JUIKA RATIH: RASAKAN BERATNYA KEHIDUPAN (Tabloid Nyata, 1 Januari 2008)



Saat pertamakali mengirim kurikulum vitae ke Trans TV, sebenarnya niat Juika adalah untuk melamar menjadi karyawan salah satu teve swasta tersebut. Namun, Juika justru mendapat panggilan dan ditawari kasting menjadi talent di acara Jika Aku Menjadi, yang ditayangkan Trans TV setiap hari Minggu ini.

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, mantan reporter Jak-TV ini pun menerima tawaran kasting tersebut. Beruntung ia terpilih untuk menjadi talent salah satu episode Jika Aku Menjadi, khususnya di episode Buruh Tani di Desa Sukamakmur, Sukakarya, Bekasi.

Rupanya pengalaman menjadi talent yang mesti berbaur dengan keluarga Ajuk Marjuki yang sangat miskin, memberikan pengalaman tersendiri bagi Juika. Apalagi selama ini Juika dibesarkan di keluarga yang berkecukupan, karena ayahnya merupakan pengusaha kaya di Jakarta.

“Di Jakarta orang miskin banyak. Melihat rumah gubuk pun bukan pemandangan yang asing lagi buat aku. Saking biasanya, perasaanku pun datar-datar saja ketika melihat kondisi mereka. Namun semuanya berubah setelah aku berbaur bersama keluarga Aki. Saya begitu terenyuh, prihatin dan rasanya sekuat tenaga ingin membantu mereka untuk melepaskan mereka dari kemiskinan,” ungkap Juika, saat ditemui Nyata di rumahnya yang mewah di bilangan Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan pada Sabtu, (22 Desember 2007) lalu.

Sebagai wanita yang terbiasa hidup mewah, lulusan jurnalistik Universitas Moestopo Beragama, Jakarta ini pun mengaku sempat merasa risih, saat pertamakali bersosialisasi dengan mereka. Apalagi saat melihat kondisi rumah mereka yang jauh dari standar.

“Apalagi mereka kan bukan saudara aku, jadi perasaan nggak nyaman terus terang ada. Namun setelah beberapa lama ngobrol, ternyata mereka asyik juga. Wajar lah, semua kan butuh adaptasi. Yang jelas, aku sempet nggak bisa tidur apalagi udaranya dingin banget karena dinding mereka hanya ditutupi kain. Punggung rasanya sakit, karena tempat tidur aja hanya dialasi kasur yang udah tipis banget,” urai Juika.

Empat hari menjadi orang desa yang miskin, Juika pun mulai memahami bagaimana perjuangan berat Aki dan istrinya untuk mendapatkan uang dan menafkahi ketiga anak-anaknya yang masih kecil.

Melihat perjuangan mereka, Juika mengaku tak bisa membayangkan jika ia sendiri yang mengalami nasib seperti mereka. Seperti saat ia membantu Aki dan istrinya menjadi buruh potong padi di sawah.

“Aku bener-bener nggak bisa bayangin, mereka demi uang, harus rela panas-panasan di sawah. Aku saja yang hanya sebentar membantu mereka udah nggak kuat, kulit langsung hitam, panas banget. Belum lagi aku mesti turun ke sawah bertelanjang kaki. Bener-bener tantangan berat buat aku deh,” ujar Juika.

Begitu pula saat ia mesti membantu Aki mencari kerang di sungai. Demi perannya sebagai talent, ia pun mesti ikut turun ke sungai tanpa alas kaki dan mencari kerang di dasar sungai bersama Aki dan Leman.

“Aku udah ngeri bayangin lintah atau ular melewati kakiku. Belum lagi lihat air sungainya yang kotor dan banyak sampah. Wah, rasanya jijik banget. Tapi ya udahlah, bismillah aja. Ternyata aku bisa dapat kerang banyak juga lho,” ucapnya bangga.

Perasaan terenyuh begitu dirasakannya, saat membantu Asni memasak di dapur. Sambil sesekali memasukkan kayu bakar ke dalam tungku, Juika mendengarkan cerita Asni. Dan tak terasa air matanya pun meleleh karena tak kuasa mendengar penderitaan yang selama ini dialami Asni dan keluarganya.

“Saat itu aku sama Ibu Asni ngobrol banyak banget deh. Dari bagaimana mereka makan sehari-hari yang cuma seadanya, bagaimana perjuangan mencari nafkah. Sampai akhirnya Ibu Asni menangis, membayangkan jika nanti suaminya meninggal, dan hanya dia yang harus membesarkan ketiga anaknya seorang diri. Saking sedihnya, aku pun ikutan menangis,” ujar Juika.

Pengalaman menggembala bebek rupanya menjadi pengalaman yang cukup menyenangkan bagi Juika. “Ternyata asik juga ikutan Leman menggembala bebek di sawah. Bahkan aku beruntung banget bisa nemuin telur bebek di sawah.Cuma sebelnya kakiku jadi kotor kena lumpur, tapi nggak masalah kok, seneng deh,” papar Juika.

Lalu, adakah pengalaman buruk selama syuting Jika Aku Menjadi? Ketakutan Juika pada tikus, rupanya mesti di uji kali ini. “Wah, nggak mau lagi deh. Waktu itu ada acara berburu tikus di sawah, sedangkan sebagai talent, paling tidak aku mesti ikutan dong. Padahal aku tuh paling takut sama tikus. Waktu tikus lari keluar dari sarangnya, aku ikutan lari. Saking takutnya, nggak ada adegan aku megang tikus, soalnya aku memang nggak berani,” ungkap wanita, yang kini bekerja di sebuah event organizer ini.

Lalu, apakah Juika kapok untuk menemukan tantangan yang sama? “Nggak kapok, ini tantangan tersendiri buat aku. Kalau ada lagi aku mau kok jadi talent lagi,” pungkas Juika.* Tari.

(Dikutip dari naskah reporter Tari, sebelum diedit dan dimuat Tabloid Nyata, edisi 1 Januari 2008)

Comments

Anonymous said…
Mas Satrio, saya baru 2 kali lihat acara "Jika Anda Menjadi" karena saya tingal diluar negri....saya melihat tayangan hanya lewat internet.
Saya sangat prihatin dan sedih melihat mereka2 dan semoga lewat tayangan ini bisa menggugah orang2 untuk membantu kaum sesama.


- Heru -

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)