Essay - MENTERI YANG BUNUH DIRI

Oleh Satrio Arismunandar

Berita di Radio Nederland, 28 Mei 2007, kembali menggarisbawahi bahwa bangsa Jepang bukanlah bangsa yang soft dalam masalah korupsi. Benar, korupsi juga ada di Jepang, bukan cuma di negara berkembang semacam Indonesia. Tetapi rasa malu ketika korupsi itu terungkap, masih sangat kuat. Seorang pejabat yang ketahuan korupsi, akan mundur. Bahkan, dalam wujud ekstrem, melakukan harakiri, seperti contoh di bawah ini.

Menteri Pertanian Jepang, Toshikatsu Matsuoka, melakukan bunuh diri setelah ia dihubungkan dengan skandal korupsi. Menteri berusia 62 tahun tersebut menggantung diri di tempat tinggalnya di Tokyo. Dia kemungkinan menerima dana kampanye untuk ditukar dengan tender pemerintah bagi perusahaan. Minggu lalu dua pejabat tinggi juga ditahan sehubungan dengan skandal ini. Popularitas pemerintahanPerdana Mentri Shinzo Abe turun sebagai akibat dari masalah ini. Di bulan Juli 2007, dijadwalkan akan diadakan pemilihan parlemen di Jepang.

Bandingkan di negeri kita! Orang yang sudah terang-terangan ketahuan korupsi, bukannya malu, tetapi malah bangga. Buktinya? Oh, banyak sekali. Misalnya, seorang pegawai negeri yang --secara akal sehat-- tidak mungkin bisa beli rumah mewah dan sedan jaguar dengan mengandalkan gajinya semata, malah bangga menunjukkan bahwa ia punya rumah dan mobil mewah! Apalagi rumah dan mobil mewah itu lebih dari satu pula!

Lebih buruk lagi, masyarakat kita sekarang makin jauh dari menghargai nilai kejujuran. Buktinya, seorang pejabat yang ketahuan korupsi, atau pengusaha pengemplang dana BLBI, masih diperlakukan dengan hormat di mana-mana. Mereka bahkan tetap diberi jabatan di pemerintahan! Tidak ada sanksi moral, atau sanksi sosial. Apalagi hukuman pidana!

Jadi, tidak usah heran jika kita melihat orang menunduk-nunduk atau tersenyum lebar, ketika mereka menyalami pejabat tinggi dan pengusaha korup. Bahkan banyak orang justru merasa bangga, jika bisa dekat dengan mereka, para penghisap uang rakyat! Tapi, coba lihat, bagaimana sikap mereka jika bertemu dengan --katakanlah-- seorang guru SD yang jujur, hidup bersih, tetapi miskin? Atau, rakyat kecil korban lumpur Lapindo, atau korban penggusuran, dan orang-orang "tak bernama" lainnya!

Ketika di sebuah negeri, orang-orang yang bermoral bejad dan dzalim dihormati, sementara orang jujur dan miskin diejek atau direndahkan, maka tak heran jika negeri itu selalu dalam bencana atau krisis. Kita tidak bisa menunggu kedatangan "Ratu Adil" atau "Messiah" untuk memperbaiki kondisi bangsa ini. Semua itu harus kita ubah dengan tangan kita sendiri! Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu bangsa, kecuali bangsa itu sendiri mau mengubah nasibnya. ***

Comments

Anonymous said…
Ass, Makasih bang...atas keterangannya

KONTRI TRANSTV-SIBOLGA/SUMUT

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)