Posts

Showing posts from January 14, 2008

Essay - DESEMBER, BULAN "PEMBAKARAN" UANG RAKYAT

Image
(Foto liputan JIKA AKU MENJADI episode Tukang Rujak di daerah Pondok Gede, Bekasi dengan talent Metha, mahasiswi Politeknik UI)

Oleh Satrio Arismunandar

Bulan Desember tidak selalu berkonotasi dengan religiositas (peringatan Natal) atau persiapan menyambut kemeriahan malam Tahun Baru. Namun, tanpa banyak gembar-gembor (karena sudah berlangsung rutin setiap tahun dan dianggap biasa), Desember faktanya adalah bulan "pembakaran" uang rakyat.

"Pembakaran?" Yang saya maksud tentu bukanlah membakar uang kertas dengan korek api. Tetapi, menyia-nyiakan uang rakyat, sisa anggaran pemerintah daerah dan pemerintah pusat, dari berbagai departemen dan instansi, untuk kegiatan dan aktivitas yang diada-adakan, tidak produktif, pemborosan, dan tidak penting. Ini adalah praktik yang rutin dilakukan setiap menjelang tutup buku, pada akhir tahun.

Seorang teman yang sering mengurus audit perusahaan bercerita, bahkan ada kepala seksi sebuah instansi yang disuruh atasannya untuk main golf …

Essay - ICMI DAN SBY PUN IKUT LATAH, MINTA MASYARAKAT MEMAAFKAN SOEHARTO

Image
Oleh Satrio Arismunandar Saya sunguh merasa prihatin, membaca berita Kompas (13 Januari 2008) bahwa ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia) meminta masyarakat Indonesia memaafkan kesalahan masa lalu, yang dilakukan mantan Presiden Soeharto. Meski belum menjadi sikap resmi ICMI, Ketua Presidium ICMI Pusat Nanat Fatah Natsir di Pekanbaru, Riau, mengatakan, persoalan hukum Soeharto sebaiknya tak lagi diungkit. “Kita serahkan kepada Allah saja,” ujarnya. Sedangkan pernyataan Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI, Irman Gusman, lebih ajaib lagi. Irman dikutip mengatakan, “Kita harus berani memaafkan Soeharto justru agar pemimpin bangsa ini di masa depan tak lagi mengulangi kesalahan yang sama.” Amboi! Sungguh aneh logika yang dikembangkan Irman. Yakni, jika rakyat dengan mudah memaafkan kesalahan Soeharto, maka di masa mendatang para pemimpin tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan Soeharto! Apakah logikanya tidak terbalik? Justru karena rakyat terlalu mudah melupakan kesalahan p…

Essay - SEORANG ANAK BERNAMA DAVID LAPINDO

Image
Oleh Satrio Arismunandar

Ketika sedang syuting untuk episode program JIKA AKU MENJADI di Pasar Baru Porong, Sidoarjo, pertengahan November 2007, crew Trans TV bertemu dengan para pengungsi lumpur Lapindo, yang terpaksa bertahan hidup di pasar tersebut. Saya melihat, ribuan pengungsi ini sudah menjadi suatu komunitas tersendiri. Mereka mendiami los-los pasar, mandi, mencuci, masak, dan sebagainya di sana. Bahkan ada TK darurat yang dibangun di tengah lokasi pasar.

Pasar yang kini praktis jadi tempat pemukiman itu dipenuhi spanduk-spanduk. Mulai dari spanduk organisasi-organisasi tertentu, yang memberikan sumbangan kepada pengungsi, sampai spanduk bernada militan dari warga sendiri atau LSM. Inti dari isi spanduk-spanduk itu: warga korban lumpur tak mau dipolitisir atau dipermainkan oleh elite politik, yang menjadikan isu lumpur ini sebagai mainan politik.

Ketika sedang asyik mengamati suasana di sana, seorang pria dengan anaknya yang belum berusia setahun menghampiri saya. "Ini anak…

Essay - KRITERIA OBYEKTIF DAN SUBYEKTIF DALAM PEMUATAN ARTIKEL DI HARIAN KOMPAS

Image
Oleh Satrio Arismunandar

Wartawan Harian Kompas, Pepih Nugraha, dalam blognya menyatakan, bagi yang berminat mengirim artikel ke Kompas, perlu mengetahui syarat-syarat yang diinginkan Kompas. Penjabaran kriteria ini bisa menjadi salah satu strategi, dalam menyiasati artikel agar bisa dimuat. Pepih memaparkan 17 penyebab sebuah artikel ditolak oleh Desk Opini Kompas. Yaitu:

1. Topik atau tema kurang aktual
2. Argumen dan pandangan bukan hal baru
3. Cara penyajian berkepanjangan
4. Cakupan terlalu mikro atau lokal
5. Pengungkapan dan redaksional kurang mendukung
6. Konteks kurang jelas
7. Bahasa terlalu ilmiah/akademis, kurang populer
8. Uraian Terlalu sumir
9. Gaya tulisan pidato/makalah/kuliah
10. Sumber kutipan kurang jelas
11. Terlalu banyak kutipan
12. Diskusi kurang berimbang
13. Alur uraian tidak runut
14. Uraian tidak membuka pencerahan baru
15. Uraian ditujukan kepada orang
16. Uraian terlalu datar
17. Alinea pengetikan panjang-panjang.

Ditambahkan Pepih, mereka yang berminat menulis opini tingg…