WS RENDRA DI FENOMENA - TRANS-7

Oleh Satrio Arismunandar

Tahukah Anda bahwa ketika kecil, WS Rendra tak pernah bercita-cita jadi penyair atau seniman, tetapi malah ingin jadi jenderal? Nah, kisah Rendra ini, Insya Allah, akan ditayangkan dalam program Fenomena di Trans-7, pukul 23.30 WIB, hari Jumat (27 April 2007) ini. Fenomena akan menayangkan episode “WS. Rendra, Sebuah Sketsa.”

Rendra adalah seniman dan budayawan besar Indonesia yang komplit. Ia menjadi penyair, cerpenis, eseis, dramawan, sutradara, dan juga aktor film. Sumbangan Rendra pada seni dan kebudayaan Indonesia membuatnya pantas diprofilkan.

Bagi para seniman muda, sosok Rendra yang sudah berusia di atas 70 tahun ini memang sudah seperti legenda yang hidup (the living legend). Pada tahun 2007 ini, setelah sekian lama “menghilang,” Rendra muncul lagi dan bermain dalam film “Lari dari Blora,” yang mengangkat kehidupan dan perjuangan masyarakat Samin.

Sosok Rendra juga tak bisa dipisahkan dari keberadaan Bengkel Teater, yang pertama kali didirikan di Yogyakarta, dan kemudian pindah ke Cipayung, Depok, Jawa Barat. Sejumlah tokoh pernah belajar atau mondok di Bengkel Teater, termasuk Teguh Karya, Arifin C. Noer, Putu Wijaya, dan bahkan Ishadi SK (Dirut Trans TV sekarang).

Liputan tentang Rendra ini saya lakukan sendiri, karena sejumlah reporter Fenomena cuti atau ada tugas lain. Saya dan Asprod Dodi Nasution harus “memburu” Rendra ke Ternate, Maluku Utara, pertengahan April 2007, untuk bisa mewawancarainya. Maklum, Rendra sangat sibuk. Dia diundang ke Ternate oleh Sultan Ternate H. Mudaffar Sjah, yang juga sahabatnya, dalam acara peringatan hari ulang tahun ke-72 Sultan Mudaffar Sjah. Sebagai tamu Sultan, Rendra menginap di kompleks keraton Kesultanan Ternate.

Wawancara baru bisa dilakukan jam 11.00 malam, di pendopo keraton. Berkat kebaikan pihak keraton, kami bisa meminjam tempat dan menggunakan listrik istana secara gratis. Wawancara diselingi jeda sekitar 40 menit, karena Rendra berdialog dan ngobrol dengan Sultan serta tamu-tamu lain. Ketika wawancara usai, sudah hampir jam 2.00 dinihari. Padahal paginya, Rendra bilang mau ke Halmahera dulu. Kemudian, sepulang dari Ternate nanti, Rendra ada acara manggung bersama Iwan Fals di Aceh.

Dalam episode ini, Rendra banyak bicara tentang peran dan arti penting tradisi, dan bagaimana seharusnya seniman memandang tradisi. Juga soal proses kreatifnya sebagai seniman, dan bagaimana menempatkan idealisme kesenian bersanding dengan kebutuhan nafkah, yang dipenuhi lewat “menjual karya seni” tersebut. Untuk memberi penilaian tentang Rendra dan karya-karyanya, kami mewawancarai Sapardi Djoko Damono (penyair) dan Putu Wijaya (dramawan). ***

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)