apa adanya yg di pikiran kita, tanpa pretensi apapun. Tapi itu menurut saya loh, dan itu rasanya sulit dikompromikan apabila harus berbenturan dengan tuntutan dunia industri.

Makasih yah Pak Satrio, udh me-link blog saya (iralennon) dan Unik di blog bapak yg hebat ini.

Salam kenal dari seorang pengejar angkot professional :)

www.iralennon.blogspot.com
ea_12h34 said…
saya ijin ngutip potongan tulisannya untuk di taruh di blog saya makasih sebelum nya senang bs berkunjung kemari dan numpang baca-baca yah
mumu said…
bwahahahaha...nulis yo nganggo tangan to mas, mosok nganggo ati, lha kepriye carane. ngasih tips jgn yg abstrak ah nggak aplikabel hihihi...
raida said…
sedang merenung dan menghayati...hemm..

btw, lam kenal mas...mas apa mba yakk..
desy said…
Betul, setuju sekali. Sebagai jurnalis di liputan seni dan budaya (dengan jam terbang masih minim hehehe), saya selalu menekankan pada diri sendiri bahwa menulis harus dengan hati.
Tapi, kadang deadline menulis yang sangat singkat membuat saya kadang terburu-buru menulis.
Padahal, menulis dengan hati akan menghasilkan karya yang jauh lebih indah...
diningrat said…
sangat menarik sekali artikel2 yang ada disini....
sangat membantu saya untuk lebih mengetahui tentang dunia jurnalist...

salam kenal bang....
blognya aku link ya...
bolehlah jika blogku di back link disini....

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)