TRANS CORPORA, PARA GROUP, DAN VISI INDONESIA 2030




Oleh Satrio Arismunandar
Sebagai jurnalis yang bekerja di sebuah perusahaan media, kita tidak cuma dituntut untuk tahu segi teknis-operasional kerja jurnalistik, yang kita lakukan sehari-hari. Namun, kita juga perlu tahu bagaimana nature, budaya perusahaan (corporate culture), posisi dan visi-misi perusahaan tempat kita bekerja di industri media bersangkutan.

Pemahaman ini penting karena sebuah perusahaan media tidaklah hidup dalam ruang vakum. Perusahaan media selalu berada dalam tarik-menarik antara idealisme jurnalistik dan kepentingan bisnis yang menghidupinya, dan semua dinamika itu ditempatkan dalam konteks sosial-ekonomi, budaya, dan politik di lingkungan tempat ia hidup. Hal ini juga berlaku untuk Trans TV dan Trans-7.

Trans TV dan Trans-7 merupakan perusahaan media yang berada di bawah payung Trans Corpora. Trans Corpora sendiri adalah bagian dari Para Group, yang memfokuskan diri pada bisnis di bidang media, lifestyle dan entertainment. Oleh karena itu, dalam mengamati kiprah Trans TV, Trans-7 dan bagaimana proyeksi ke depannya, kita perlu memahami bagaimana posisi Trans Corpora dan Para Group itu sendiri, serta visi ke depannya.

Para Group membagi bisnis utamanya pada tiga bidang utama. Pertama, bidang financial services, yang dipayungi oleh Mega Global Finance (MGF). Di bawah MGF ini terdapat sejumlah perusahaan, yaitu: Bank Mega, Bank Syariah Mega Indonesia, Mega Insurance, Mega Life, PARA Financing, Mega Capital Indonesia.

Kedua, bidang media, lifestyle dan entertainment, yang dipayungi oleh Trans Corpora. Di bawah Trans Corpora ini terdapat: Trans TV, Trans-7, Trans Coffee, Trans Lifestyle, PT. Bara Bali, Mahagaya, dan perusahaan property (Bandung Supermal, PT. Batam Indah Investindo, dan PT. Mega Indah Investindo). Yang sedang dalam proses adalah Trans Studio Makassar.

Ketiga, bidang energy, mining & infrastructure, yang dipayungi oleh CT Global Resources. Usaha ke arah ini masih dalam proses, dan berbeda dengan dua bidang utama lainnya, akan lebih banyak memerlukan keterlibatan pihak pemerintah.

Pertimbangan Strategis

Pertanyaan berikutnya, mengapa tiga bidang utama tersebut yang dipilih sebagai bisnis inti dari Para Group? Pertimbangan strategisnya sebagai berikut: Bisnis financial services memungkinkan pengumpulan asset keuangan yang besar. Misalnya, Bank Mega. Namun, sampai tahap tertentu, tingkat pertumbuhan dan profitnya tidak akan terlalu tinggi.

Oleh karena itu, bisnis finansial itu perlu diimbangi bisnis lain, seperti bisnis media, lifestyle dan entertainment. Berbeda dengan bisnis finansial, bisnis media, lifestyle dan entertainment menjanjikan tingkat keuntungan yang tinggi. Meskipun asset-nya tidak sebesar bisnis finansial semacam bank, misalnya. Prestasi perolehan iklan dan profit Trans TV tahun 2006, misalnya, relatif tinggi jika dibandingkan dengan assetnya.

Sedangkan bisnis bidang energy, mining & infrastructure menjanjikan suatu kesinambungan usaha dan prospek jangka panjang. Artinya, jika sudah mantap di bisnis ini, kelangsungan hidup perusahaan diperkirakan relatif aman. Dalam bisnis energi, seperti pembangkit tenaga listrik, misalnya, relatif aman karena kebutuhan konsumen akan energi listrik tidak pernah berkurang, malah selalu bertambah dari tahun ke tahun. Namun, dalam bisnis ini, Para Group harus menjalin hubungan baik dengan pemerintah dan PLN, karena sektor energi dan pertambangan merupakan sektor yang vital bagi ekonomi negara.

Para Group dan Visi Indonesia 2030

Para Group, dan Trans Corpora yang bernaung di bawahnya, ingin tumbuh menjadi pemain besar di tingkat global, dan tidak puas dengan sekadar bermain di tingkat nasional. Namun, pencapaian ambisi ini sedikit-banyak tentunya akan terkait dengan kondisi ekonomi nasional. Karena, untuk bisa berkembang dan tumbuh besar, Para Group tentulah membutuhkan kondisi lingkungan Indonesia yang kondusif bagi perkembangan dan pertumbuhannya.

Dalam kaitan kondisi lingkungan strategis itulah, muncul apa yang kita sebut sebagai Visi Indonesia 2030. Kerangka dasar Visi Indonesia 2030 itu, pada 22 Maret 2007, telah disampaikan secara resmi di Istana Negara oleh Ketua Yayasan Indonesia Forum, Chairul Tanjung, di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Yayasan Indonesia Forum merupakan organisasi yang dimotori Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) dan kajiannya dilakukan sejumlah lembaga penelitian universitas di Indonesia dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Visi Indonesia 2030 itu menyatakan, pada abad ke-21, Indonesia akan mampu menjadi negara maju dan sejahtera. Indonesia menjadi bangsa yang mandiri, produktif, memiliki daya saing, serta mampu mengelola seluruh kekayaan alam dan sumber daya lainnya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.

Visi Indonesia 2030 itu mempunyai empat pencapaian. Pertama, Indonesia akan masuk dalam lima besar kekuatan ekonomi dunia dengan tingkat pendapatan per kapita sebesar 18.000 dollar Amerika Serikat (AS) per tahun. Ini berarti Indonesia berada di posisi kelima setelah China, India, AS, dan Uni Eropa."Kedua, tahun 2030, sedikitnya 30 perusahaan Indonesia masuk daftar 500 perusahaan besar dunia. Ketiga, adanya pengelolaan alam yang berkelanjutan, dan keempat, terwujudnya kualitas hidup modern yang merata," ujar Chairul.
Menurut Chairul, saat ini Indonesia berada pada kelompok negara berpendapatan menengah ke bawah. Posisi ini akan bertahan hingga tahun 2015. Setelah itu, Indonesia masuk sebagai negara berpendapatan menengah ke atas. "Industrialisasi menjadi katalisator akumulasi modal menuju negara maju dengan kontribusi terbesar dari sektor jasa," paparnya.
Visi Indonesia 2030 mengasumsikan pencapaian itu terealisasi jika pertumbuhan ekonomi riil rata-rata 7,62 persen, laju inflasi 4,95 persen, dan pertumbuhan penduduk rata-rata 1,12 persen per tahun. Pada 2030, dengan jumlah penduduk sebesar 285 juta jiwa, produk domestik bruto (PDB) Indonesia mencapai 5,1 triliun dollar AS.
Persyaratan, Sinergi dan Kontrak Sosial Baru

Namun, untuk mewujudkan visi itu, Yayasan Indonesia Forum mensyaratkan utama tercapainya tiga keharusan. Pertama, ekonomi berbasis keseimbangan pasar terbukadengan dukungan birokrasi yang efektif. Kedua, adanya pembangunan berbasis sumber daya alam, manusia, modal, serta teknologi yang berkualitas dan berkelanjutan.Ketiga, perekonomian yang terintegrasi dengan kawasan sekitar dan global.

Untuk mencapai visi itu, menurut Chairul, harus ada sinergi tiga kelompok, yaitu wirausaha, birokrasi, dan pekerja pula. "Sinergi ini mengarah pada peningkatan daya saing global perekonomian Indonesia," ujarnya.Sinergi itu, tambah Chairul, membutuhkan kontrak sosial baru sebagai perwujudan komitmen bersama untuk maju. "Satu dimensi penting kontrak sosial baru adalah kepastian hukum dan kepastian usaha. Untuk itu, pemberantasan korupsi serta pembenahan sistem dan aparat penegak hukum perlu dilanjutkan," tuturnya.

Visi Indonesia 2030, menurut Chairul, hanyalah kerangka dasar yang perlu ditanggapi dan diberi masukan oleh berbagai elemen bangsa lainnya.
Menanggapi kerangka dasar Visi Indonesia 2030 itu, Presiden SBY menyatakan, "Saya punya keyakinan, 100 tahun ke depan kita bisa mewujudkan cita-cita dan tujuan dalam Pembukaan UUD 1945. Mengapa kita perlu yakin? Kalau lihat lintasan perjalanan sejarah kita, itu memungkinkan. Jika kita ingin merekonstruksikan masa depan kita 100 tahun ke depan, mari kita lihat perjalanan bangsa 100 tahun ke belakang. Dengan demikian, kita paham perjalanan panjang sejarah untuk memiliki kemampuan danketangguhan dalam mewujudkan cita-cita.”
Menurut Presiden, Visi Indonesia 2030 itu bisa saja dianggap sebuah mimpi, tetapi jangan malu dengan mimpi itu. "Sebab, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menciptakan mimpi dan mewujudkannya dalam realitas," ujarnya. Ia menambahkan, Visi Indonesia 2030 merupakan wujud kesadaran dan kepedulian anak bangsa, untuk lebih memajukan dan menyejahterakan seluruh rakyat. ***

Comments

Tukang Ketik said…
1. salam kenal
2. bapak tidak takut di cekal oleh perusahaan bapak jikalau membeberkan info perusahan bapak?
3. ada info lowongan trans tv ga? hehehe...

salam hangat

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)