KONSEP AWAL - PROGRAM "JIKA AKU MENJADI" DI TRANS TV




Pengantar

“J-A-M” (Jika Aku Menjadi...) adalah salah satu program TRANS TV, yang menayangkan informasi tentang lika-liku kehidupan orang dengan pekerjaan/profesi tertentu dari kalangan masyarakat kelas bawah, namun segmentasi pemirsa adalah tetap kelas A+B. Program ini selain dikemas secara menarik, juga diharapkan bisa membangkitkan semangat toleransi dan solidaritas sosial dari masyarakat kelas atas terhadap mereka yang di kalangan bawah.

Di sinilah letak nilai edukasinya. Penonton yang dari kelas segmen A+B diharapkan akan lebih memahami bagaimana kehidupan masyarakat bawah, dan dengan demikian bisa lebih berempati dan solider. Karena selama ini kalangan bawah itu hanya mereka lihat dari permukaan.

Summary Program

Nama Program : J-A-M (Jika Aku Menjadi....)
Jenis Program : Magazine
Durasi : 30 menit (termasuk comm-break)
Host : Reporter menjadi host dengan gaya verite.
Slot Time : (Diusulkan pada slot Kejamnya Dunia)
(sebelum Reportase Sore)
Hari Tayang : Sabtu – Minggu
Target Audience : A+B ; Male & Female
Situasi Produksi : Rumah, kediaman, tempat kerja dari figur
masyarakat bawah yang diprofilkan.

Konsep Tayangan

J-A-M adalah program majalah berita, yang menyuguhkan informasi langsung seputar kehidupan kalangan kelas bawah (pemulung, nelayan, penjaga mercusuar, guru sederhana yang bertugas di tempat terpencil, kenek bus, sopi bus antarkota, penjaga lintasan kereta api, petani, pedagang asongan, tukang jual obat pinggir jalan, dsb...).

Informasi dalam J-A-M ditujukan untuk memberi pemahaman, empati atau simpati pada masyarakat bawah. Tidak dengan cara karitas atau membagi-bagi uang/barang/renovasi rumah (seperti program di stasiun-stasiun TV lain), tetapi dengan menampilkan keseharian mereka di rumah, di lingkungan sekitar, di tempat kerja, dan sebagainya.

Penonton dalam paket program ini diwakili oleh Reporter atau Talent, yang berasal dari (katakanlah) kelas A+B. Dalam tayangan ini akan dieksploitasi “kekikukan dan benturan budaya” ketika si reporter atau talent harus belajar memahami, dan menyesuaikan diri dengan kondisi narasumber/ orang kelas bawah yang diprofilkan.

Misalnya, bagaimana si reporter/talent (dengan tampilan urban), yang biasa menggunakan toilet duduk a’la budaya Barat, harus belajar buang air besar di WC kali Ciliwung atau di sawah. Atau, bagaimana si reporter/talent yang biasa makan di KFC atau Hoka-Hoka Bento, harus makan cuma dengan nasi+ikan asin murahan, bahkan nasi aking (nasi basi yang dijemur dan lalu dimasak kembali) bersama tuan rumah, karena ia menginap di rumah petani miskin.

Si reporter dalam tayangan ini harus tinggal minimal 2-3 hari dan menjalani hidup seperti orang dari kalangan bawah yang menjadi narsum-nya. Ia harus mengikuti aktivitas orang itu, mulai dari pagi, siang, sore, malam (si reporter numpang menginap di rumah si narsum), sampai pagi lagi. Kalau si narsum biasa mandi di kali, si reporter juga harus ikut mandi di kali. Kalau si narsum tidur di kolong jembatan atau rumah gubuk di pinggir rel kereta api, si reporter juga harus gabung di sana. Kalau si narsum adalah kenek bus, si reporter/talent juga harus membantu menariki uang tarif bus dari para penumpang.

Letak daya tarik tayangan ini adalah mengeksploitasi kelucuan, kekikukan, kegerahan, ketidaknyamanan, dan “penderitaan” dari si reporter/talent, dalam menjalani kehidupan sebagai orang kalangan bawah.

Di ujung akhir episode tayangan, si reporter/talent menyatakan “kesan-kesannya” dan hikmah yang ia peroleh, setelah 2-3 hari menjalani kehidupan sebagai orang kalangan bawah. Sedangkan si narasumber atau keluarganya juga mengomentari, bagaimana “ketahanan mental” si reporter/talent ketika harus hidup bersama mereka sebagai orang kalangan bawah.

Wilayah Tema

Kehidupan kumuh/ sederhana/ unik/ susah dari masyarakat kelas bawah di perkotaan (pemulung, kenek, sopir angkot, pedagang asongan, pengamen jalanan, dsb)
Kehidupan kumuh/ sederhana/ unik/ susah dari masyarakat kelas bawah di pedesaan/ daerah terpencil (petani, nelayan, penjaga mercusuar, polisi kehutanan, guru di desa terpencil, penggali pasir, dsb).

Standard Operation Procedure (SOP)

Penentuan tema/obyek liputan ditentukan melalui rapat redaksi, yang diadakan seminggu sekali.
Pembahasan tema/obyek liputan harus mempertimbangkan kapasitas visual yang memadai, unik, atau menarik untuk dipindahkan ke layar.
Objek personalisasi atau narasumber yang dipilih harus dari kalangan bawah, syukur-syukur memiliki sisi-sisi kehidupan yang dramatis, unik, atau jarang diketahui khalayak.
Obyek/narsum yang dipilih adalah figur yang memberi inspirasi (biar miskin, tetapi mau bekerja keras, bukan pemalas). Jadi, figur seperti pengemis, yang hanya mau minta-minta tapi tak bekerja, tidak akan dipilih.
Pembahasan tema/obyek liputan juga mempertimbangkan sequences visual dan story masing-masing segmentasi.
Menentukan judul episode untuk tema yang dipilih.

Format

Dibawakan secara “agak santai” oleh seorang reporter/talent, yang tampil dengan gaya verite di setiap episode. Satu episode berisi satu obyek/narsum utama yang dieksploitasi seluruh sisi kehidupannya, melalui kacamata/ pengalaman langsung si reporter/talent. Sehingga diharapkan dalam satu episode, pemirsa memperoleh informasi secara utuh dan menyeluruh tentang kehidupan si narasumber (petani, nelayan, pemulung, guru di tempat terpencil, dsb).

Dalam format ini, pemirsa seolah-olah diwakili keterlibatannya di dalam tayangan, melalui kesan/ komentar/ pengalaman suka-duka si reporter/talent, dalam usahanya memahami, menghayati, dan ikut menjalani kehidupan si narasumber. Ini bisa menjadi pengalaman eksistensial yang mengejutkan dan mengesankan buat si reporter/talent sendiri, maupun para pemirsa (segmen A+B), yang dalam kehidupan sehari-hari mungkin tak pernah tahu detail kehidupan kalangan kelas bawah.

Durasi
30 Menit (including commercial break).

Host / Presenter
Tidak ada presenter yang memberi pengantar bagi tiap segmen. Namun, si reporter atau talent merangkap menjadi host dan muncul dengan gaya journey/verite di tiap segmen.

On Air Look
Sebagian besar gambar akan terkait dengan kehidupan si narasumber. Seperti: gubuk sederhana yang ia tinggali, kantor atau bus tempat ia bekerja, lingkungan sekitar semacam kali tempat ia mandi dan buang hajat tiap pagi, dsb.

Reporter/talent menggunakan kostum casual sehari-hari (bukan seragam Trans TV!).

Judul Episode
Judul-judul yang bisa digarap dan diusulkan, antara lain:
Jika Aku Menjadi Pemulung
Jika Aku Menjadi Petani
Jika Aku Menjadi Kenek
Jika Aku Menjadi Guru di Desa Terpencil
Jika Aku Menjadi Nelayan
Jika Aku Menjadi Penjaga Mercusuar
Jika Aku Menjadi Polisi Kehutanan
Jika Aku Menjadi Penjual Obat Pinggir Jalan
Jika Aku Menjadi Pengamen
Dan seterusnya.................................

Format Produksi
Satu episode dibuat dalam 3 segmen, yang dikemas dalam 1 paket tayangan visual (bisa disertai narasi, bisa juga tidak). Penggarapan dilakukan oleh 1 orang reporter/talent dan minimal 2 orang campers.

Kru yang dibutuhkan untuk program ini:
Kru yang dibutuhkan (di luar post-pro) sebanyak + 11 orang, antara lain:

· 1 orang Producer
· 2 orang Assistant Produser
· 3 orang Camera Persons (bermental “Fear Factor”)
· 3 orang Reporter (bermental “Fear Factor”). Peran reporter di layar bisa diganti Talent, agar tidak membosankan.
· 1 orang Production Assistant
· 1 orang Researcher

Jakarta, 10 Oktober 2007

Satrio Arismunandar
Producer JAM

(Konsep kasar JAM muncul awal April 2007, dipresentasikan di rapat PCM -Programming Committee Meeting-- pada Mei 2007, dan sesudah membuat pilot project serta revisi, program ini diperbaiki pada Oktober 2007, dan tayang perdana November 2007). ***

Comments

maibelog said…
mas kalo mau jadi talentnya J A M gimana?
vhia said…
mas aq minat ni ikutan jika aq menjadi tp usia aq masih 21 gmn dong .... boleh yah ? hehe
vhia said…
mas aq minat nie jd tallent jika aku menjadi tp umur aq 21 thn gmn dong bleh yah ....hehhehe
Lilis said…
Aslkm.._mas sya Mahasiswi UNSIKA semester 3.._ktka melihat program jika aku menjadi sya terharu skli krena bnyak sekali pelajaran yg sya ambil dari khidupan orng2 kls bwah yg memang sngat membutuhkn skli uluran tangan kita sbgai orng2 yg alhmdulillah lebih dari ckup.._sya ingin bsa merasakan apa yg menjdi problem orng2 kls bwh rsakan.._sya mhon ksih twu cra y bgaimna sya dpt mengikuti program jika aku menjadi trans tv..krna sya ingin terjun lngsung dan merasakan manfaat dri program trsbut.._sblumnya terima kasih bnyaj bngtt mas sdh menayangkn program yg mengharukn.._wasalam

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI