BUDAYA PERUSAHAAN DAN BUDAYA ORGANISASI DI PERUSAHAAN MEDIA


Oleh Satrio Arismunandar

Budaya Perusahaan (Corporate Culture)

Budaya (culture) menurut Koentjaraningrat (1983) adalah seluruh total pikiran, karya dan hasil karya manusia, yang tidak berakar pada nalurinya, dan karena itu hanya bisa dicetuskan manusia sesudah melalui suatu proses belajar.

Sedangkan perusahaan merupakan entitas bisnis, yang di dalamnya juga memiliki budaya tersendiri, yang kita namakan Budaya Perusahaan. Budaya perusahaan ini telah menjadi salah satu bahasan dalam ilmu manajemen.

Budaya perusahaan ini merepresentasikan aspek-aspek yang bersifat simbolik dan irasional dari sebuah organisasi. Tak heran, jika budaya perusahaan itu juga sulit untuk diukur. Namun, meskipun sulit diukur, budaya perusahaan itu diyakini memberi dampak berarti terhadap apa yang terjadi di dalam dan pada perusahaan bersangkutan.

Faktor budaya ini menjadi terangkat karena kekuatan dan pengaruhnya terhadap aspek-aspek kehidupan organisasi yang tidak terlihat, tetapi bersifat kritis. Atau bisa disebut juga sebagai “kualitas-kualitas non-rasional dari sebuah organisasi.”

Budaya Organisasi (Organizational Culture)

Organisasi adalah suatu kesatuan sosial dari sekelompok manusia, yang saling berinteraksi menurut suatu pola, sehingga anggota organisasi memiliki fungsi dan tugasnya masing-masing. Organisasi, sebagai suatu kesatuan, memiliki tujuan tertentu dan mempunyai batas-batas yang jelas, sehingga bisa dipisahkan secara tegas dari lingkungannya.

Budaya organisasi merupakan suatu sistem nilai, keyakinan, dan norma-norma yang unik, yang dianut secara bersama oleh anggota organisasi. Budaya organisasi merupakan bagian dari budaya perusahaan. Budaya Organisasi juga telah diterima sebagai salah satu “organ vital” dari Budaya Perusahaan, seperti halnya: strategi, struktur, atau proses yang berlangsung di dalam perusahaan.

Budaya Organisasi bisa dirumuskan sebagai:

Suatu sistem nilai, yang menjadi pegangan bagi mereka yang terlibat di dalam organisasi, yang menjadi faktor pembeda terhadap organisasi lain, dan menjadi acuan untuk mengendalikan perilaku organisasi dan perilaku anggota organisasi, dalam interaksi antar-anggota organisasi, serta interaksi dengan lingkungan dan organisasi lainnya.

Budaya Organisasi dibentuk oleh mereka yang terlibat dalam organisasi (mulai dari pemilik, pimpinan, sampai ke pegawai), dengan mengacu pada etika organisasi, peraturan kerja dan tipe struktur organisasi.

Sumber utama budaya organisasi pada awalnya adalah pemilik, pendiri dan/atau pemimpin yang pertama, karena mereka inilah yang pertama-tama menentukan misi, visi, strategi, filosofi, dan nilai-nilai yang dianut oleh organisasi.

Hubungan antara Budaya dan Kinerja

Budaya organisasi ini dianggap menentukan kemampuan organisasi untuk mengatasi perubahan lingkungan, bahkan secara langsung mempengaruhi kinerja ekonominya.

Budaya organisasi menjadi faktor penyumbang penting bagi kesuksesan atau kegagalan perusahaan. Budaya dapat menjadi kekuatan yang positif atau negatif, dalam hubungannya dengan efektivitas pencapaian tujuan atau prestasi perusahaan/organisasi bersangkutan.

Jika kinerja yang tinggi merupakan hasil dari koherensi (kecocokan) dan konsistensi internal antara budaya dan strategi, maka adalah tugas manajemen senior untuk memastikan bahwa faktor budaya ini dilibatkan dalam menentukan inisiatif-inisiatif strategi.

Strategi bisnis perlu didukung, bukan hanya oleh struktur dan sistem, tetapi juga oleh budaya. Dalam iklim kerja yang penuh persaingan di industri media, misalnya, maka budaya kompetisi, kerja keras, dan berorientasi pada hasil, kini semakin keras ditanamkan kepada karyawan media.

Pluralitas Budaya

Setiap budaya organisasi menunjukkan ciri-ciri atau karakteristik tertentu berskala-organisasi yang bersifat homogen (sama). Namun budaya ini juga dipengaruh oleh jajaran budaya-budaya lain, antar dan ekstra-organisasi, yang keduanya hadir bersama budaya organisasi umumnya dan juga tumpang tindih dengannya. Semua budaya ini harus dipahami dan dipadukan, jika organisasi itu ingin bekerja efektif.

Proses budaya yang berlangsung di masyarakat luas juga berlangsung di dalam organisasi. Anggota sebuah organisasi pada saat yang sama juga anggota banyak lembaga sosial dan budaya lainnya.

Semua lembaga itu juga memiliki kerangka referensi bersama, bahasa dan asumsi-asumsi tak-sadar bersama, dan karena itu memberi pengaruh pada budaya organisasi. Hal ini termasuk:

  1. Budaya profesional atau komunitas kerja (professional cultures and occupational communities): kelompok-kelompok praktisi yang memiliki basis pengetahuan yang sama, jargon yang sama, serta latar belakang dan pelatihan serupa. Misalnya, budaya di lingkungan para dokter, atau profesi pengacara (lawyer), dan sebagainya.

  1. Budaya industri (industry cultures): orientasi nilai yang sama bagi mereka yang bekerja di industri tertentu. Misalnya, mereka yang sama-sama bekerja di industri media, industri manufaktur, dan sebagainya.

  1. Inter-organizational subcultures, yang didasarkan pada pengelompokan budaya, seperti: tingkatan hirarki, departemen fungsi, subkelompok gender dan etnis. Di dalam satu perusahaan yang sama, juga terdapat budaya-budaya kerja yang berbeda. Misalnya, bagian keuangan yang menuntut kecermatan dan kehati-hatian, dan sebaliknya bagian liputan (wartawan) yang menuntut sikap agresif dan kemampuan bertindak cepat di lapangan.

  1. Budaya nasional (national cultures): Populasi nasional, seperti anggota organisasi, juga memiliki warisan, bahasa, cara pendekatan untuk berhubungan satu sama lain dan dengan dunia luar, yang sama. Perangkat asumsi-asumsi nasional ini memiliki pengaruh cukup besar pada organisasi. Budaya orang Jepang akan berbeda dengan budaya orang Indonesia.

(Dikutip dari berbagai sumber untuk bahan kuliah Manajemen Industri Media, Desember 2007)

Comments

Dimaz Julio said…
berikut kami sajikan paper mengenai budaya organisasi

http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/2662/1/Psi-7.pdf

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)