Essay - WARTAWAN TIDAK BOLEH BUTA WARNA?


Oleh Satrio Arismunandar

Belum lama ini saya baca iklan penerimaan wartawan baru Harian Kompas. Salah satu syarat di sebutkan disitu: "Tidak buta warna." Saya jadi bertanya-tanya, apa sih makna tak boleh buta warna di situ?
Kalau untuk jadi dokter, ahli farmasi, dsb, saya bisa paham. Ahli kimia atau farmasi yang tak bisa membedakan warna bisa membahayakan keselamatan orang, karena keliru membedakan zat kimia atau campuran obat. Untuk desainer grafis, soal buta warna jelas ada pengaruhnya. Tapi reporter?
Kenapa saya bertanya ini? Karena faktanya: saya adalah mantan wartawan Harian Kompas yang menderita buta warna. Meskipun bukan buta warna total (saya masih bisa membedakan warna lampu lalu lintas). Toh selama saya kerja di Harian Kompas (1988-1995), tidak pernah ada masalah dengan kebutawarnaan tersebut. Saya mungkin malah termasuk salah satu wartawan yang paling produktif di masa itu (bisa dicek dari ketebalan ordner arsip tulisan-tulisan saya).
Mungkin kriteria Kompas itu agak relevan untuk wartawan seni, yang tugasnya mengulas karya seni lukis, atau wartawan mode, yang mengulas warna busana. Namun sayang sekali, jika Kompas harus menolak calon wartawan yang potensial jagoan di bidang sosial-ekonomi atau politik, hanya karena menderita buta warna (yang bukan buta warna total pula). ***
Jakarta, Maret 2007

Comments

Jennie said…
Interesting, kurang relevan namun perlu juga.

~ Jennie S. Bev
http://www.jennieforindonesia.com
ida abidin said…
Hallo Mas Satrio, awak mo salam saja...

akhirnya saya nemu blognya di blog mbak Jennie. selama ini awak cuma tahu Anda di millis ppiindia.

thx :D
ndahdien said…
mungkin biar bisa mbedain warna duit ya mas hehehe (ups!! ntar saya disomasi)

wahh ka'nya warga ppindia pada mampir kesini nih, salam buat semua.
icha said…
wartawan seharusnya memang tidak butawarna karena tugas wartwan terkait dengan melaporkan apa yang dilihat. Jika dia buta warna, hasil laporannya jadi tidak akurat. Padahal akurasi laporan sangat penting.
Salamov Rijadic said…
salam kenal mas, menurutku idealnya wartawan memang enggak buta warna, idealnya lho, cuma kadang yang tadinya dianggap ideal itu bisa kalah sama yang enggak dianggap ideal. Dan mas satrio sudah membuktikan hal itu. Moga sukses mas.
E-konom said…
Saya setuju mas bahwa permasalahan buta warna (dalam hal ini parsial) terlalu dibesar-besarkan.

Saya akui buta warna total memang sangat berpengaruh terhadap banyak jenis pekerjaan. Ini dikarenakan mereka hanya bisa melihat gradasi hitam dan putih.

Tapi coba bayangkan betapa menderitanya buta warna parsial seperti saya. Saya adalah buta warna parsial yang 'cuma tidak bisa melihat gradasi warna hijau dan merah dengan baik' (NB: SAYA BISA MELIHAT SEMUA JENIS WARNA TERMASUK MERAH DAN HIJAU, SAYA HANYA TIDAK SEMPURNA MENANGKAP GRADASINYA).

Tapi apa? Sangat sulit buat saya untuk melamar sebuah pekerjaan, walaupun saya adalah seorang lulusan fakultas ekonomi. Sialnya dunia medis dengan gampang memberikan label : buta warna, tak peduli total atau parsial!

Sialnya, orang2 awam (dalam hal ini Bagian HRD di perusahaan2) tidak mau ambil pusing untuk tahu: apa sih itu buta warna. Yang kebanyakan mereka tahu, buta warna itu tidak bisa bedakan warna. Sial sekali saya dan mungkin banyak teman yang lain.

Semoga Phobia-BlindColourness ini bisa diangkat teman2 wartawan agar perusahaan2 tidak lagi sedemikian kejamnya mendiskriminasi orang yang buta warna (terutama parsial).


Huh, padahal kebanyakan kaum buta warna parsial tidak sadar mereka buta warna; karena mereka bisa melihat warna!

Dasar dunia medis!

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI