KEUNIKAN JURNALISME KULINER - MENGAPA "SELALU ENAK?"

Oleh Satrio Arismunandar
Bondan Winarno, ahli kuliner yang ngetop dengan ungkapan “maknyus” itu tampak mengunyah hidangan yang tersaji di depannya. Tetapi mendadak, ia langsung memuntahkannya! “Tidak enak! Betul-betul tidak ada nikmatnya!” ujarnya, menyumpah-nyumpah.

Pernahkah Anda menyaksikan tayangan semacam itu di layar televisi? Ya, pasti tidak pernah. Semua yang dimakan Bondan di layar televisi selalu enak, gurih, nikmat, sedap, dan pokoknya… “maknyuss!”

Sejumlah rekan pernah bertanya kepada saya, mengapa liputan tentang masakan –semacam program Wisata Kuliner-- di media televisi hanya menayangkan makanan yang enak-enak saja? Kenapa tidak pernah ada yang meliput restoran yang menyajikan masakan yang tidak “maknyus?”

Jawaban saya, liputan semacam Wisata Kuliner itu memang bukan jurnalisme yang bisa kita bandingkan dengan liputan peristiwa kebakaran, kecelakaan, bencana alam, konflik politik, kriminalitas, dan sebagainya. Wisata Kuliner sepatutnya kita masukkan dalam rubrik “pelayanan masyarakat”.

Sifatnya informatif, seperti info tentang acara bioskop besok sore, atau info-info ringan lain yang dibutuhkan masyarakat. Wisata Kuliner memberi informasi pada pemirsa yang doyan makan enak atau ingin mencoba berbagai jenis masakan di berbagai tempat. Tentu saja, secara logika, tidak ada pemirsa atau konsumen yang sengaja mencari restoran yang hidangannya tidak enak. Mereka hanya mau makan santapan yang lezat, khususnya yang direkomendasikan oleh Bondan Winarno, wartawan, atau media massa.

Maka “Jurnalisme Kuliner”, kalau saya boleh menyebutnya demikian, adalah selalu “berpihak” dan “satu arah.” Bahkan (meskipun tidak dimaksudkan demikian), sulit untuk menghindarkan kesan promosi terhadap makanan dan restoran bersangkutan.

Dalam tayangan televisi, jelas disebutkan nama restoran dan alamatnya, sehingga pemirsa yang penasaran bisa langsung pergi sendiri ke restoran bersangkutan untuk mencicipi hidangannya. Kalau pun nama restoran dan alamatnya tidak disebutkan, penonton yang penasaran akan menelepon stasiun TV bersangkutan. Dan, sebagai bagian dari upaya melayani audience, tentu saja wartawan bersangkutan akan memberitahukan nama restoran dan alamatnya.

Tentu saja, liputan kuliner juga bisa sekaligus dijadikan lahan iklan bagi stasiun TV bersangkutan. Misalnya, bekerjasama dengan produsen produk-produk tertentu (bumbu masak, kecap, bakmi, mentega, minyak goreng, dan sebagainya). Ini sering dilakukan secara terang-terangan.

Semua akhirnya berpulang ke pemirsa sebagai konsumen. Mau percaya penuh, atau skeptis terhadap makanan di restoran tertentu yang direkomendasikan oleh media. Tapi yang jelas, pasti Bondan Winarno, wartawan, dan media juga tidak berani “asal-asalan” dengan merekomendasikan masakan yang tidak enak, karena ini terkait dengan kredibilitas mereka.

Jadi, kalau makanan itu dibilang “enak,” paling tidak rasanya pasti lumayan lah! Tidak mungkin tidak enak, meskipun akhirnya ada juga faktor selera dalam hal ini. Mohon maaf, jika tulisan saya ini tidak “maknyuss!” ***
Jakarta, Juli 2007

Comments

auliahazza said…
ooh, rupanya ada juga yang dimakan pak kuliner ga enak. Kami kalau menonton pak Bondan, selalu saling bertanya, "kok enak melulu ya ?". Atau pak bondan pernah ga kalau habis makan jadi perutnya sakit padahal makanannya enak.

Atau Pak bondan kan makan segala jenis makanan, apakah ga takut sakit ? Misalnya keseringan nyicip santan, lemak dll deh?
iya juga sih

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI