Essay - REPOTNYA PUNYA ANAK YANG "TERLALU JUJUR"

Oleh Satrio Arismunandar

Umumnya orangtua selalu mengajari anaknya untuk berlaku jujur. Tetapi, kalau "terlalu jujur" dan tanpa basa-basi, betul-betul merepotkan. Ini yang saya alami pada dua putri saya, Dhifa (kelas IV SD) dan adiknya Rifa (kelas II SD). Anak saya ketiga, Fawwas Ahmadinejad (4 bulan), adalah laki-laki dan masih terlalu kecil.

Dhifa sekali waktu pernah diajak ibunya ke rumah seorang teman. Ketika sedang bertamu, Dhifa nyeletuk, "Mama, rumahnya kok jelek ya?" Istri saya tentu saja merasa sangat malu pada tuan rumah. Ia buru-buru minta maaf dan lalu memarahi Dhifa.

Lain Dhifa, lain lagi adiknya Rifa. Rifa memang kritis. Suatu ketika dia diberi tugas oleh gurunya, untuk membuat tulisan tentang anggota keluarga. Tulisan itu dibacakan di depan kelas. Rifa pun menulis kira-kira begini:

"Papaku seorang wartawan politik. Dia pernah muncul di televisi lho. Mamaku galak sekali. Aku punya seorang kakak. Dia judes sekali. Adikku gendut sekali. Keluarga kami tidak rukun."

Guru dan seisi kelas tentu saja tertawa geli mendengar cerita itu. Dhifa lalu menceritakan kasus cerita Rifa itu pada istri saya. Istri saya pun marah-marah pada Rifa, karena menganggap cerita itu tak pantas disampaikan di depan kelas, dan mungkin juga tidak semuanya akurat. Macam-macam saja deh.

Tapi saya pikir, itu risiko punya anak yang jujur dan kritis. Seharusnya tak perlu dihambat atau dimarahi. Yang penting, kita bisa mengarahkan dan menyalurkan energinya yang berlebihan ke tempat dan aktivitas yang tepat. Jadi, jangan terlalu diredam atau dihambat.

Pada akhirnya, saya tetap bahagia dan bangga punya anak yang percaya diri dan berani berekspresi. Mungkin Anda juga patut bersikap demikian pada anak-anak Anda! ***

Jakarta, 5 Okt 2007

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)