Essay - NASIHAT PERKAWINAN UNTUK SEORANG REPORTER


Oleh Satrio Arismunandar

Seorang reporter di perusahaan media tempatku bekerja secara khusus menemuiku, dan menyerahkan undangan resepsi pernikahannya, yang akan berlangsung minggu depan. Entah serius, entah hanya sebagai basa-basi, ia meminta nasihat perkawinan dariku. Hal ini mungkin karena aku adalah producer yang menjadi atasannya secara langsung, atau aku dianggap sebagai orang yang “dituakan” di kantor.

“Aku punya empat nasihat untuk kamu. Kalau setiap nasihat ini kamu praktikkan dalam kehidupan berumah tangga, Insya Allah, perkawinanmu nanti akan aman, lancar, tenteram, dan bertahan selamanya,” ujarku.
“Wah, terimakasih, mas Satrio. Apa nasihat yang pertama?”

“Yang pertama, sabar.”
“Betul juga. Kalau pasangan suami-istri tak punya kesabaran, masalah rumah tangga yang sekecil apapun bisa menjadi besar, dan perkawinan pun terancam bubar,” reporterku itu manggut-manggut. “Baiklah, apa nasihat yang kedua, mas?”

“Yang kedua, sabar.”
“Wah, rupanya kesabaran itu sangat penting ya, sampai-sampai mas Satrio memberi penegasan aspek sabar itu pada nasihat kedua? Baiklah, apa yang ketiga, mas?”

“Yang ketiga, sabar.”
“Masya Allah! Sebegitu pentingkah kesabaran itu, sampai-sampai mas Satrio mengulang dan menegaskannya lagi pada nasihat ketiga? Please deh, mas. Untuk nasihat keempat nanti, jangan menyebut ‘sabar’ lagi, karena saya sudah betul-betul paham dan mengerti kok, bahwa kesabaran itu sangat diperlukan dalam mengarungi kehidupan berumah tangga.” Reporterku itu tampak mulai kesal.

“Jangan khawatir. Nasihat yang keempat ini berkaitan dengan doa.”
“Oh, begitu ya. Baiklah, doa yang bagaimana, mas?”

“Menikah dengan niat taat pada Allah dan mengikuti Sunnah Rasul itu adalah suatu kebajikan. Maka, sering-seringlah berdoa kepada Allah, agar kamu diberi lebih banyak kesabaran. Karena, bersabar dalam kebaikan itu adalah suatu ibadah, yang besar pahalanya di sisi Allah SWT.”
Gedubrak!

Catatan:
Tulisan di atas hanyalah “reka adegan,” alias bukan kejadian yang sebenarnya. Namun, jika ada orang yang minta nasihat perkawinan padaku, mungkin itulah nasihat yang bisa kuberikan. Kutulis essay ini untuk crew News Trans TV, yang melangsungkan resepsi pernikahan pada hari Minggu, 17 November 2007. Yaitu: Dian Anggraini yang menikah dengan Ahmad Fauzan Nurrahmat, dan Mohamad Firdaus Amien (Idos) yang menikah dengan Utari Kemal (Tari). Semoga mereka semua berbahagia selamanya!

Depok, 19 November 2007

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI