Essay - DUA WARGA BUNUH DIRI, MENYAMBUT KENAIKAN HARGA BBM



Oleh Satrio Arismunandar

Hari-hari ini, membaca harian Pos Kota mungkin banyak gunanya. Kita tidak memperoleh wacana-wacana besar, seperti dicanangkan para pejabat, menteri, atau pakar. Tetapi, kita memperoleh cerita dari pengalaman keseharian orang-orang kecil, orang-orang yang sering luput dari perhatian kita. Orang-orang yang keberadaannya mungkin tak terbayangkan oleh para petinggi pengambil keputusan. Terutama, yang terkait dengan wacana besar, kenaikan harga BBM, yang kabarnya akan berlaku mulai 1 Juni 2008.

Berita utama Pos Kota hari Sabtu (10 Mei 2008) berjudul “5 Warga Bunuh Diri.” Isi berita mengungkapkan, ternyata dalam waktu yang hampir bersamaan, di tempat terpisah, ada lima warga Kabupaten Serang, Banten, yang ditemukan mati karena bunuh diri. Dua di antaranya karena masalah kesulitan ekonomi, bahkan ada yang spesifik menyebut karena rencana kenaikan harga BBM.

Dua warga itu adalah Jamaksari (32) dan Ma’mun (59). Jamaksari adalah warga Kampung Kemanisan RT 03/02, Desa Kebuyutan, Kecamatan Tirtayasa. Buruh tani, yang sering kerja serabutan ini, menggantung diri dengan tali plastik, yang diikat di dahan pohon petai, di kebun milik warga setempat.

Jamaksari tampaknya putus asa, karena tak mampu lagi mencukupi kebutuhan keluarganya. Sehari sebelumnya, korban sempat berkeluh kesah kepada para tetangga, bahwa ia sangat terpukul dengan rencana kenaikan harga BBM.

“Sekarang saja hidup saya susah, karena miskin. Apalagi nanti, kalau harga minyak dan bensin jadi naik, tambah susah lagi. Saya sudah tak tahan hidup, malu sama keluarga, pingin mati saja,” kata Jamaksari, seperti dituturkan para tetangganya.

Menurut para tetangga, Jamaksari, bapak dari tiga anak ini, juga bingung lantaran tak mampu mengembalikan gabah yang dipinjamnya. Ia tercatat punya utang gabah sebanyak tiga kuintal ke mushola, dan utang dua kuintal lagi ke tetangganya. Ditambah lagi, ada sejumlah utang lain, kepada warga kampung.

Dalam surat wasiat yang ditemukan di saku korban, Jamaksari berpesan (pada istrinya), “Neng, titip anak. Kakak sudah tidak tahan lagi. Inilah yang bisa saya titipkan. Jamak minta tobat. Ibu, semuanya, jangan menyalahkan siapa-siapa. Ini murni bunuh diri, nebus dosa. Salam untuk bapak, uwak, sekalian.”

Sementara itu, di tempat pemakaman umum, Kampung Ciembe, Desa Cibeureum, Kecamatan Maja, ditemukan satu korban lain yang bunuh diri dengan cara yang sama, yaitu gantung diri. Mayat Ma’mun ditemukan warga yang kebetulan melintas. Aksi nekad kakek dari lima cucu ini juga diduga kuat akibat himpitan ekonomi. Apalagi harga-harga kebutuhan pokok terus melambung.

Beberapa hari sebelum menggantung diri, Ma’mun yang bekerja sebagai petani sempat mengeluhkan harga-harga kebutuhan pokok yang terus melonjak. Sangat bisa dipahami, karena --menurut para tetangga-- untuk makan sehari-hari saja, Ma’mun selama ini sering mengutang di warung.

Jamaksari dan Ma’mun hanyalah segelintir contoh dari jutaan rakyat Indonesia, yang akan terpukul keras oleh kenaikan harga BBM. Mereka mungkin tidak bisa paham, mengapa di negeri yang tanggal 20 Mei mendatang akan memperingati 100 Tahun Hari Kebangkitan Nasional ini masih ada (dan banyak) orang yang nafkah hidupnya sangat rawan. Sedikit gejolak ekonomi saja sudah bisa membuat kehidupan mereka dan keluarganya ambruk.

Para pemimpin bangsa harus sadar, setiap langkah dan kebijakan yang mereka ambil punya dampak besar, bahkan bisa sangat fatal, pada kehidupan rakyat. Saya tulis essay singkat ini, sekadar sebagai pengingat, bahwa masih ada jutaan Jamaksari dan Ma’mun lain beserta para keluarganya, yang nasibnya patut kita perhatikan benar-benar.

Saya pribadi tak punya cukup uang dan dana untuk membantu mereka secara langsung. Sebagai jurnalis, yang bisa saya lakukan hanya menulis, dan itulah yang saya lakukan sekarang. Semoga tulisan pendek ini bisa ikut menyumbang ke arah terwujudnya Indonesia yang lebih baik.

Jakarta, 10 Mei 2008

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)