PEMANFAATAN MEDIA DALAM ADVOKASI UPAH MINIMUM


(Foto liputan crew Fenomena di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, 13-16 Mei 2007)
Oleh Satrio Arismunandar

Pengantar

Perjuangan buruh di Indonesia untuk memperoleh hak-haknya bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Untuk mengefektifkan dan memudahkan tercapainya tujuan-tujuan perjuangan buruh, yang diorganisasikan lewat serikat-serikat buruh yang ada, hal ini tentunya perlu mendapat dukungan dari berbagai sektor. Salah satu sektor penting itu adalah media.

Apalagi di era informasi, dengan perkembangan teknologi yang pesat di bidang telematika (telekomunikasi, media dan informatika), kebutuhan akan media bagi perjuangan buruh itu justru semakin mencolok. Sangat disayangkan, jika keberadaan media yang sudah makin menyatu dan mendunia ini tidak atau kurang kita manfaatkan.

Dari bentuknya, media massa secara sederhana kita bagi tiga: media cetak (koran, majalah, buletin, selebaran, dan sebagainya), media siaran/elektronik (radio, TV), dan new media (Internet). Ada juga bentuk-bentuk media luar ruangan (billboard, papan reklame, dan lain-lain) yang tidak masuk dalam pembahasan kita di sini.

Ketika kita bicara tentang pemanfaatan media, ada dua macam media di sini. Pertama, media yang memang dimiliki dan dikelola oleh para aktivis buruh atau serikat buruh sendiri, untuk kepentingan memperjuangkan kepentingan buruh. Kedua, media yang dikelola atau dimiliki oleh pihak luar (swasta), yang mungkin bisa kita manfaatkan pula untuk ikut memperjuangkan kepentingan buruh.

Peran dan fungsi Media
Media massa, atau dalam dunia jurnalistik dikenal sebagai Pers, memiliki berbagai macam peran. Peran pertama dan utama adalah menyiarkan informasi (to inform), entah informasi tentang peristiwa yang terjadi, gagasan, atau pikiran orang. Orang membaca suratkabar terutama karena ingin mencari informasi.

Peran kedua adalah mendidik (to educate). Lewat pemberitaannya, pers mencoba memberi pencerahan, mencerdaskan, dan meluaskan wawasan khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsanya. Dalam konteks politik, pers memberikan pendidikan politik kepada masyarakat, menyadarkan mereka akan hak dan kewajibannya sebagai warga.

Peran ketiga adalah menghibur (to entertain). Hal-hal yang bersifat menghibur sering kita temukan di media massa –seperti: berita seputar selebritis, teka-teki silang, cerita bersambung, dan lain-lain-- sebagai selingan dari berita-berita berat yang lain.

Peran keempat adalah mempengaruhi (to influence). Media yang independen dan bebas dapat mempengaruhi dan melakukan fungsi kontrol sosial (social control). Yang dikontrol bukan cuma penguasa, pemerintah, parlemen, institusi pengadilan, militer, tetapi juga berbagai hal di dalam masyarakat itu sendiri.

Dalam konteks pemanfaatan media untuk memperjuangkan kepentingan buruh, khususnya dalam advokasi upah minimum, jelaslah bahwa media ini menjalankan peran utama berupa penyebaran informasi, mendidik (memberi pembelajaran), menyampaikan kritik sosial (terutama terhadap kondisi ketimpangan dan ketertindasan. Media juga berusaha mempengaruhi agar dilakukan perubahan kebijakan, ke arah perbaikan kondisi kehidupan buruh.

Pengertian Advokasi secara umum:

Unsur membela, memberi saran, memberi pertimbangan, memberi pemahaman kepada pihak tertentu (masyarakat), dalam suatu masalah tertentu.

Hal-hal yang akan dikampanyekan dalam Advokasi, antara lain :
Pertama, wacana, ide, gagasan, atau ideologi. Contohnya: Kesetaraan gender, HAM, penegakan hukum, lingkungan hidup, demokratisasi, KB, dll.
Kedua, kasus-kasus kongkret tertentu. Seperti: Penggusuran, pencemaran lingkungan, penyerobotan tanah milik rakyat, PHK secara sewenang-wenang, aksi teror, pelanggaran HAM, dan sebagainya.

Media sebagai sarana untuk kampanye advokasi :

*Media yang dimiliki atau dikelola sendiri:

Pemanfaatan media ini sedikit-banyak umumnya sudah dilakukan di banyak serikat buruh, dengan pembuatan brosur, selebaran, buletin, situs internet, dan sebagainya. Isi media ini umumnya adalah memberikan pembelajaran tentang hak-hak kaum buruh dan cara-cara memperjuangkannya.

Selain digunakan untuk keperluan intern, media yang dikelola sendiri semacam ini juga berguna untuk membangun jaringan kerjasama dengan serikat-serikat buruh lain, baik dalam sektor yang sama/sejenis atau pun sektor lain. Media ini juga dapat digunakan untuk sarana sosialisasi program-program serikat buruh dan mencari dukungan, serta rekrutmen anggota baru.

**Media luar (swasta):

Media luar yang dimiliki swasta biasanya dikelola berdasarkan prinsip komersial (mencari keuntungan ekonomi), dan tentunya kecil kemungkinan media ini akan mau memuat informasi yang bertentangan dengan kepentingan pemilik media. Media sudah menjadi industri tersendiri, sehingga dalam operasionalisasinya juga semakin mengedepankan kepentingan industrialnya (aspek bisnis).

Namun, sampai tahap tertentu, media ini juga bisa dimanfaatkan untuk memperjuangkan kepentingan serikat buruh, selama tidak berbenturan langsung dengan kepentingan media bersangkutan. Untuk bisa memanfaatkannya, aktivis buruh atau NGO perlu memahami bagaimana cara media massa ini bekerja.

Kriteria pemuatan berita di media :


Penting : Menyangkut kepentingan masyarakat banyak.
Menarik/Unik: Sesuatu yang tidak biasa.
Aktual : Baru/sedang terjadi.
Keterkenalan : Melibatkan figur/tokoh yang sudah dikenal.
Kedekatan : Kedekatan fisik & kedekatan emosional.
Magnitude : Seberapa besar dampak/skala peristiwa tersebut.
Human Interest: Menyangkut manusia.
Unsur konflik: Adanya unsur konflik (buruh vs. majikan yang menindas).
Trend : Hal-hal yang menjadi tren/kecenderungan dalam masyarakat.

Faktor internal media :

Reporter: Ujung tombak pencari berita di lapangan, dengan segala kekuatan dan kelemahannya (wawasan, pendidikan, pengetahuan, kepentingan, idealisme, dsb).
Redaktur: Mengolah, melengkapi, mengedit berita, dengan segala kekuatan dan kelemahannya (wawasan, pendidikan, pengetahuan, kepentingan, idealisme, dsb).
Pemilik media: Memberi pengaruh pada kebijakan media bersangkutan.
Misi media bersangkutan: Tujuan besar yang menjadi lanadasan penyikapan suatu media terhadap berbagai masalah, yang dalam operasionalnya diwujudkan dalam kebijaksanaan redaksional.
Media sebagai institusi ekonomi-bisnis: Pengaruh faktor-faktor ekonomi-bisnis. Seperti: Iklan, tiras, kepentingan ekonomi pemilik media, anak perusahaan, monopoli media, dsb.
Media sebagai institusi politik: Pengaruh faktor-faktor politik. Afiliasi politik dari pemilik media, kepentingan politik, dsb.

Prinsip dalam Upaya Memanfaatkan Media untuk Advokasi:

* Pers bukan musuh, dan harus diupayakan sebagai mitra.
* Pers bisa berguna, jika kita tahu bagaimana berhubungan dengan media.
* Jangan coba menipu atau memberi informasi yang tidak sesuai dengan fakta kepada pers, karena akan mengurangi/merusak kredibilitas kita.
* Jangan berpikir bahwa pers akan mengutip mentah-mentah informasi dari kita. Pers akan mengecek dan membandingkan dengan sumber-sumber lain.
* Yang harus dilakukan adalah memberi pemahaman tentang duduknya persoalan menurut perspektif kita, dan selanjutnya pers akan mengambil sikap sendiri tentang permasalahan tersebut.

Depok, 20 Juni 2007

Makalah untuk “Pelatihan Advokasi Pengupahan: Perjuangan Serikat Buruh dalam Upah Minimum” yang diselenggarakan Trade Union Rights Centre (Pusat Studi dan Advokasi Hak-hak Serikat Buruh) bekerjasama dengan Forum Buruh Surabaya (FBS), Minggu, 24 Juni 2007, di Asrama Haji Bekasi.

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI