Posts

Showing posts from March 27, 2007

Essay - WARTAWAN TIDAK BOLEH BUTA WARNA?

Image
Oleh Satrio Arismunandar

Belum lama ini saya baca iklan penerimaan wartawan baru Harian Kompas. Salah satu syarat di sebutkan disitu: "Tidak buta warna." Saya jadi bertanya-tanya, apa sih makna tak boleh buta warna di situ? Kalau untuk jadi dokter, ahli farmasi, dsb, saya bisa paham. Ahli kimia atau farmasi yang tak bisa membedakan warna bisa membahayakan keselamatan orang, karena keliru membedakan zat kimia atau campuran obat. Untuk desainer grafis, soal buta warna jelas ada pengaruhnya. Tapi reporter? Kenapa saya bertanya ini? Karena faktanya: saya adalah mantan wartawan Harian Kompas yang menderita buta warna. Meskipun bukan buta warna total (saya masih bisa membedakan warna lampu lalu lintas). Toh selama saya kerja di Harian Kompas (1988-1995), tidak pernah ada masalah dengan kebutawarnaan tersebut. Saya mungkin malah termasuk salah satu wartawan yang paling produktif di masa itu (bisa dicek dari ketebalan ordner arsip tulisan-tulisan saya). Mungkin kriteria Kompas itu ag…

TRANS CORPORA, PARA GROUP, DAN VISI INDONESIA 2030

Image
Oleh Satrio Arismunandar Sebagai jurnalis yang bekerja di sebuah perusahaan media, kita tidak cuma dituntut untuk tahu segi teknis-operasional kerja jurnalistik, yang kita lakukan sehari-hari. Namun, kita juga perlu tahu bagaimana nature, budaya perusahaan (corporate culture), posisi dan visi-misi perusahaan tempat kita bekerja di industri media bersangkutan.

Pemahaman ini penting karena sebuah perusahaan media tidaklah hidup dalam ruang vakum. Perusahaan media selalu berada dalam tarik-menarik antara idealisme jurnalistik dan kepentingan bisnis yang menghidupinya, dan semua dinamika itu ditempatkan dalam konteks sosial-ekonomi, budaya, dan politik di lingkungan tempat ia hidup. Hal ini juga berlaku untuk Trans TV dan Trans-7.

Trans TV dan Trans-7 merupakan perusahaan media yang berada di bawah payung Trans Corpora. Trans Corpora sendiri adalah bagian dari Para Group, yang memfokuskan diri pada bisnis di bidang media, lifestyle dan entertainment. Oleh karena itu, dalam mengamati kiprah T…

Essay - MEMBANGUN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) DI TENGAH RESISTENSI PUBLIK

Image
Oleh Satrio Arismunandar

“Kita tidak dapat membangun suatu masyarakat yang makmur, tanpa bisnis yang menguntungkan. Namun, di sisi lain, kita juga tidak bisa menumbuhkan suatu ekonomi yang kompetitif di lahan sosial yang gersang.” Hmm, kedengarannya puitis, bukan? Namun, pernyataan di atas bukanlah sekadar retorika atau ucapan pemanis mulut.
Ungkapan itu sebenarnya ingin menggarisbawahi perlunya tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR (corporate social responsibility), di tengah lingkungan sosial dan publik, yang kini semakin kritis menyoroti berbagai praktik bisnis yang dilakukan perusahaan.
Tidak usah jauh-jauh mencari contoh. Di Indonesia, perusahaan pertambangan Freeport di Papua kerap dikecam dengan tuduhan perusakan lingkungan. Sedangkan, perusahaan sepatu Nike sering dituduh menggunakan buruh anak-anak, di pabrik-pabriknya yang berlokasi di negara berkembang. Masih ada segudang contoh lagi, yang tak perlu kita sebut satu-persatu.
Citra perusahaan yang buruk, yang sering dimuncu…