Wednesday, November 19, 2008

GEDE PRAMA: ZAMAN JADI LIAR, BAHASA JADI VULGAR

Bagi kalangan yang berkecimpung dalam dunia manajemen di Indonesia, nama Gede Prama pasti sudah tak asing lagi. Ia pernah menyebut dirinya “pengangguran intelek” atau “gelandangan intelek.” Padahal, di tahun 1994, ia baru saja pulang dari Inggris dan Perancis, dengan dua gelar master: MA dan MBA. Gede Prama sempat kerja serabutan di Jakarta, sebelum pelan-pelan namanya makin menanjak dan dikenal sebagai salah satu pakar manajemen.

Ia bahkan kemudian sempat dipercaya menjadi pimpinan puncak sebuah perusahaan jamu terkemuka, PT. Air Mancur, sebagai President dan Chief Executive Officer. Usianya waktu itu baru 38 tahun, minim pengalaman di bidang industri jamu, dan bukan sanak famili dari sekitar 40 pemilik perusahaan jamu tersebut. Padahal, dalam tradisi budaya perusahaan keluarga di Indonesia, jarang sekali jabatan pemimpin puncak diserahkan ke orang luar. Jabatan itu biasanya diwariskan ke anak, atau setidaknya ke orang yang masih punya ikatan keluarga dengan sang pemilik.

Gede Prama, yang lahir di Tajun, Singaraja, Bali pada 2 Maret 1963 ini konon sekarang termasuk pembicara publik dengan honor termahal di Indonesia. Sebagai pembicara terkemuka dalam berbagai pelatihan manajemen, keterampilan berbahasa Indonesia dan berkomunikasi tentu menjadi salah satu modalnya.

Anak ketigabelas dari 13 bersaudara ini mengaku mengenal Bahasa Indonesia sejak sekolah di SD. Ia tak punya pengalaman atau kesan khusus tentang guru Bahasa Indonesianya. Waktu itu, ia juga tidak melihat ada yang ekstrem baik atau ekstrem buruk dalam Bahasa Indonesia. “Datar-datar saja,” komentar Gede Prama.

Bahasa Indonesianya waktu itu masih sepatah-sepatah. Bisa dimaklumi, karena di kelas I SD dan di lingkungan rumahnya, saat itu bahasa yang biasa digunakan adalah bahasa Bali. “Nah, sekarang dengan istri pakai bahasa Bali. Tapi, dengan anak-anak, pakai Bahasa Indonesia. Dengan pembantu, juga pakai Bahasa Indonesia,” ujarnya.

Bagi Gede Prama, Bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu. “Namun, karena sudah terbiasa dengan Bahasa Indonesia di Jakarta, bahasa Bali saya jadi kagok-kagok. Bahasa Indonesia, sebagai sebuah sarana berkomunikasi dengan sesama orang Indonesia, sangatlah membantu!” lanjutnya.

Namun, Gede Prama juga mengakui, sebagai sarana keilmuan, penggunaan Bahasa Indonesia masih terbatas. Hal ini disebabkan masih banyak hal, terutama ide-ide yang menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Barat lainnya. Kalau ide-ide ini dibahasa-Indonesiakan, akan hilang atau menurun nuansanya. Hal ini sangat dirasakan Gede Prama dalam aktivitas profesinya, yang banyak bergelut dalam masalah leadership (kepemimpinan) dan manajemen.

“Kalau sebagai sarana komunikasi biasa dengan orang lain sehari-hari, ndak ada masalah. Tetapi, begitu Bahasa Indonesia digunakan sebagai representasi ide-ide dari Barat, maknanya akan menurun. Lebih-lebih, Bahasa Indonesia digunakan sebagai sarana pengungkapan puitis,” kata Gede Prama, yang kini menjabat President Director di perusahaan Dynamics Consulting.

Lulusan Universitas Lancaster, Inggris dan INSEAR, Perancis ini menuturkan, “Terkadang ide kita berupa logika dan rasa. Kalau mau mengungkapkan hal-hal yang berbau puitis dari bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia, itu sulit dialihbahasakan. Buat saya, bisa jadi ndak ketemu padanan katanya.”

Kesantunan Berbahasa Menurun

Mengaku bukan pakar bahasa, menurut Gede Prama, setiap bahasa memiliki kelebihannya masing-masing. Bahasa Indonesia lebih baik untuk sarana pengungkapan keseharian. Tetapi sebagai sarana pengungkapan ide, terutama ide-ide dari Barat, bahasa Inggris lebih mudah.

Semua itu tergantung tempatnya. Bahasa Inggris hanya mengenal rice, untuk menyebut beras atau nasi dalam Bahasa Indonesia. Dalam hal ini, bahasa Inggris lebih miskin daripada Bahasa Indonesia. Sebaliknya, dalam Bahasa Indonesia hanya ada satu kata untuk menterjemahkan snow, yaitu salju. Padahal, untuk bangsa Eskimo, ada seratus kata lebih untuk menyebut salju. “Mengapa Bahasa Indonesia hanya mengenal satu kata untuk menterjemahkan snow? Karena dunia kita bukan dunia salju,” jelasnya.

Dalam memberikan ceramah di seminar atau pelatihan, Gede Prama menggunakan Bahasa Indonesia. Meski demikian, dalam beberapa hal yang ia belum yakini terjemahannya, ia menggunakan bahasa Inggris. “Bukan untuk gagah-gagahan, tetapi untuk memperkuat ide. Dikhawatirkan, (jika dipaksakan dalam Bahasa Indonesia) saya salah dalam menerjemahkan,” sambungnya.

Toh Gede Prama pada dasarnya tidak merasakan adanya masalah dengan Bahasa Indonesia, dalam mengekspresikan ide-ide maupun menguraikan persoalan, di bidang manajemen dan kepemimpinan yang menjadi keahliannya. Alasannya, kekurangan dalam Bahasa Indonesia masih bisa ditunjang dengan penggunaan bahasa Inggris. Yang penting, orang bisa mengerti apa yang ia sampaikan.

Meski demikian, ia juga mengakui, sekarang ada tren dimana sejumlah kalangan muda dan orang yang telah mapan lebih senang menggunakan bahasa Inggris. Ada beberapa hal yang mempengaruhi tren itu, antara lain unsur gengsi. Gede Prama sendiri tetap menempatkan penyampaian ide di nomor satu, dan gengsi di urutan nomor dua.

Baginya, jika terpaksa harus menggunakan bahasa Inggris, hal itu lebih untuk penguatan ide, bukan untuk gengsi-gengsian. Jika disampaikan dalam bahasa Inggris, ide itu terasa lebih kaya. Tetapi jika disampaikan dalam Bahasa Indonesia, Gede Prama meragukan, ide itu akan dipahami secara benar. Ia memberi contoh ungkapan where the blossom vanish the fruit appear. Kalau dibahasa-Indonesiakan, ungkapan itu menjadi “ketika bunganya hilang, buahnya muncul.” Padahal bunga dengan blossom itu berbeda. Bunga diterjemahkan ke bahasa Inggris, bisa menjadi flower atau blossom.

Meski sudah dianggap pakar manajemen, Gede Prama mengaku, ia masih terus belajar Bahasa Indonesia. Cara belajarnya tidak secara formal, tetapi dengan banyak membaca koran. Ia juga suka membaca novel dan karya sastra. Namun, yang banyak ia baca adalah novel atau karya sastra dalam bahasa Inggris, karena dianggapnya memperkaya ide. Ia pernah mencoba membaca karya sastra yang berbahasa Indonesia atau lokal. “Tetapi kurang nyambung dengan visi dan ide saya ke depan. Memang, ada beberapa karya asing yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, seperti karya Kahlil Gibran. Itu saya baca,” tuturnya.

Saat ini, ada sebagian kalangan yang menyatakan, krisis bangsa tercermin juga dalam krisis bahasa. Menurut Gede Prama, pernyataan itu –yang lebih menempatkan bahasa sebagai representasi realita, dan bukan bahasa sebagai media—memang ada benarnya. Ia memberi contoh, dari segi kesantunan berbahasa, banyak orang sekarang cenderung tidak santun.

“Dulu kalau kita menyebut presiden, di depannya ada bapak. Begitu juga, (kalau menyebut) menteri, di depannya ada bapak atau ibu. Sekarang ‘kan ndak. Bu Mega dipanggil orang Mbak. Ada kecenderungan penurunan kesantunan,” ujar Gede Prama. Ia membandingkan dengan masa Orde Baru, yang dianggapnya lebih santun, meski mungkin alasan kesantunan itu belum jelas: betul-betul karena kesantunan yang tulus, atau takut pada pejabat. Penggunaan bahasa sekarang, dinilai Gede Prama, lebih vulgar.

Ia menolak, ketika dikatakan bahwa yang dianggapnya “tidak santun” itu mungkin sebetulnya hanyalah penggunaan bahasa yang lebih lugas. Menurut Gede Prama, ada perbedaan antara lugas dan vulgar. “Memang dari segi realita, kita sekarang cenderung kurang santun. Kalau dulu ada sesuatu yang kurang berkenan, ada kecenderungan penghalusan atau eufemisme. Konsekuensinya, bahasa menjadi santun. Tetapi, karena zamannya jadi liar, maka bahasanya jadi vulgar!” tegasnya.

Menurut Gede Prama, kecenderungan menurunnya kesantunan berbahasa ini juga terlihat pada bahasa media massa. Kalau gaya berbahasa dari kalangan anak muda, memang sejak dari dulu begitu. Bahasa sehari-hari mereka adalah bahasa pop, bahasa yang menuntut perubahan. “Saya waktu muda juga seperti itu. Katakanlah, seperti lu-gua,” sambungnya. Namun ia menolak mengomentari gaya pejabat berbahasa Indonesia. Kata Gede Prama, “Saya bukan pengamat pejabat yang baik.”

Belajar bahasa seperti belajar berenang

Banyak orang bilang, Bahasa Indonesia mudah dipelajari. Gede Prama tidak membantah pendapat itu. Dikatakannya, sebenarnya semua bahasa mudah dipelajari, asalkan cara belajarnya seperti orang belajar berenang, langsung saja menceburkan diri ke air!

“Contohnya, kalau mau belajar bahasa Inggris, tinggal saja di Inggris selama lima tahun. Itu pasti bisa. Saya ‘kan belajar Bahasa Indonesia, di samping karena pendidikan, juga karena saya tinggal di Jakarta. Coba saya tinggal selamanya di Bali, Bahasa Indonesia saya akan bego terus!” ujar Gede Prama.

Gede Prama jelas tidak asal bicara, karena yang diutarakannya itu adalah berdasarkan pengalamannya sendiri. Ketika dulu mencari beasiswa untuk bisa bersekolah ke luar negeri, ia terus terang mengaku, tidak becus berbahasa Inggris. Ia nekad mendaftar dan belajar bahasa Inggris sendiri, sampai akhirnya malah dinyatakan sebagai peserta dengan kemampuan bahasa Inggris terbaik!

Bagaimanapun, Gede Prama menilai, penggunaan Bahasa Indonesia secara umum sekarang sudah lebih baik daripada dulu. Dulu, banyak nuansa lokalnya. Seperti, orang memakai Bahasa Indonesia, tetapi menyelipkan bahasa Jawa atau bahasa daerah lainnya dalam pembicaraan. Pada tahun 1980-an, ketika Gede Prama pertama kali menginjakkan kaki ke Jakarta, ia melihat di kantor-kantor, banyak orang menggunakan bahasa Jawa. Sekarang, hal semacam itu sudah menurun.

Kemudian, pembicaraan di berbagai forum publik yang mengandalkan bahasa lokal, juga menurun. Terakhir, dialek lokal pun makin tak terdengar. “Seperti, saya orang Bali. Dialek bahasa saya tidak lagi terlihat, dan saya seperti dianggap bukan orang Bali. Jadi, sekarang seperti ada proses nasionalisasi dalam berbahasa, dan itu menunjukkan gejala yang semakin baik dibandingkan dulu,” jelasnya.

Ada anggapan di sebagian kalangan bahwa perkembangan Bahasa Indonesia cenderung lamban. Gede Prama enggan mengomentari pandangan tersebut. Namun, ia memberi contoh negeri tetangga, Singapura dan Malaysia, yang dianggapnya sangat berani dalam penggunaan bahasanya. Mereka melokalkan bahasa Inggris. Seperti, bahasa Inggris tire (ban), di Singapura menjadi tire, dan di Malaysia menjadi tayer.

“Di Indonesia, ada kecenderungan gengsi dalam melokalkan bahasa Inggris. Padahal, bahasa Inggris ‘kan sekarang menjadi bahasa global. Untuk kata bahasa Inggris yang tidak ada padanan kata Indonesianya, pakai saja bahasa Inggris yang diindonesiakan. Sehingga, kita dan anak cucu kita tidak perlu lagi belajar kata yang baru,” usul Gede Prama.

Ia menjelaskan, di Malaysia, kata bahasa Inggris tire dilokalkan menjadi tayer, itu akan memudahkan. Kalau memakai bahasa-bahasa lokal (daerah), nanti perlu diulang lagi dan perlu belajar lagi. Ini menyulitkan. “Bahasa pada intinya adalah sarana integrasi. Sehingga, lubang-lubang yang ada dalam Bahasa Indonesia perlu segera ditutup dengan bahasa Inggris. Saya tidak melihat itu sebagai pengorbanan, tetapi sebagai sarana integrasi yang lebih cepat,” tambah Gede Prama.

Dalam kaitan integrasi inilah, ia memandang, peran Bahasa Indonesia sebagai perekat persatuan antar provinsi dan daerah-daerah, telah semakin baik. “Dulu, jika kita ke daerah, hanya sedikit orang yang bisa berbahasa Indonesia. Sekarang, semakin banyak. Bahkan, di tingkat desa pun, orang sudah banyak mengerti Bahasa Indonesia,” lanjutnya. Gede Prama berharap, Bahasa Indonesia bisa mempertahankan kinerjanya sebagai sarana integrasi nasional.

Hilangnya kolom pembinaan Bahasa Indonesia

Tentang penggunaan Bahasa Indonesia bagi para warga asing yang tinggal atau bekerja di Indonesia, Gede Prama berpendapat, kepada mereka tidak perlu diwajibkan belajar Bahasa Indonesia, ataupun mengikuti tes Bahasa Indonesia. Alasannya, Indonesia saat ini bukan bangsa yang memiliki daya tawar yang tinggi, sehingga tidak perlu memberlakukan syarat ini atau itu. “Kalau Anda wanita cantik, pakai syarat ini atau itu, bolehlah. Tetapi kalau Anda jelek, dan pakai syarat ini dan itu, nanti ndak ada orang lain yang berminat!” katanya.

Gede Prama menambahkan, saat ini di Indonesia banyak pengangguran. Negeri ini juga sedang sulit mencari investor, untuk menghidupkan kembali perekonomian yang terpuruk. Jika dalam kondisi demikian, Indonesia mengeluarkan syarat yang aneh-aneh, itu namanya bunuh diri. Ia juga tidak melihat prospek Bahasa Indonesia untuk berkembang ke lingkup yang lebih jauh, dari sekadar bahasa nasional. “Mungkin limit Bahasa Indonesia hanya di situ,” ucapnya.

Tetapi ini bukan berarti Gede Prama tak punya perhatian pada kemajuan Bahasa Indonesia. Ia, misalnya, menyorot hilangnya kolom-kolom pembinaan Bahasa Indonesia di beberapa koran nasional utama. Acara pembinaan Bahasa Indonesia di televisi, yang dulu pernah dibawakan oleh Yus Badudu, menurut pengamatannya, juga sudah tak terlihat lagi.

Tentang apakah penghapusan kolom-kolom pembinaan bahasa itu karena pembinaan Bahasa Indonesia dianggap sudah tak penting lagi, Gede Prama mengaku, kurang mengerti. Apakah ini berarti pembinaan bahasa itu menurun? “Bisa jadi, menurun. Atau, orang sudah percaya diri menggunakan Bahasa Indonesia, dan tidak perlu pembinaan yang terlalu banyak,” sahutnya.

Gede Prama sekarang bisa menikmati posisi sebagai pengguna Bahasa Indonesia yang efektif. Kebiasaan yang menyenangkan hati dan jiwanya akhir-akhir ini, adalah setiap kali selesai bermeditasi, ia menemukan rangkaian pemahaman yang layak untuk dibagi ke banyak orang hari itu. Maka, dituliskannya hikmah tadi ke dalam pesan SMS (short messaging service) yang dikirim ke puluhan sahabat. Dan, karena keindahan dan hikmah yang tersirat dari pesan tersebut, tidak sedikit sahabat yang kemudian meneruskannya ke puluhan sahabat yang lain lagi.

Maka, jadilah pesan-pesan SMS yang selalu diawali dengan kata Gede Prama’s message of the day, sebagai bahan renungan yang ditunggu banyak orang. “Begitu ada minggu tanpa SMS terakhir, tidak sedikit sahabat yang mengirimi saya SMS: Mana pesan untuk minggu ini?” tutur Gede Prama. Penggunaan Bahasa Indonesia yang tepat, bagi Gede Prama, ternyata bukan cuma penting untuk berkomunikasi, tetapi di luar dugaan, juga menyebarkan kebahagiaan pada banyak orang. ***

(Ditulis oleh Satrio Arismunandar, untuk buku Jagat Bahasa Nasional: Pandangan Tokoh tentang Bahasa Indonesia, Cetakan Pertama, Oktober 2003. Tim penyusun: Pusat Bahasa Depdiknas dan Koperasi Jurnalis Independen -Koji).

0 comments: