TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI


Merebaknya peradaban baru di Yunani kuno tidak dapat dipisahkan dari beberapa pengaruh dari daerah sekitarnya. Sebutkan dan jelaskan beberapa pengaruh dari kebudayaan Mesir kuno dan Mesopotamia dan Babilonia terhadap perkembangan awal peradaban dan pemikiran di Yunani kuno (sebelum abad ke-5 S.M)?

Munculnya peradaban baru di Yunani memang dirasakan mengejutkan. Hal ini karena berbagai unsur yang membentuk peradaban sebenarnya sudah hadir ribuan tahun sebelumnya di Mesir kuno dan Mesopotamia, dan dari sana menyebar ke negeri-negeri tetangga. Peradaban Mesir dan Babilonia, yang berdiri di sekitar sungai-sungai besar, pada dasarnya bersifat pertanian.

Penyebaran peradaban ini dimungkinkan karena adanya perdagangan, yang pada awalnya hampir seluruhnya bersifat maritim. Penyebaran ini antara lain berlangsung lewat pelaut-pelaut dari Pulau Crete, yang lalu sampai ke Yunani.

Aritmatika dan semacam ilmu geometri sudah dikenal di kalangan orang Mesir kuno dan Babilonia, namun umumnya dalam bentuk yang sederhana. Namun, penalaran deduktif dari premis-premis umum adalah hasil inovasi orang Yunani.

Dari Babilonia, juga ada sumbangsih dalam hal sains. Pembagian hari menjadi 24 jam, pembagian lingkaran menjadi 360 derajat, siklus gerhana (yang bisa memastikan tanggal gerhana bulan, dan memperkirakan tanggal gerhana matahari) adalah hasil temuan orang Babilonia, yang kemudian dipelajari oleh filsuf Yunani, Thales.

Seni penulisan sudah ditemukan di Mesir kuno sekitar tahun 4.000 SM, dan di Mesopotamia tak lama sesudahnya. Di masing-masing negara ini, penulisan dimulai dalam bentuk gambar-gambar dari obyek yang dimaksudkan. Gambar-gambar ini dengan cepat dikonvesionalkan, sehingga kata-kata diwakili oleh ideogram, sebagaimana saat ini tetap dipakai di Cina.

Selama ribuan tahun, sistem ini kemudian berkembang menjadi penulisan alphabet. Melalui perantaraan orang Phoenicia, seni penulisan ini akhirnya sampai di Yunani, dan versi modernnya terus kita gunakan sampai sekarang ini.

Dari segi agama, agama-agama kuno di Mesir dan Babilonia pada awalnya adalah pemujaan pada kesuburan (fertilitas). Bumi dianggap sebagai perempuan, dan matahari sebagai laki-laki. Di Babilonia, Ishtar, dewi-bumi, adalah yang tertinggi di antara dewi-dewi lain. Di seluruh Asia Barat, Ibu Agung ini disembah dengan berbagai nama.

Ketika kaum koloni Yunani di Asia Kecil menemukan kuil-kuil pemujaan Ishtar, mereka menamainya Artemis dan mengambil alih kultus yang ada. Ini adalah asal-usul Diana dari Ephesia, yang merupakan sebutan Latin untuk Artemis. Penganut Nasrani kemudian mentransformasikannya menjadi Perawan Maria, yang kemudian dilegitimasikan menjadi “Mother of God.”

Jelaskan mengapa seorang filsuf perlu mempelajari filsafat Yunani?

Mempelajari filsafat Yunani itu tak ubahnya seperti membuka koridor, sebelum kita belajar ke pemikiran filsafat modern. Harus diakui, pemikiran para filsuf Yunani itu tak ubahnya benih-benih atau kecambah-kecambah pemikiran, yang batang dan rantingnya tumbuh sampai ke zaman sekarang.

Mempelajari filsafat Yunani membuat kita sadar bahwa pemikiran filsafat kontemporer sebenarnya memiliki akar sejarah yang panjang, dan ini bisa dirunut ke belakang sampai ke filsafat Yunani.

Sebenarnya, sangatlah menakjubkan bahwa lebih dari 2.000 tahun yang lalu, filsuf-filsuf Yunani sudah mengembangkan pemikiran, yang meskipun masih dalam bentuk dasar dan kasar, menjadi benih-benih berharga yang terus dikembangkan sampai zaman sekarang oleh filsuf-filsuf kontemporer.

Pengaruh matematika dalam pemikiran filsafat, misalnya, bisa dirunut ke pemikiran Pythagoras. Teori evolusi Wallace dan Darwin, dalam bentuk yang kasar dan fantastis sebetulnya sudah didahului oleh Empedokles.

Argumen-argumen metafisika, yang kemudian antara lain ditunjukkan oleh Hegel, sudah diawali oleh Permenides. Sedangkan atomisme, pandangan bahwa segala sesuatu terdiri dari atom-atom yang sangat kecil dan tidak bisa dibagi, sudah diajarkan oleh Leucippus dan Democritus.

Para filsuf Yunani telah melahirkan teori-teori yang kemudian seolah-olah memiliki kehidupan dan pertumbuhan independen. Meskipun pada awalnya teori-teori itu terlihat sangat sederhana, teori-teori itu terbukti mampu bertahan dan terus berkembang melampaui masa 2.000 tahun. Kini, hampir semua hipotesis yang pernah mendominasi filsafat modern, pertama kali telah diajarkan oleh para filsuf Yunani.

Apa peranan Pythagoras dan Heraclitus terhadap perkembangan pemikiran Yunani kuno?

Pythagoras berperan penting dalam perkembangan pemikiran Yunani kuno. Ada dua aspek dari figur Pyhthagoras. Dia dipandang sebagai seorang nabi yang religius sekaligus ahli matematika, dan dalam dua posisi itu dia sangat berpengaruh. Pythagoras adalah orang yang memulai penggunaan matematika, dalam arti argumen deduktif yang bisa diperagakan. Pengaruh matematika terhadap pemikiran filsafat, sebagian adalah sumbangan dari Pythagoras.

Pythagoras, yang penduduk asli Pulau Samos, pernah pergi ke Mesir dan belajar tentang banyak hal di sana. Sesudah kembali ke Croton, di selatan Italia, Pythagoras mendirikan sekolah matematika, dan mengembangkan masyarakat dari murid-muridnya, di mana keberadaan mereka pernah sangat berpengaruh. Sekolah Pythagoras ini mewakili apa yang kini bisa disebut tradisi mistik, yang kontras dengan kecenderungan ilmiah.

Pythagoras mengajarkan, pertama, bahwa jiwa (soul) itu abadi, dan jiwa itu bertransformasi menjadi berbagai makhluk bernyawa. Apapun yang ada (eksis) dilahirkan kembali dalam revolusi-revolusi dengan siklus tertentu. Jadi, tak ada yang secara mutlak baru. Segala sesuatu yang lahir dengan kehidupan di dalamnya sepatutnya diperlakukan sebagai kerabat.

Dalam komunitas yang dibentuk Pythagoras, laki-laki dan perempuan diperlakukan setara. Barang dan properti dimiliki bersama, serta ada jalan hidup bersama. Bahkan temuan matematika dan ilmiah dianggap temuan kolektif. Ini semua terkait dalam etika yang memuja kehidupan kontemplatif.

Pythagoras juga mengatakan, segala sesuatu yang ada dapat diterangkan atas dasar bilangan-bilangan. Ia berpendapat demikian, karena menemukan bahwa not-not tangga nada sepadan dengan perbandingan-perbandingan antara bilangan-bilangan. Jika ternyata sebagian realitas terdiri dari bilangan-bilangan, mengapa tidak mungkin bahwa segala-galanya yang ada terdiri dari bilangan-bilangan.

Pythagoras dan murid-muridnya berjasa besar dalam pengembangan ilmu pasti, dan sampai saat ini di sekolah-sekolah masih diajarkan “dalil Pythagoras.”

Sementara itu, Heraclitus adalah filsuf yang juga warga bangsawan di Ephesus. Heraclitus sangat dikenal dengan doktrinnya bahwa segala sesuatu mengalir. Namun, ini hanya salah satu dari ajaran metafisikanya. Ia adalah seorang mistik.

Heraclitus beranggapan, api adalah substansi dasar, dan segala sesuatu –seperti kobaran api—terlahir akibat kematian sesuatu yang lain. Api adalah lambang perubahan, karena api menyebabkan kayu atau bahan apa saja terbakar menjadi abu.

Menurut Heraclitus, yang abadi adalah yang fana, dan yang fana adalah yang abadi. Yang satu menghidupi kematian yang lain, dan mematikan kehidupan yang lain. Ada kesatuan (unity) di dunia, namun kesatuan itu terbentuk dari kombinasi hal-hal yang berlawanan. Segala sesuatu berasal dari satu, dan yang satu berasal dari segala sesuatu. Namun, yang banyak memiliki realitas di bawah yang satu, yaitu Tuhan (Dewa).

Doktrin bahwa segala sesuatu dalam keadaan mengalir, adalah pandangan Heraclitus yang paling terkenal. Kita tak bisa melangkah dua kali ke sungai yang sama, karena air segar selalu mengalir ke arah kita. Matahari selalu baru setiap hari. Artinya, tidak ada yang definitif. Segala sesuatu tidaklah tetap, tetapi selalu dalam proses menjadi.

Jelaskan beberapa aspek penting dalam pemikiran Empedokles dan Parmenides?

Figur Empedokles adalah campuran dari sosok filsuf, rasul, ilmuwan, dan seorang pengecoh. Kontribusi Empedokles dalam sains adalah ketika ia menemukan udara sebagai suatu substansi terpisah. Ini dibuktikan dengan observasi, yaitu memasukkan ember secara terbalik ke dalam air. Air tak bisa masuk ke ember, karena adanya udara.

Ia juga menemukan gaya sentrifugal, serta adanya jenis seks (jantan-betina) pada tumbuh-tumbuhan. Ia bahkan menemukan teori evolusi dan kebertahanan hidup bagi makhluk yang paling pas (survival of the fittest), meski dalam bentuk yang amat fantastik. Empedokles juga paham astronomi, bahwa bulan bersinar karena memantulkan cahaya matahari, dan bahwa cahaya memerlukan waktu untuk sampai ke obyek tertentu. Empedokles mendirikan sekolah pengobatan di Italia.

Empedokles menyatakan, tanah, air, udara dan api adalah empat unsur utama. Masing-masing unsur itu bersifat abadi, namun mereka dapat dicampurkan dalam proporsi yang berbeda-beda, dan dengan demikian menghasilkan substansi kompleks yang berubah, yang kita temukan di dunia.

Mereka dikombinasikan oleh Cinta dan dipisahkan oleh Pertentangan/Konflik. Cinta dan Pertentangan adalah substansi-substansi primitif yang setingkat dengan udara, tanah, air, dan api. Ada periode di mana Cinta menguat, tapi juga ada periode di mana Pertentangan lebih kuat.

Perubahan-perubahan dalam dunia bukan diatur oleh adanya tujuan tertentu, tetapi hanya oleh adanya Peluang (chance) dan Kebutuhan (necessity). Ada suatu siklus: ketika unsur-unsur secara mendalam telah dicampurkan oleh Cinta, maka Pertentangan secara bertahap memisahkan mereka kembali. Sebaliknya, ketika Pertentangan sudah memisahkan unsur-unsur itu, pada gilirannya Cinta akan menyatukannya kembali.

Jadi setiap substansi yang dikumpulkan cuma bersifat sementara. Hanya unsur-unsur, bersama dengan Cinta dan Pertentangan, yang bersifat abadi. Jadi di sini ada kemiripan dengan ajaran Heraclitus, meski lebih lunak, karena bukan hanya Pertentangan, melainkan Pertentangan bersama Cinta, yang menghasilkan perubahan.

Empedokles menolak Monisme, dengan mengatakan bahwa perubahan alam lebih diatur oleh peluang dan kebutuhan, ketimbang oleh tujuan tertentu. Dalam hal ini, filsafat Empedokles lebih bersifat ilmiah ketimbang ajaran Permenides, Plato, dan Aristoteles.

Sementara itu, Parmenides adalah filsuf dan penduduk asli Elea di selatan Italia. Ia menyatakan, indera manusia itu bersifat mengecoh, sehingga segala hal yang bisa diinderai itu sebenarnya hanya sekadar ilusi. Satu-satunya kebenaran adalah “Yang Satu” (The One), yang tidak terbatas dan tidak bisa dibagi-bagi. “Yang Satu” yang dimaksud oleh Permenides bukanlah kesatuan dari hal-hal yang berlawanan seperti dinyatakan Heraclitus, karena bagi Permenides tidak ada hal-hal yang berlawanan.

Parmenides tampaknya beranggapan, “dingin” bukanlah lawan dari “panas,” tapi bahwa “dingin” hanyalah berarti “tidak panas”. Atau “gelap” berarti “tak ada cahaya.” “Yang Satu” di sini bukanlah yang biasa kita anggap sebagai Tuhan, namun ia bersifat material dan meluas, seperti suatu sphere.

Parmenides membagi ajarannya menjadi “jalan kebenaran” dan “jalan opini.” Rumusannya tentang “jalan kebebaran”, antara lain. Sesuatu yang dapat dipikirkan dan demi hal itu pikiran itu eksis, adalah sama. Kita tak bisa menemukan pikiran tanpa sesuatu yang dipikirkan, sebagaimana terhadap mana sesuatu itu diucapkan.

Esensi argumen Parmenides adalah: Ketika kita berpikir, kita berpikir tentang sesuatu. Ketika kita menggunakan sebuah nama, itu pasti nama dari sesuatu. Karena itu baik pikiran maupun bahasa membutuhkan obyek di luar dirinya. Dan karena kita bisa berpikir tentang sesuatu atau bicara tentang sesuatu pada suatu waktu atau kapan saja, apapun yang dapat dipikirkan atau diucapkan itu pasti eksis sepanjang waktu.

Sebagai konsekuensinya, berarti tidak ada perubahan, karena perubahan itu terdiri dari hal-hal yang menjadi ada atau berhenti ada. Pandangan Parmenides ini dengan demikian kontras bertentangan dengan Heraclitus, yang menyatakan segala sesuatu selalu berubah, selalu mengalir.

Parmenides juga mengatakan, “Yang ada ada, dan yang tidak ada tidak ada”. Pernyataan ini tampaknya sudah jelas bagi setiap orang, namun mengandung konsekuensi-konsekuensi yang besar. Dari pendapat tadi harus disimpulkan, bahwa yang ada (=segala-galanya!) tidak dapat dipertentangkan dengan sesuatu yang lain. Akibatnya, harus dikatakan juga bahwa yang ada itu sama sekali satu, sempurna, dan tidak dapat dibagi-bagi. Artinya, tidak ada pluralitas.

Arti penting sumbangan Parmenides adalah ia menemukan sebentuk argumen metafisika, yang dalam satu dan lain bentuk, dapat ditemukan warisannya pada filsuf-filsuf metafisika sesudahnya, termasuk Hegel. Parmenides sering disebut menemukan logika, namun sebenarnya ia menemukan metafisika yang berlandaskan logika.

Berikan gambaran tentang peran para Sofis bagi perkembangan pemikiran Yunani dan apa kritik orang terhadap kelompok pemikir ini?

Kata Sofis (Sophist) pada awalnya tidak memiliki konotasi yang buruk. “Sofis” berarti semacam “profesor,” yang kita kenal sekarang. Sofis adalah orang yang mencari nafkah dengan mengajar kaum muda tentang hal-hal tertentu, yang dipandang bermanfaat bagi kehidupan praktis.

Karena tak ada sarana atau pendanaan publik untuk pendidikan semacam tu, kaum sofis hanya mengajar mereka yang mampu membayar, atau yang orangtuanya memiliki dana untuk itu. Hal ini cenderung memberikan semacam bias kelas (class biased) pada mereka, yang semakin meningkat oleh situasi politik pada masa itu.

Demokrasi Athena pada masa itu, walau membatasi hak-hak kaum budak dan perempuan, sudah memiliki sistem pengadilan. Namun, para hakim dan eksekutif utamanya adalah orang biasa, bukan kaum profesional. Mereka dipilih untuk menjalankan fungsi itu untuk periode yang pendek. Masing-masing mereka tampil bertugas, namun dengan masing-masing prasangkanya sendiri seperti warga biasa. Terdakwa juga tampil secara pribadi tanpa didampingi ahli hukum profesional.

Dalam sistem semacam itu, keberhasilan atau kegagalan di sidang pengadilan, tergantung pada kemampuan retorika dan bersilat lidah, dalam memenangkan atau meyakinkan para pendengarnya. Walaupun tiap orang harus menyampaikan pembelaannya sendiri, ia bisa menyewa orang lain untuk menuliskan pidatonya, atau membayar orang untuk mengajari taktik-taktik memenangkan perdebatan. Di sinilah para sofis berperan. Hal ini juga menjelaskan, mengapa kaum sofis populer dan dekat dengan kelas tertentu, tetapi dibenci oleh kelas yang lain.

Maka, sumbangan kaum sofis bagi pemikiran Yunani adalah lebih pada seni berargumentasi dan keterampilan retorika. Dengan kemampuan retorika dan berolah kata, sebuah opini bisa dipandang lebih baik daripada opini yang lain, walaupun tidak berarti opini itu lebih benar daripada opini yang lain.

Hal ini karena, tujuan si pelaku bukan untuk mencari kebenaran, tetapi sekadar untuk memenangkan perdebatan. Jadi, ajaran kaum sofis tidak berkaitan dengan kebajikan atau ajaran agama, bahkan oleh kalangan agama bisa dianggap tidak serius dan tidak bermoral. ***

Depok, Oktober 2008

(Tulisan Satrio Arismunandar, sebagai tugas mata kuliah Sejarah Filsafat Yunani, yang diajar oleh Vincensius J. Jolasa, Ph.D, di program S-3 Ilmu Filsafat, FIB-UI)

Comments

Joddie said…
Nice article..
Thank you......
sejarah peluang said…
artikel yg bagus...memberikan wawasan yang baik
yata batee said…
bagus

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)