Essay – DENNY J.A, MAN OF THE YEAR 2007

(Ini bukan foto Denny JA, tapi foto saya -Satrio- bergaya dengan piala Panasonic Award 2007, yang kebetulan dimenangkan oleh salah satu program News Trans TV).

Oleh Satrio Arismunandar

Sebuah iklan berwarna, berukuran setengah halaman, muncul di Harian Kompas, 18 Desember 2007. Iklan yang dimuat di halaman rubrik politik & hukum itu berjudul “Denny J.A., Ph.D – Man of the Year 2007,” dan memajang beberapa cover majalah “d’Maestro”. Foto yang dimuat paling besar adalah “d’Maestro” edisi Desember 2007, dengan close up wajah Denny JA di sampul muka.

Dinyatakan di iklan itu: “Ia (Denny JA) membawa tradisi baru dalam dunia politik dan akademik Indonesia. Sebagai King Maker, ia memenangkan puluhan kepala pemerintahan, mulai dari bupati, walikota, gubernur hingga presiden. Ia acapkali dipercakapkan dan diperebutkan calon kepala daerah dari Aceh sampai Papua. Riset politiknya seringkali menggetarkan politik lokal dan politik nasional.”

“d’Maestro memilihnya sebagai Man of the Year 2007 atas kontribusi, inovasi, keberaniannya mengambil risiko, prestasi serta pengaruh di sepanjang tahun 2007….dst.”

Denny adalah teman lama saya, meski dalam beberapa tahun terakhir kami sudah jarang bertemu, karena kesibukan masing-masing. Saya kenal Denny, terutama sejak ia masih aktivis mahasiswa dan aktif di Kelompok Studi Proklamasi.

Sebagai teman, tentu saja saya ikut bergembira dan bangga, Denny mendapat penghargaan atas prestasinya. Cuma, ada sedikit hal yang merisaukan saya, soal kriteria penganugerahan predikat Man of the Year 2007 tersebut.

Denny memimpin sebuah lembaga survey, yang sering melakukan survey tentang popularitas calon-calon, dalam pemilihan kepala pemerintahan dari tingkat lokal hingga nasional. Sebuah lembaga survey dinilai kredibilitasnya dari posisinya yang independen atau tidak berpihak pada calon mana pun.

Namun, dengan peran Denny sebagai “king maker”, yang mendapat proyek untuk menggolkan atau memenangkan calon-calon tertentu, berarti Denny memegang dua posisi atau dua peran, yang –menurut saya—tidak compatible satu sama lain (untuk tidak mengatakan bertentangan). Dalam usaha memenangkan salah satu calon, tentu saja Denny tidak independen, dan jelas-jelas memihak.

Tidak ada yang salah, jika Denny ingin berperan sebagai “king maker.” Itu pilihan yang sah-sah saja. Namun, yang saya persoalkan di sini adalah adanya konflik peran, antara menjadi “king maker” (yang berpihak dan tidak independen), dengan menjadi pemimpin sebuah lembaga survey (yang dituntut untuk independen atau tidak berpihak).

Apakah masyarakat layak, mempercayai kredibilitas hasil survey sebuah lembaga, jika pimpinan lembaga tersebut menjalankan peran ganda sebagai “king maker” salah satu calon? Ini tentu pertanyaan yang wajar dan masuk akal, yang sepatutnya mendapat perhatian dari Denny dan lembaga surveynya.

Ya, ini sekadar uneg-uneg saya saja. Bagaimanapun, sebagai teman, saya mengucapkan selamat pada Denny, karena telah terpilih sebagai Man of the Year 2007 versi majalah “d’Maestro.”

Depok, 18 Desember 2007

Comments

anton said…
makin hari memang makin susah cari orang yg mau terbuka ttg posisinya.

anton
http://rumahtulisan.wordpress.com

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)