SIMULASI RAPAT REDAKSI - PELIPUTAN INSIDEN DALAM PILKADA DI SUMATRA TENGGARA


Oleh Satrio Arismunandar

Dalam pelatihan jurnalistik bagi para jurnalis Harian Umum Berita Pagi di Palembang, Minggu, 16 September 2007, saya diminta membuat sebuah simulasi Newsroom dalam rapat peliputan Pilkada. Inilah pertama kalinya saya membuat simulasi semacam itu. Simulasi itu dibuat seolah-olah persis aslinya. Saya membuat nama daerah provinsi fiktif (Sumatra Tenggara), juga para kandidat fiktif, serta konflik kepentingan di antara para jurnalis. Inilah simulasinya:

SIMULASI RAPAT REDAKSI
Peliputan Insiden dalam Pilkada Sumatra Tenggara

Latar Belakang :
Sumatra Tenggara adalah provinsi dengan kondisi sosial-ekonomi yang lumayan baik, walau tak punya sumber kekayaan alam yang berlimpah. Meski tak memiliki sumber minyak atau gas alam untuk dijual, provinsi ini punya potensi agroindustri yang besar. Lokasinya yang strategis, di jalur darat yang menghubungkan dan menjadi titik silang sejumlah provinsi tetangga, membuat kehidupan ekonomi di provinsi ini cukup marak.

Pilkada yang akan berlangsung di Sumatra Tenggara kali ini adalah pilkada pertama yang dilakukan secara langsung. Pilkada sebelumnya masih dipilih lewat mekanisme di DPRD, dan menghasilkan terpilihnya Ali Akbar sebagai Gubernur. Bisa dimaklumi, karena ia memang berasal dari partai terbesar di DPRD.

Dalam pilkada secara langsung saat ini, Ali Akbar siap maju kembali sebagai kandidat. Kali ini, Ali dihadang oleh sejumlah calon lain, yang juga cukup potensial. Penyelenggaraan pilkada di provinsi Sumatra Tenggara memasuki tahap yang semakin hangat. Pasalnya, berdasarkan jajak pendapat oleh lembaga survey independen, ternyata kekuatan pendukung para kandidat Gubernur-Wagub agak berimbang. Tidak ada pasangan calon yang terlalu dominan satu dibandingkan yang lain.

Karena itu, kondisi politik di provinsi ini menjelang hari pemungutan suara agak memanas dan rawan kecurangan. Maklum, karena para pengamat memperkirakan, selisih perolehan suara antara para kandidat itu akan tipis-tipis saja. Sedikit kecurangan dalam permainan suara bisa menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Ada tiga kandidat yang serius diperhitungkan dalam pilkada Sumatra Tenggara kali ini. Mereka adalah:

PASANGAN DAN LATAR BELAKANG CALON :

Ali Akbar – Anwar Fahmi
Ali Akbar adalah Gubernur Sumatra Tenggara yang sedang menjabat saat ini. Ia punya pengalaman di birokrasi yang kuat, dan merintis karir dari bawah (pernah jadi lurah, camat, dan bupati). Tapi ada kabar santer, bahwa Ali terlibat korupsi pembangunan rumah dinas gubernur senilai Rp 7 milyar, dan sejumlah proyek lain. Berasal dari partai terbesar di Sumatra Tenggara, Ali juga dekat dengan kalangan pengusaha.

Anwar Fahmi adalah dari kalangan akademisi. Dia saat ini menjabat Rektor Universitas setempat. Diduga, ia diajak jadi pasangan Ali, untuk memberi citra bersih dan kredibilitas profesional pada pasangan ini. Anwar adalah juga pakar ekonomi pembangunan, yang sering dilibatkan pemerintah dalam perumusan kebijakan ekonomi dan otonomi daerah.

Bahrun Nurdin – Burzah Zarkasi
Bahrun berlatar belakang militer profesional. Pernah menjabat Pangdam dan karier militernya umumnya dinilai berhasil. Sadar akan keterbatasannya di bidang birokrasi pemerintahan sipil dan sosial-ekonomi, ia menggandeng Burzah Zarkasi, yang pernah jadi walikota. Bahrun dianggap punya kepemimpinan yang kuat, paham lika-liku politik lokal, tapi sayangnya ia kurang menguasai masalah ekonomi daerah. Pasangan Bahrun-Burzah didukung oleh koalisi beberapa partai kecil di DPRD.

Burzah adalah pengusaha yang juga mantan walikota. Ia pernah jadi wiraswasta di bidang agroindustri yang lumayan sukses, meski belum berskala sangat besar. Ketika jadi walikota, bisnis perkebunannya dikelola oleh adiknya, dan sampai saat ini bisnisnya terus berkembang. Burzah diharapkan bisa meraih dukungan dan kepercayaan dari kalangan bisnis dan pengusaha, karena punya latar belakang bisnis yang kuat, bukan sekadar berteori.

Cici Dewiyanti – Chairul Komar
Cici adalah calon independen yang didukung oleh kelompok LSM, LBH, dan mahasiswa. Punya latar belakang aktivis dan LSM yang kuat. Sebagai pengacara LBH, Cici terkenal vokal dan sering terjun ke bawah, menangani kasus yang menyangkut warga miskin. Sebagai satu-satunya calon perempuan, Cici mengharapkan suara pemilih dari kalangan perempuan. Sayangnya, Cici tak punya pengalaman sama sekali di bidang birokrasi pemerintahan.

Chairul adalah tokoh ulama yang cukup kondang di Sumatra Tenggara. Pintar berorasi dan sering berdakwah ke berbagai pelosok, sehingga ia dianggap punya massa penggemar tersendiri. Ia juga punya pesantren sendiri. Meski bercitra bersih, belum ada rekam-jejak Chairul di bidang pemerintahan. Ia dekat dengan kalangan LSM, karena pesantrennya sering bekerjasama dalam proyek-proyek pemberdayaan ekonomi masyarakat di pedesaan.

Kasus yang terjadi:

Dalam situasi menjelang pemungutan suara yang memanas, terjadi bentrokan antara massa pendukung Ali Akbar dengan massa pendukung Bahrun Nurdin. Pasalnya, Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) ternyata bekerja kurang rapi dan terkesan tidak profesional. Ada cukup banyak warga di sejumlah wilayah, yang seharusnya punya hak pilih, ternyata belum terdaftar.
Warga yang merasa kehilangan hak pilihnya ini diklaim sebagai warga pendukung pasangan Bahrun-Burzah. Muncul kecurigaan bahwa KPUD tidak netral, atau “ada main” dengan pasangan Ali-Anwar, untuk menyisihkan basis pendukung Bahrun-Burzah. Maka massa dan anggota partai pro Bahrun-Burzah pun menyatroni kantor KPUD, untuk menekan KPUD, agar secepatnya mengurus warga yang terancam kehilangan hak suara tersebut.

Celakanya, dalam aksi ke KPUD, massa pro Bahrun-Burzah ini bertemu dengan massa pendukung Ali-Anwar. Bermula dari saling ejek dan saling lempar botol plastik Aqua, terjadi bentrokan dan kerusuhan kecil. Insiden ini memakan korban satu anggota massa pro Bahrun-Burzah tewas, sedangkan puluhan massa lainnya dari kedua kubu luka-luka. Satu mobil Kijang milik pendukung Bahrun-Burzah rusak berat dan dibakar pihak lawannya.

Suhu politik di Sumatra Tenggara pun jadi benar-benar panas akibat insiden ini. Sore itu, jajaran redaksi suratkabar pagi Sumatra Tenggara Post mengadakan rapat, untuk menentukan angle (sudut) pemberitaan yang akan dimuat besok.

Semua menyadari, kasus insiden ini sangat gawat dan berdampak serius, serta mengancam kelangsungan pilkada di Sumatra Tenggara. Jika ditangani secara keliru, pilkada bisa betul-betul batal atau minimal tertunda. Krisis politik dan sosial-ekonomi pun akan pecah. Ketegangan dan konflik antar partai politik dan berbagai elemen masyarakat pendukungnya, pun bisa merebak dan meluas. Arahnya sungguh sulit ditebak, tetapi pasti berakibat buruk bagi rakyat.

Suasana Rapat Redaksi:

Dalam rapat redaksi, muncul sejumlah pertanyaan yang membutuhkan jawaban lewat liputan di lapangan. Yaitu:
1. Bagaimana awalnya sehingga bisa terjadi insiden itu? Apakah ada pihak yang patut dipersalahkan dalam insiden itu?
2. Jika ada, siapa? (KPU yang teledor/lalai dalam tugasnya, atau kubu pendukung Ali-Anwar, dan Bahrun-Burzah yang tidak sabaran dan tak bisa menahan emosi? Atau malah polisi dan aparat keamanan, yang kurang tanggap dan gagal mencegah bentrokan ini?).
3. Atau ada “pihak lain” yang bermain di air keruh dan meraih keuntungan dari insiden itu? Secara tak langsung, kubu Cici-Chairul adalah yang diuntungkan, karena citra kubu Ali-Anwar dan Bahrun-Burzah jadi rusak, akibat aksi kekerasan tersebut.
4. Bagaimana cara terbaik menangani insiden ini, agar kepentingan rakyat banyak di provinsi ini tidak dirugikan?

Rapat dibuka oleh Pemimpin Redaksi dengan arahan singkat, kemudian berlanjut dengan dipimpin langsung oleh Redaktur Pelaksana, karena kasusnya dianggap besar dan pasti masuk berita utama besok. Hadir juga Redaktur Bidang Polkam, serta Koordinator Liputan yang mengkoordinir reporter, serta sejumlah reporter yang biasa meliput bidang Polkam.
Yang tidak disadari, ternyata masing-masing wartawan ini juga mempunyai kepentingan dan agenda tersendiri. Dalam rapat ini, terjadi dinamika di mana masing-masing berusaha memperjuangkan agendanya.
***
Pemimpin Redaksi:
Anda bertugas mengarahkan kebijakan pemberitaan Koran yang Anda pimpin. Tetapi, oleh pemilik koran, Anda juga diberi target bahwa Koran ini harus untung secara finansial. Padahal dalam setahun terakhir, tiras koran ini makin menurun dan iklan juga tidak bertambah. Jika ini terus terjadi, seperti sudah diultimatum oleh pemilik, akhir tahun Anda akan diminta mundur dari jabatan Pemred.

Tanpa setahu jajaran redaksi lain, Anda sudah dilobby oleh manajer kampanye Ali-Anwar. Ia menjanjikan, jika pemberitaan Koran Anda bersifat “positif” terhadap Ali-Anwar, maka jika Ali-Anwar menang, seluruh jajaran Pemda Sumatra Tenggara akan berlangganan Koran Sumatra Tenggara Post.

Ini akan meningkatkan tiras Koran secara drastis. Sejumlah pengusaha pendukung Ali-Anwar juga akan memasang iklan di Koran Anda. Ujung-ujungnya, Anda akan dianggap sukses dan berprestasi. Jadi, jabatan Anda sebagai Pemred bukan saja aman, tetapi sangat mungkin Anda akan mendapat bonus dan kenaikan gaji.

Maka: Anda berkepentingan agar pemberitaan media Anda tidak memojokkan, apalagi menjelek-jelekkan citra pasangan Ali-Anwar!
===============================

Redaktur Pelaksana:
Anda bertugas menjalankan operasional keredaksian sehari-hari. Meskipun secara profesional Anda harus netral dalam pemberitaan masalah politik, Anda meyakini bahwa pasangan Bahrun-Burzah sebagai kandidat terbaik. Menurut Anda, Ali Akbar itu korup dan tak layak lagi jadi Gubernur. Sedangkan, Cici terlalu “bau kencur,” dan tak punya pengalaman apapun dalam pemerintahan.

Dalam insiden ini, Anda curiga ada konspirasi antara KPUD dan kubu pendukung Ali-Anwar. Konspirasi ini merugikan posisi Bahrun-Burzah yang mendapat simpati dari Anda.
Maka: Anda berkepentingan pemberitaan media Anda tidak memojokkan, apalagi menjelek-jelekkan citra pasangan Bahrun-Burzah. Tetapi, kalau memojokkan Ali-Anwar, Anda sih oke saja!

Anda ingin, “konspirasi” yang Anda curigai terjadi antara oknum KPUD dan kubu Ali-Anwar diungkap lewat liputan investigasi. Jika ini terjadi, Ali-Anwar mungkin makin kecil peluangnya untuk menang. Bahrun bisa jadi pemenang, karena Anda yakin, publik masih meragukan kapasitas dan kemampuan pasangan Cici-Chairul.

Redaktur Bidang Polkam:
Anda bertugas mengisi dan mengelola rubrik Polkam, serta memberi arahan dalam peliputan di lapangan pada reporter bidang Polkam. Anda dulu adalah aktivis mahasiswa dan pernah kerja di LSM. Jadi, Anda punya simpati khusus pada pasangan Cici-Chairul, yang menurut Anda sama-sama bersih dan jelas komitmennya membela rakyat.

Anda sebaliknya sangat sebal pada kandidat Ali, yang Anda anggap korup, sedangkan Bahrun masih belum jelas. Tetapi figur militer juga memancing kecurigaan, karena menurut Anda, tokoh militer (apalagi berpangkat jenderal seperti Bahrun) punya kecenderungan otoriter dan kurang peka terhadap masalah HAM dan hak warga sipil.

Maka: Anda berkepentingan pemberitaan media Anda tidak memojokkan, apalagi menjelek-jelekkan pasangan Cici-Chairul. Tetapi, kalau menghantam Ali atau Bahrun, Anda senang saja!
=================================

Koordinator Liputan:
Anda bertugas mengkoordinasikan para reporter dalam liputan di lapangan. Namun, berdasarkan pengalaman Anda sebelumnya, serta mengamati pemberitaan dan laporan yang mereka buat, Anda sadar, para reporter ini juga punya afiliasi atau simpati pada pasangan tertentu.

Anda ingin tegas dan berkomitmen teguh pada pendekatan profesional. Jadi, Anda tak ingin reporter tergiring ke salah satu kubu mana pun. Sebagai jurnalis, mereka harus kritis pada semua pihak dan tidak memihak dalam pemberitaan dan cara peliputannya, meskipun isi hati tidak bisa Anda kontrol.

Maka: Anda berkepentingan agar pemberitaan media Anda bersifat proporsional. Tidak memojokkan pasangan mana pun, apalagi jika tanpa didukung data, fakta liputan, dan argumen yang jelas. Para reporter juga harus dikontrol cara kerjanya, untuk mencegah bias dalam peliputan/pemberitaan.
===================================

Reporter A :
Anda selama ini sering meliput kegiatan Ali di kantor Gubernur, dan secara pribadi cukup dekat dengannya. Bahkan secara ngobrol-ngobrol santai, Ali pernah mengatakan, akan membantu membiayai Anda untuk umroh ke Tanah Suci, jika dia menang nanti. Pada sejumlah kesempatan, Ali juga sering memuji berita Anda di koran (rupanya Ali rajin mengamati pemberitaan tentang dirinya).

Anda mengakui, meski Ali bukan calon Gubernur yang ideal, dan ada desas-desus keterlibatannya dalam KKN, pemerintahan Ali selama ini cukup efektif. Pembangunan cukup berjalan. Jika Ali disebut “korup,” Anda menganggap, korupsi yang dilakukan Ali belum seberapa dibandingkan pejabat di daerah lain yang lebih gila-gilaan dalam KKN.
Anda sendiri juga tak yakin bahwa kandidat lain, seperti Bahrun dan Cici, tidak akan KKN jika memerintah nanti. Bagi Anda, KKN itu mungkin cuma soal kesempatan saja. Tak ada yang terlalu “suci” dalam politik.

Maka: Anda berkepentingan pemberitaan media Anda tidak memojokkan, apalagi menjelek-jelekkan citra pasangan Ali-Anwar. Maka mungkin perlu kambing hitam dalam kasus bentrokan. Misalnya: aparat keamanan yang lalai, dan KPUD yang tidak profesional.
==============================================

Reporter B :
Ketika Bahrun masih menjabat Pangdam, Anda dulu sering meliput kegiatannya. Jadi, Anda cukup dekat dengannya dan melihat pribadinya sehari-hari. Anda mengagumi gaya kepemimpinan Bahrun, yang menurut Anda cukup tegas, dan berwibawa.

Bahrun, menurut Anda, relatif cukup bersih, bukan figur yang korup seperti Ali. Anda juga percaya, meski berasal dari militer, Bahrun cukup demokratis dan bisa berhubungan baik dengan pihak sipil, seperti sudah ia tunjukkan ketika menjabat Pangdam.

Maka: Anda berkepentingan, agar pemberitaan media Anda tidak memojokkan, apalagi menjelek-jelekkan citra pasangan Bahrun-Burzah. Tetapi, kalau yang dipojokkan itu pasangan Ali-Anwar, Anda menganggap itu sudah sepantasnya! Dalam kasus bentrokan, Anda beranggapan, aksi protes kubu Bahrun-Burzah adalah sah, karena hak mereka di-dzalimi. Yang tidak benar justru aksi kelompok Ali-Anwar yang menghambat aksi kubu Bahrun-Burzah.

====================================
Reporter C:
Anda, sebelum jadi reporter, pernah jadi aktivis mahasiswa. Anda juga punya banyak bekas teman kuliah, yang kini berkiprah di LBH dan LSM. Jadi, figur Cici bukan sesuatu yang asing bagi Anda. Dari cerita teman-teman dekat Anda, Anda meyakini bahwa Cici adalah figur yang betul-betul pro kepentingan rakyat. Tidak korup seperti Ali, dan tidak meragukan seperti Bahrun.

Maka, Anda pribadi diam-diam menjagokan pasangan Cici-Chairul. Bentrokan antara kubu Ali-Anwar dan Bahrun-Burzah memberi peluang bagi Anda untuk menunjukkan sisi baik pasangan Cici-Chairul, dan sisi buruk Ali dan Bahrun.

Maka: Anda berkepentingan, agar pemberitaan media Anda tidak memojokkan, apalagi menjelek-jelekkan citra pasangan Cici-Chairul. Tetapi, kalau pemberitaan tentang bentrokan antara pendukung Ali-Anwar dan Bahrun-Burzah ini menjatuhkan citra keduanya, Anda senang saja, karena ini meningkatkan peluang Cici-Chairul untuk menang. Anda berharap, pasangan Cici-Chairul bisa menjadi “kuda hitam.”

Tapi, Anda sadar, harus berusaha lebih keras dalam mengangkat figur Cici-Chairul. Pasalnya, Anda mendapat kesan, mayoritas reporter, bahkan pimpinan media, diam-diam terbelah dalam kubu pro Ali-Anwar dan pro Bahrun-Burzah.
================================

Reporter D:
Pada dasarnya, Anda orang yang skeptis terhadap dunia politik. Semua politisi, menurut Anda, sedikit banyak “kotor,” termasuk mereka yang berasal dari kalangan ulama ataupun LSM/LBH. Apalagi yang dari birokrasi dan militer! Mereka hanya bersih ketika belum terjun ke politik praktis. Tapi, jika sudah berkuasa, Anda yakin, kelakuan mereka semua relatif tak akan jauh berbeda.

Bagi Anda, kepentingan rakyat harus dinomorsatukan, siapapun yang jadi pemenang Pilkada. Anda juga curiga, sebagian reporter lain mungkin berseberangan dengan Anda, karena beberapa di antaranya terkesan memihak kubu tertentu. Bahkan, para pemimpin media juga tak sepenuhnya netral, meski tidak terang-terangan.

Maka: Anda berkepentingan, agar pemberitaan media Anda mengedepankan kepentingan rakyat banyak. Tidak terpancing untuk terlibat dalam konflik pilkada, dengan memuji-muji atau sebaliknya memojokkan dan menjelek-jelekkan citra pasangan tertentu. ***

Comments

Narmadi said…
Wah...sangat informatif dan bikin ngeri juga yah dalam tugas seperti itu.

salam kenal,
Narmadi
Retty N. Hakim said…
Wah seru banget pak...
Boleh nggak saya link blog ini ke blog saya yang isinya buku harian pewarta warga?
mulyatman77 said…
Syukron akhi. Bagus ya biar peserta ga nguap mulu. Izin untuk menggunakan di pelatihan ya (eman SABILI- mulyatman77@gmail.com)

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI