Oleh Satrio ArismunandarCerita di bawah ini saya kutip dari seorang teman wartawan (yang kebetulan juga aktivis). Dia dapat cerita bahwa Rabu lalu (9 Januari 2008), saat SCTV menayangkan talk show mengenai Soeharto dengan pembicara Mohammad Assegaf, Saldi Isra, pengamat, Moerdiono dan Titik Prabowo. Seharusnya Adnan Buyung Nasution sebagai salah satu pembicara juga di segmen 3 tapi Abang (demikian ABN dipanggil) pulang dengan kesal, tidak mau jadi nara sumber karena melihat bagaimana Rosi wawancara Moerdiono yang mengelu elukan Suharto sebagai bapak pembangunan. Kemudian dilanjutkan statement Titik Suharto yang mengatakan sekali lagi Suharto banyak jasanya bagi Indonesia.
Teman saya, yang mengikuti wawancara tersebut sejak awal sampai akhir juga sangat kecewa karena sebagai wartawan “independen” seharusnya kalau memang Moerdiono dan Titik dijadikan nara sumber, mengapa tidak ada korban korban Soeharto yang diwawancara. Kenapa tidak ada korban DOM Aceh, tidak ada korban dari Papua, tidak ada korban Talangsari, tidak ada Item, Taufik, Danang, Nezar, keluarga orang hilang, korban 65, dan masih banyak lagi. “Apakah karena Titik Suharto pemegang saham SCTV? Walahualam...”, ujar teman saya yang wartawan itu. ***
Jakarta, 11 Januari 2008, pukul 22.29 WIB

1 comments:
Itu tentang orang sekaliber Rosi, bagaimana yang lain ya Mas??
Keep fighting?!
http://ridwanhutasoit.blogspot.com
Post a Comment